“Setiap orang yang makin jauh dari tauhid dan sunnah, maka ia makin dekat kepada syirik, bidah, dan dusta. Seperti Syiah Rafidhah yang mana mereka adalah sekte sesat yang paling banyak berdusta dan paling besar kemusyrikan mereka. Tidak ada sekte sesat yang lebih banyak berdusta daripada mereka dan tidak pula ada sekte sesat yang lebih jauh dari tauhid daripada mereka.” (Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim Limukhalafah Ashhab Al-Jahim)
Demikianlah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah menggambarkan hakekat Syiah Rafidhah.
Kalau memang demikian keadaan mereka, apakah pantas kita memercayai mereka?!
Muhammad bin ‘Abdillah Al-Khayyath berkata tentang Imam Abu Hafsh Al-‘Ukburi:
كان أبو حفص بن رجاء لا يكلم من يكلم رافضيّاً إلى عشرة
“Abu Hafsh bin Raja tidak mengajak bicara selama sepuluh hari orang yang mengajak bicara seorang Syiah Rafidhah.” (Thabaqaat Al-Hanaabilah)
Setelah menyebutkan riwayat ini, Syekh Muhammad Al-Maghrawi berkata:
ونحن، الروافض يدخلون بيوتنا ونكرمهم ونعظمهم وندين لهم بالولاء، والله ما أدرك حقيقة هؤلاء اليهود إلا السلف، وأما نحن فالعيش أحب إلينا من كل شيء.
“Adapun kita, orang-orang Syiah Rafidhah memasuki rumah-rumah kita, sementara kita memuliakan dan mengagungkan mereka serta mendekati mereka dengan loyalitas. Demi Allah, tidak ada yang mengetahui hakekat orang-orang Yahudi itu kecuali para salaf. Adapun kita, maka hidup kita lebih kita cintai daripada segala sesuatu.” (Mausu’ah Mawaqif As-Salaf Fii Al-‘Aqidah wa Al-Manhaj wa At-Tarbiyah)
Kalau memang demikian keadaan mereka, apakah kita dilarang secara mutlak bekerja sama dengan mereka?
Imam Ibnul Qayyim menyebutkan faidah dari perjanjian Hudaibiyah:
وَمِنْهَا: أَنَّ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلَ الْبِدَعِ وَالْفُجُورِ وَالْبُغَاةِ وَالظَّلَمَةِ إِذَا طَلَبُوا أَمْرًا يُعَظِّمُونَ فِيهِ حُرْمَةً مِنْ حُرُمَاتِ اللَّهِ تَعَالَى، أُجِيبُوا إِلَيْهِ وَأُعْطُوهُ وَأُعِينُوا عَلَيْهِ، وَإِنْ مَنَعُوا غَيْرَهُ فَيُعَاوَنُونَ عَلَى مَا فِيهِ تَعْظِيمُ حُرُمَاتِ اللَّهِ تَعَالَى، لَا عَلَى كُفْرِهِمْ وَبَغْيِهِمْ
“Di antara faidah perjanjian tersebut yakni jika orang-orang musyrik, ahli bidah, para pelaku maksiat, pemberontak, dan orang-orang zalim meminta suatu perkara yang di dalamnya mereka mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka hendaknya permintaan mereka dipenuhi, diberikan, dan dibantu, walaupun mereka menghalangi selain itu. Hendaknya mereka dibantu untuk melakukan perkara yang mengandung pengagungan terhadap apa yang terhormat di sisi Allah dan bukan untuk membantu kekafiran dan kesewenang-wenangan mereka.” (Zaad Al-Ma’ad Fii Hadyi Khair Al-‘Ibaad)
Ya, kerjasama dengan orang-orang kafir itu untuk mewujudkan kebaikan yang diperintahkan dalam agama, dan bukan untuk menguatkan kekafiran dan kezaliman mereka.
Lalu Imam Ibnul Qayyim berkata:
فَكُلُّ مَنِ الْتَمَسَ الْمُعَاوَنَةَ عَلَى مَحْبُوبٍ لِلَّهِ تَعَالَى مُرْضٍ لَهُ، أُجِيبَ إِلَى ذَلِكَ كَائِنًا مَنْ كَانَ، مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَى إِعَانَتِهِ عَلَى ذَلِكَ الْمَحْبُوبِ مَبْغُوضٌ لِلَّهِ أَعْظَمُ مِنْهُ،
“Setiap orang yang mencari pertolongan untuk melakukan apa yang dicintai dan diridai oleh Allah, maka hendaknya dipenuhi, siapa pun itu, selama pertolongan tersebut tidak menimbulkan perkara yang dimurkai oleh Allah yang lebih besar daripada itu.” (Zaad Al-Ma’ad Fii Hadyi Khair Al-‘Ibaad)
Karena itu, kalau bekerja sama dengan orang-orang Syiah yakni dalam rangka mewujudkan suatu kebaikan, tapi tanpa mengorbankan akidah, dan tanpa menimbulkan bahaya yang lebih besar daripada kebaikan yang ingin dicapai, maka tentu saja itu diperbolehkan.
Jangankan dengan Syiah, dengan kafir tulen pun kita boleh melakukan itu.
Namun, kalau maksud bekerja sama di sini yaitu dengan memuji-muji mereka dan menyanjung tokoh-tokoh mereka, maka apakah pantas kita memuji dan menyanjung mereka yang mencela dan menjatuhkan istri dan sahabat nabi kita?!
Mana bukti cinta kita kepada nabi kita?!
Apakah pantas kita mengorbankan agama kita demi dunia yang fana?!
Siberut, 22 Syawwal 1445
Abu Yahya Adiya






