Buah Kesabaran

Buah Kesabaran

Sakitnya begitu keras, sehingga akhirnya pingsanlah ia. Ketika siuman, ia berkata:

أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنْ بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بَرِئَ مِنْ الصَّالِقَةِ وَالْحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ

“Aku berlepas diri dari orang yang Rasulullah ﷺ pun berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berlepas diri dari orang yang meraung-raung, mencukur rambutnya, dan merobek bajunya tatkala tertimpa musibah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah kabar dari sahabat Nabi, Abu Musa Al-Asy’ari. Dan itu juga yang dikatakan langsung oleh Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُود وَشَقَّ الْجُيُوب وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Bukan termasuk golongan kita orang-orang yang memukul pipi, merobek pakaian, dan berseru dengan seruan jahiliah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Musibah dan kematian itu menyakitkan. Lantas, bagaimana pula kalau itu ditambah dengan menjerit, memukul-mukul pipi, dan merobek pakaian? Bukankah itu makin menyakitkan?

Ya, tentu saja makin menyakitkan.

Karena itu, orang yang meratapi orang mati sebenarnya sedang menyakiti dirinya sendiri. Sedangkan perbuatan menyakiti diri sendiri telah dilarang dalam agama ini.

Nabi ﷺ bersabda:

اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ: الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

“Ada 2 perkara yang masih dilakukan oleh orang-orang dan kedua-duanya merupakan bentuk kekafiran: mencela keturunan, dan meratapi orang mati.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan terlarangnya meratapi orang mati. Sebab, dengan melakukan perbuatan tersebut, baik disadari maupun tidak, pelakunya sudah memprotes takdir Allah. Menggugat keputusan Allah terhadap dirinya.

Seakan-akan ia berkata:

“Ya Allah, kenapa Engkau mengambil orang yang kusayangi?!”

“Ya Allah, kenapa Engkau tega-teganya membiarkan diriku sendiri?!”

Ia telah memprotes takdir Allah terhadap dirinya. Ia telah menggugat keputusan Allah terhadap dirinya. Ia tidak mau rida dan bersabar menghadapi keputusan-Nya terhadap dirinya.

Padahal, kalau ia mau bersabar dan tabah, tentu ia akan merasakan buah dari kesabaran dan ketabahannya.

 

Manfaat Kesabaran

  1. Dengan kesabaran, terasa ringanlah penderitaan.

Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Dia akan menyegerakan siksa kepadanya di dunia. Dan jika Dia menghendaki keburukan pada hamba-Nya, maka Dia akan menangguhkan siksa itu hingga Dia berikan siksa itu nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Mana yang lebih ringan, bencana di dunia atau bencana di akhirat?

Dan kalau kita harus memilih, mana yang kita pilih, bencana di dunia atau bencana di akhirat?

 

  1. Dengan kesabaran, datanglah petunjuk dari-Nya.

Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At Taghabun: 11)

Lihatlah, Allah akan memberi petunjuk kepada hati orang yang beriman kepada-Nya. Namun siapa yang dimaksud dengan orang yang beriman kepada-Nya dalam ayat ini?

‘Alqamah menjelaskan:

هو الرجل تصيبه المصيبة، فيعلم أنها من عند الله، فيسلم ذلك ويرضى

“Yaitu orang yang mendapatkan musibah, lalu ia meyakini bahwa musibah itu dari Allah, maka ia pun menerima itu dan rida.” (Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Quran)

Ayat tadi menunjukkan keutamaan orang yang bersabar dalam menghadapi takdir-Nya yang menyakitkan.

Sebab, Allah akan memberikan hidayah dan petunjuk kepadanya.

Apakah kita tidak membutuhkan hidayah dan petunjuk dari-Nya?

 

  1. Dengan kesabaran, tergapailah cinta-Nya.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya bencana. Dan sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan kepada mereka ujian. Siapa yang rida terhadap ujian tersebut, baginya keridaan Allah. Sebaliknya, siapa yang murka, baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang bersabar dalam menghadapi bencana, musibah, dan ketetapan apa pun dari-Nya yang terasa pahit baginya.

Allah akan meridai dan mencintainya.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali-Imran: 146)

Orang yang bersabar akan merasa ringan dalam menghadapi cobaan dari-Nya.

Orang yang bersabar akan mendapat petunjuk dan hidayah dari-Nya.

Orang yang bersabar akan mendapatkan keridaan dan kecintaan dari-Nya.

Kalau memang kita sudah menyadari yang demikian, akankah kita tetap berkeluh kesah dalam menghadapi musibah?

 

Berkeluh Kesah Adalah Tidak Tabah

Seseorang tidak akan dianggap sabar dan tabah, kalau ia masih berkeluh kesah terhadap musibah.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ بَثَّ فَلَمْ يَصْبِرْ

“Siapa yang berkeluh kesah, berarti ia tidak bersabar.” (Syu’abul Iman)

Suatu hari Fudhail bin ‘Iyadh melihat seseorang berkeluh kesah. Ia mengeluhkan musibah yang menimpa dirinya kepada orang lain.

Fudhail pun berkata kepadanya:

يَا هَذَا! تَشْكُو مَنْ يَرْحَمُكَ إِلَى مَنْ لاَ يَرْحَمُكَ؟!

“Wahai fulan! Engkau mengadukan Tuhan yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu?!” (Siyar A’lam An-Nubala)

Ya, apakah kita akan mengadukan keputusan Allah yang amat menyayangi kita kepada orang yang tidak menyayangi kita?

Apakah itu sikap seorang hamba kepada Tuhannya?

Apakah itu sikap seorang hamba kepada Tuhannya yang telah banyak memberikan nikmat kepadanya?

Karena itu, hentikanlah keluh kesahmu. Adukanlah kesedihanmu dan penderitaanmu hanya kepada-Nya.

Syaqiq Al-Balkhi berkata:

من شكا مصيبة إلى غير الله لم يجد حلاوة الطاعة

“Siapa yang mengadukan musibah kepada selain Allah, maka ia tidak akan merasakan manisnya ketaatan.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Ucapkanlah perkataan seperti yang diucapkan oleh Nabi Ya’qub tatkala kehilangan putranya yang amat ia cintai:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

 

Siberut, 24 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya