Wahyu Sudah Terhenti?

Wahyu Sudah Terhenti?

“Kalau memang tidak ada lagi wahyu yang turun, lantas Jibril menganggur?”

Itulah pernyataan seorang yang ingin menetapkan bahwa wahyu tetap turun hingga hari ini.

Ia tidak bisa menerima keyakinan bahwa wahyu telah terhenti karena kematian Nabi ﷺ.

Baginya, wahyu terus turun dan tetap berlanjut selama masih ada kehidupan di muka bumi ini.

Apakah pernyataannya bisa diterima?

Apakah wahyu masih turun hingga hari ini? Atau malah sudah terhenti?

 

Tangisan Ummu Aiman

Ummu Aiman menangis. Abu Bakar dan ‘Umar pun terkejut. Keduanya berkata:

مَا يُبْكِيكِ أَما تَعْلَمِينَ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خيرٌ لرسولِ اللَّه ﷺ؟

“Apa yang menyebabkanmu menangis? Bukankah engkau tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah ﷺ?”

Ummu Aiman pun berkata:

إِنِّي لا أَبْكِي أَنِّي لأعْلمُ أَنَّ مَا عِندَ اللَّهِ تعالَى خَيرٌ لرسُولِ اللَّه ﷺ ولَكنْ أبْكي أَنْ الوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ

“Sesungguhnya aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah ﷺ, akan tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit.”

Ucapan Ummu Aiman itu membuat Abu Bakar dan Umar terenyuh, maka keduanya pun ikut menangis. (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan dengan jelas bahwa wahyu telah terhenti karena kematian Nabi ﷺ. Makanya Ummu Aiman pun menangisi itu dan membuat Abu Bakar dan Umar menangis ketika itu.

 

Perkataan Tegas Umar

‘Umar bin Khaththab رضي الله عنه berkata:

إِنَّ أُنَاسًا كَانُوا يُؤْخَذُونَ بِالْوَحْيِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَإِنَّ الْوَحْيَ قَدْ انْقَطَعَ وَإِنَّمَا نَأْخُذُكُمْ الْآنَ بِمَا ظَهَرَ لَنَا مِنْ أَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya dulu pada masa hidup Rasulullah ﷺ orang-orang dinilai berdasarkan wahyu. Dan sekarang wahyu telah terhenti. Maka saat ini kami hanya akan menilai kalian berdasarkan perbuatan kalian yang nampak bagi kami.

فَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا خَيْرًا أَمِنَّاهُ وَقَرَّبْنَاهُ وَلَيْسَ إِلَيْنَا مِنْ سَرِيرَتِهِ شَيْءٌ اللَّهُ يُحَاسِبُهُ فِي سَرِيرَتِهِ

Siapa yang  menampakkan kepada kami kebaikan, niscaya kami memercayainya dan kami dekatkan ia. Bukanlah urusan kami apa yang ada dalam batinnya. Allah lah yang akan memperhitungkan batinnya.

وَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا سُوءًا لَمْ نَأْمَنْهُ وَلَمْ نُصَدِّقْهُ وَإِنْ قَالَ إِنَّ سَرِيرَتَهُ حَسَنَةٌ

Dan siapa yang menampakkan kepada kami kejelekan, maka kami pun tak akan merasa aman darinya dan tidak pula memercayainya, meskipun ia mengatakan bahwa batinnya itu baik!” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan dengan jelas bahwa wahyu telah terhenti karena kematian Nabi ﷺ. Makanya saat ini seseorang hanya bisa dinilai berdasarkan tindak-tanduknya yang tampak di depan mata. Bukan berdasarkan wahyu. Sebab, wahyu sudah terhenti karena kematian Nabi ﷺ.

 

Jika Terhentinya Wahyu Tidak Diyakini

Wahyu sudah terhenti karena kematian Nabi ﷺ. Itulah kewajiban yang harus kita yakini. Namun, apa akibatnya kalau seseorang masih meyakini bahwa wahyu belum berhenti hingga hari ini?

Syekh Nashir Al-‘Aql berkata:

وهناك قاعدة أخرى وهي تبع للإيمان بالأنبياء والكتب وهي: الإيمان بأن الوحي قد انقطع بعد محمد صلى الله عليه وسلم، ومن ادعى أنه ينزل إليه وحي أو يأتيه شيء بمقام الوحي فيحل ما حرم الله أو يحرم ما أحل الله، أو يشرّع عقيدة أو عبادة أو نحو ذلك من أمور الدين بدعوى أنه بمنزلة الوحي كل ذلك من الضلال

“Ada kaidah lain dan itu mengikuti keimanan kepada para nabi dan kitab-kitab suci, yakni beriman bahwa wahyu telah terputus setelah Muhammad ﷺ. Siapa yang mengklaim bahwa wahyu turun kepadanya, atau sesuatu yang seperti wahyu datang kepadanya, sehingga ia menghalalkan apa yang Allah haramkan, atau mengharamkan apa yang Allah halalkan, atau mensyariatkan akidah, ibadah, atau perkara agama yang semacamnya dengan anggapan bahwa itu seperti wahyu, maka itu semua adalah kesesatan.

فالنبي ﷺ هو خاتم الأنبياء والمرسلين، واعتقاد خلاف ذلك ضلال مبين وخروج من الإسلام.

Nabi ﷺ adalah penutup para nabi dan rasul. Keyakinan yang menyelisihi itu adalah kesesatan yang nyata dan keluar dari Islam.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah wa Al-Jama’ah)

Ya, kesesatan yang nyata dan keluar dari Islam! Artinya?

Syekh Abu Al-Asybal Hasan Az-Zuhairi berkata:

ومن اعتقد أن الوحي لا يزال مستمراً وأن النبوة لم تنقطع بموت نبينا محمد صلى الله عليه وسلم فقد كفر بالله العظيم.

“Dan siapa yang meyakini bahwa wahyu tetap berlanjut dan bahwa kenabian tidak terhenti karena kematian nabi kita Muhammad ﷺ, maka sungguh, ia telah kafir kepada Allah Yang Maha Agung.” (Syarh Shahih Muslim)

Syekh Saleh Al-Munajjid berkata:

ومن أصول عقيدتنا أيها المسلمون: الإيمان بانقطاع الوحي بعد محمد صلى الله عليه وسلم، وأن من ادعى خلاف ذلك فهو كافر

“Di antara pokok akidah kita wahai kaum muslimin, yaitu meyakini terhentinya wahyu setelah Muhammad ﷺ dan siapa yang mengklaim selain itu, maka ia telah kafir.

فلا نقبل شيئاً جاء من غير طريق الوحي كما عليه بعض أئمة الضلال من الزعم بأنه قد جاءتهم نصوص جديدة بعد الوحي من طرق أو أئمة علويين كما يقولون.

Karena itu, kita tidak menerima sesuatu yang datang dari selain jalan wahyu sebagaimana ajaran sebagian pemimpin kesesatan berupa klaim bahwa telah datang kepada mereka nas-nas baru setelah wahyu dari beberapa jalan atau beberapa imam ‘Alawi sebagaimana yang mereka katakan.” (Durus Syekh Saleh Al-Munajjid)

Maksud beberapa imam ‘Alawi yaitu beberapa Imam keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Artinya, beberapa imam itu menerima wahyu sepeninggal Nabi ﷺ.

Itulah keyakinan kelompok Syiah. Dan itu merupakan keyakinan sesat, kafir, dan sangat mengherankan.

Syekh Ihsan Ilahi Zhahir berkata tentang kelompok Syiah:

فعجباً عجباً على القوم، كيف وقعوا في الضلالة حتى تدرجوا إلى إنكار ختم النبوة على محمد صلى الله عليه وسلم بانقطاع الوحي الإلهي عن الأرض حيث يثبتون نزول الملائكة أكبر من جبرئيل وميكائيل على أئمتهم، ولأجل ذلك صرحوا بتفضيل الأئمة على الأنبياء.

“Maka aneh dan aneh mereka ini. Bagaimana bisa mereka terjatuh dalam kesesatan hingga secara bertahap mereka mengingkari bahwa Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi dengan terputusnya wahyu ilahi dari muka bumi, di mana mereka menetapkan turunnya para malaikat yang lebih besar daripada Jibril dan Mikail kepada imam-imam mereka, dan karena itu pula mereka menegaskan bahwa imam-imam mereka lebih utama daripada para nabi?!” (Asy-Syi’ah wa As-Sunnah)

Maka, wahyu sudah terhenti karena kematian Nabi ﷺ. Tidak ada lagi wahyu yang turun dari langit.

Karena itu, Jibril tidak turun lagi ke muka bumi membawa wahyu saat ini.

Adapun Jibril turun tanpa membawa wahyu, maka itu mungkin saja terjadi.

Sebagaimana firman-Nya ketika menyinggung Lailatulkadar:

تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadr: 4)

Ruh di sini maksudnya kata para ahli tafsir yaitu Jibril. Jibril turun di malam yang mulia itu, tapi tanpa membawa wahyu.

 

Siberut, 25 Jumada Ats-Tsaniyah 1442

Abu Yahya Adiya