‘Menggunakan’ Takdir-Nya Untuk Mendurhakai-Nya

‘Menggunakan’ Takdir-Nya Untuk Mendurhakai-Nya

Seorang pencuri dihadapkan kepada Amirulmukminin ‘Umar bin Al-Khaththab. Lalu beliau memerintahkan agar tangannya dipotong. Namun, pencuri itu protes dengan berkata:

سَرَقْتُ بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ

“Aku mencuri ini karena ketetapan Allah dan takdir-Nya!”

Lantas, apa reaksi ‘Umar?

 

Manusia Mempunyai Kehendak dan Pilihan

Allah telah menakdirkan semua perbuatan manusia, tetapi Dia juga memberinya kehendak dan pilihan.

Ia bisa berkehendak menjadi orang yang baik atau buruk.

Ia juga bisa memilih menjadi orang yang taat atau ahli maksiat.

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insan: 3)

Maka, batillah pendapat sekte Jabariyyah yang menyatakan bahwa di dunia ini manusia dalam keadaan terpaksa, tidak memiliki kehendak dan pilihan sama sekali!

Menurut mereka, manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan keinginan. Manusia hanyalah disetir dan tidak mempunyai pilihan. Laksana daun yang tertiup angin. Terhempas ke arah kiri atau kanan, ke belakang atau ke depan!

Mereka tidak membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi dengan kemauannya dan perbuatan yang terjadi tanpa kemauannya.

Tentu saja itu pendapat yang batil dan sesat.

Karena pendapat mereka itulah bermunculan berbagai kerusakan, di antaranya….

 

Bermaksiat dengan Alasan Takdir

Karena beralasan bahwa manusia dalam keadaan terpaksa, tidak memiliki kehendak dan pilihan sama sekali, sebagian orang akhirnya nekat berbuat maksiat!

Kalau kita larang, mereka akan berkata, “Ini sudah ditakdirkan Allah!”

Perbuatan mereka sudah buruk lalu ditambah pula dengan alasan yang buruk. Maka, makin bertambah buruklah keadaan mereka!

Syekh As-Sa’di berkata:

فالمحتج بالقدر على المعاصي: يكذبه الكتاب والسنة والعقل، وضميره يكذبه

“Orang yang beralasan dengan takdir untuk melakukan maksiat telah didustakan oleh Al-Quran, As-Sunnah, dan akal. Dan hati nuraninya pun mendustakannya.” (Ad-Durrah Al-Bahiyyah Syarh Al-Qashidah At-Taiyyah Fii Halli Al-Musykilah Al-Qadariyyah)

Ya, alasan itu batil dan terbantahkan.

Bantahan Terhadap Orang Yang Bermaksiat dengan Alasan Takdir

Pertama: bermaksiat dengan alasan takdir adalah kebiasaan orang-orang musyrik zaman dahulu. Sedangkan kita diperintahkan untuk menyelisihi mereka.

Allah menceritakan demikian:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلا آبَاؤُنَا وَلا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

“Orang-orang musyrik akan berkata, ‘Jika Allah menghendaki, tentu kami kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.’ Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksa Kami. Katakanlah, ‘Apakah kalian mempunyai pengetahuan yang dapat kalian kemukakan kepada Kami? Yang kalian ikuti hanyalah persangkaan belaka, dan kalian hanya mengira.” (QS. Al-An’aam: 148)

Lihatlah, Jika Allah menghendaki, tentu kami kami tidak akan mempersekutukan-Nya!

Bukankah ini bermaksiat dengan alasan takdir?

Dan perhatikanlah balasan dari-Nya:

“Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksa Kami.”

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

ولو كان لهم حجة بالقدر ما أذاقهم الله بأسه.

“Seandainya alasan mereka dengan takdir itu benar, tentu Allah tidak akan menyiksa mereka.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul)

 

Kedua: bermaksiat dengan alasan takdir adalah sikap yang bertentangan dengan perintah Nabi ﷺ untuk terus beramal dan tidak bergantung pada takdir.

Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ، وَمَقْعَدُهُ مِنَ الجَنَّةِ

“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali telah ditentukan tempat duduknya di neraka dan tempat duduknya di surga.”

Para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا، وَنَدَعُ العَمَلَ؟

“Wahai Rasulullah, kalau begitu, apakah kita tidak pasrah saja terhadap takdir kita dan tidak usah beramal?”

Beliau ﷺ menjawab:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang sesuai dengan takdirnya.” (HR. Bukhari)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

فأمر النبي صلى الله عليه وسلم بالعمل ونهى عن الإتكال على القدر

“Nabi ﷺ tetap memerintahkan untuk beramal dan melarang bergantung pada takdir.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul)

 

Ketiga: bermaksiat dengan alasan takdir adalah sikap yang bertentangan dengan akal sehat.

Seandainya dihidangkan kepada seseorang 2 makanan: yang satu makanan yang bergizi, lezat, dan menyehatkan, sedangkan yang satu lagi buruk, kotor, dan membahayakan, maka mana yang ia pilih?

Mungkinkah ia memilih makanan yang buruk, kotor, dan membahayakan dengan alasan bahwa itulah takdirnya?

Tentu saja tidak!

Nah, kalau dalam masalah makanan saja ia memilih yang terbaik, lantas bagaimana mungkin dalam masalah akhirat ia memilih yang terburuk dengan alasan bahwa itulah takdirnya?!

 

Keempat: bermaksiat dengan alasan takdir adalah sikap yang muncul dari hawa nafsu semata.

Kalau orang yang bermaksiat dengan alasan takdir dipukul dan diambil hartanya oleh seseorang lalu orang tersebut berkata, “Jangan salahkan aku! Ini adalah takdir Allah!”, maka bisakah ia menerima alasan orang tersebut?

Tentu saja tidak!

Nah, kalau beralasan dengan takdir untuk melanggar haknya saja tidak bisa diterima, lantas bagaimana bisa ia beralasan dengan takdir untuk melanggar hak Tuhannya?!

 

Kelima: bermaksiat dengan alasan takdir adalah sikap batil yang berkonsekuensi batil.

Syekh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Aba Bathin berkata:

أنه لو جاز الاحتجاج بالقدر على الذنب، وأنه حجة صحيحة، لكان حجة لإبليس وجميع العصاة، وهذا باطل بدلائل الكتاب والسنة، بإجماع أهل الحق من الأمة

“Seandainya boleh beralasan dengan takdir untuk melakukan dosa, dan bahwa itu adalah argumen yang benar, tentu itu menjadi argumen yang membenarkan Iblis dan semua pelaku maksiat. Dan itu adalah batil berdasarkan dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah serta kesepakatan orang-orang yang berada di atas kebenaran dari umat ini.” (Ad-Durar As-Saniyyah Fii Al-Ajwibah An-Najdiyyah)

Ya, kalau memang takdir bisa dijadikan alasan untuk membolehkan maksiat, tentu benarlah Iblis tatkala menolak sujud kepada Adam. Dan tentu benarlah semua pelaku maksiat tatkala mereka melakukan maksiat.

Dan kalau mereka semua benar, tentu mereka tidak pantas mendapatkan hukuman. Namun kenyataannya?

Iblis diusir dari surga. Para pelaku maksiat terancam siksa dunia sebelum siksa neraka.

Karena itu, tidak boleh bermaksiat dengan alasan takdir. Dan siapa yang pun bermaksiat dengan alasan tersebut, maka tidak bisa diterima alasannya dan hukuman tetap berlaku baginya.

Karena itu, apa reaksi ‘Umar tatkala seorang pencuri menolak hukuman terhadap dirinya dengan alasan takdir?

Pencuri itu berkata, “Aku mencuri ini karena ketetapan Allah dan takdir-Nya!”

Maka ‘Umar pun menjawab:

وَأَنَا أَقْطَعُ يَدَكَ بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ.

“Dan aku juga memotong tanganmu karena ketetapan Allah dan takdir-Nya!” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah)

 

Siberut, 16 Shafar 1443

Abu Yahya Adiya