Bagaimana Kedudukan Tauhid?

Bagaimana Kedudukan Tauhid?

Ia merawat anak itu dengan baik. Ia sediakan makan minumnya dan juga jajannya.  Semua keperluan sehari-hari yang ia butuhkan, telah ia sediakan. Namun, ketika ia beri perintah dan aturan, anak itu tidak mau menurutinya. Ia malah menuruti perintah dan aturan orang lain. Apa penilaian kita terhadap anak itu?

Tidak tahu diri!

Mungkin itulah yang akan meluncur dari lisan kita.

Maka begitu pula orang yang menyekutukan Allah. Ia sangat tidak tahu diri.

Allah menciptakannya agar beribadah kepada-Nya, tapi ia malah beribadah kepada selain-Nya.

Allah memberinya rezeki berupa makan, minum dan udara gratis, supaya bisa menjalankan aturan-Nya, tapi ia malah lebih menuruti hawa nafsunya.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

 

Yang Paling Berjasa

Siapakah orang yang paling berjasa terhadap diri kita?

Ingatlah, ibumu telah mengandungmu dalam keadaan lemah yang bertambah hari demi hari.

Ingatlah, di antara hidup dan mati, ibumu melahirkanmu dengan susah payah.

Ingatlah, bagaimana ibumu mengasuhmu. Ingatlah, ia menghabiskan malam-malamnya untuk menggendongmu dan menyusuimu! Dan ketika itu, bagaimana keadaanmu?

Engkau masih begitu lemah. Tidak berdaya untuk mengurus dirimu sendiri.

Dan Ingat juga, bagaimana ayahmu memeras keringat dan membanting tulang untuk menafkahimu.

Bayangkan, bagaimana sabarnya ia menahan penat demi menghidupimu.

Dan bayangkan, bagaimana tabahnya ia memikul letih demi kelangsungan hidupmu. Ya, demi kelangsungan masa depanmu.

Bukankah itu menunjukkan bahwa keduanya amat menyayangimu?

Kalau engkau menyadari itu, maka ketahuilah, Tuhanmu lebih menyayangimu dibandingkan ibu bapakmu!

Nabi ﷺ bersabda:

لله أرحم بعباده من هذه بولدها

“Sungguh,  Allah sangat menyayangi hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya.”

Karena sayang kepadamu, Allah tidak langsung menyiksamu, padahal engkau sudah berkali-kali melalaikan perintah-Nya.

Karena sayang kepadamu, Allah tetap memberi rezeki kepadamu, padahal engkau sudah berulang kali melanggar larangan-Nya.

Kalau memang Tuhan kita lebih menyayangi kita daripada kedua orang tua kita, maka hendaknya kita mendahulukan keridaan-Nya daripada keridaan selain-Nya.

Kita beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun dan siapa pun.

Allah Taala berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al Isra’: 23)

Dan Allah Taala berfirman:

واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan apa pun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)

Dalam 2 ayat tadi Allah memulai perintah-Nya dengan tauhid lalu dilanjutkan dengan berbakti kepada kedua orang tua.

Itu menunjukkan bahwa mengesakan Allah adalah perintah yang pertama dan utama. Perintah yang paling penting dan sangat penting. Lebih penting dibandingkan perintah berbakti kepada kedua orang tua.

Sebab, hak Allah kepada diri kita lebih besar dibandingkan hak kedua orang tua kita terhadap diri kita.

 

Semua Rasul Membawanya

Perkara tauhid adalah perkara yang penting, bahkan sangat penting. Saking pentingnya perkara tauhid, sampai-sampai Allah mengutus semua rasul untuk mengajak umat mereka agar merealisasikan itu.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Beribadahlah kepada Allah (semata) dan jauhilah tagut!” (QS. An Nahl: 36).

Seluruh rasul tanpa terkecuali dari Nabi Nuh ﷺ sampai Nabi Muhammad ﷺ diutus kepada umat mereka agar mereka mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun dan dengan siapa pun. Entah itu malaikat, jin, orang saleh, apalagi hewan dan benda mati!

Itu menunjukkan bahwa perintah untuk mengesakan Allah adalah perintah yang pertama dan utama. Perintah yang paling penting. Lebih penting dibandingkan perintah untuk salat, zakat, puasa, sedekah dan ibadah lainnya.

Saking pentingnya perkara tauhid, sampai-sampai orang yang merealisasikannya dengan sempurna, tak akan tersentuh siksa-Nya.

Nabi ﷺ bersabda:

فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Sesungguhnya hak Allah yang harus ditunaikan oleh hamba-hamba-Nya yaitu hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya sedikit pun, sedangkan hak hamba yang pasti ditunaikan oleh Allah yaitu Allah tidak akan menyiksa orang-orang yang tidak menyekutukan-Nya sedikit pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:

ومعنى الحديث أن الله لا يعذب من لا يشرك به شيئا، وأن المعاصي تكون مغفورة بتحقيق التوحيد

“Makna hadits ini yakni Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya sedikit pun dan maksiat akan diampuni dengan sebab merealisasikan tauhid.” (Al-Qaul Al-Mufiid Alaa Kitab At-Tauhid)

 

Siberut, 23 Dzulqadah 1441

Abu Yahya Adiya