Bila ada orang yang mampu melihat kejadian di tempat lain tanpa bantuan alat informasi dan komunikasi, apakah ia wali Allah atau wali setan?
Jika ada orang yang mampu mengetahui kelamin janin yang ada di kandungan tanpa bantuan alat medis, apakah ia wali Allah atau wali setan?
Kalau ada orang yang bisa berjalan di atas air, terbang di udara, tidak mempan bacokan senjata tajam dan tidak terbakar oleh api, apakah ia memiliki mukjizat, karomah atau bahkan sihir?
Sebelum kita jawab pertanyaan tadi, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan wali Allah, wali setan, mukjizat dan karomah.
Wali Allah
Siapakah wali Allah?
Allah عز وجل berfirman:
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63)
Berarti, wali Allah adalah orang yang beriman dan bertakwa.
Wali Setan
Siapakah wali setan?
Kalau wali Allah adalah orang yang beriman dan bertakwa, berarti wali setan adalah kebalikan darinya, yakni orang yang tidak beriman dan juga tidak bertakwa.
Mukjizat, Karomah, dan Sihir
Mukjizat adalah kejadian luar biasa. Karomah adalah kejadian luar biasa. Dan sihir juga kejadian luar biasa.
Lantas, apa bedanya mukjizat, karomah dan sihir?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
المعجزة تكون للأنبياء ، والكرامة للأولياء ؛ أولياء الرحمن ، والكهانة لأولياء الشيطان
“Mukjizat itu terjadi pada para Nabi, sedangkan karomah terjadi pada para wali Allah, sementara kahanah (sihir) terjadi pada para wali setan.
والآن المعجزة لا يمكن أن تقع ؛ لأن الرسول عليه الصلاة والسلام آخر الأنبياء ، ولا يمكن أن تقع
Dan saat ini, mukjizat mustahil terjadi. Sebab, Rasul عليه الصلاة والسلام merupakan nabi terakhir, maka tak mungkin mukjizat terjadi lagi.
. والكرامة موجودة من قبل الرسول ومن بعد الرسول إلى يوم القيامة ، تكون على يد ولي صالح
Sedangkan karomah itu ada, baik sebelum rasul maupun setelahnya, hingga hari kiamat, dan itu terjadi pada orang yang saleh.
إذا عرفنا أن هذا الرجل الذي جاءت هذه الكرامة على يده هو رجل مستقيم قائم بحق الله وحق العباد عرفنا أنها كرامة
Jika kita tahu bahwa kejadian luar biasa muncul dari seseorang yang lurus dan menunaikan hak Allah dan juga hak hamba-hamba-Nya, berarti kita tahu bahwa itu adalah karomah.
وينظر في الرجل فإذا جاءت هذه الكرامة من كاهن – يعني : من رجل غير مستقيم – عرفنا أنها من الشياطين ، والشياطين تعين بني آدم لأغراضها أحياناً
Dan diperhatikan juga, jika kejadian luar biasa muncul dari kahin yaitu orang yang tidak lurus, berarti kita tahu bahwa itu muncul dari para setan (bukan karomah). Dan memang para setan kadang menolong manusia demi tujuan mereka.” (Liqa Al-Bab Al-Maftuh)
Kalau begitu, bisa kita simpulkan bahwa mukjizat adalah kekhususan para Nabi. Dan sekarang, tak ada lagi nabi setelah diutusnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Berarti, perkara luar biasa yang terjadi di zaman ini tidak lepas dari dua keadaan, yakni apakah itu karomah atau sihir.
Jika muncul perkara luar biasa dari seseorang yang lurus agamanya, beriman dan bertakwa, maka itulah karomah yang muncul dari wali Allah.
Sebaliknya, jika muncul perkara luar biasa dari seseorang yang rusak agamanya, tidak beriman dan tidak pula bertakwa, maka itulah sihir yang muncul dari wali setan.
Kalau begitu, siapa yang bergelimang syirik, gemar melakukan klenik, sering melakukan bidah dan doyan bermaksiat, bahkan menjadi penyeru pada yang demikian, berarti dialah wali setan.
Ya, wali setan. Meskipun ia bisa terbang di udara, mampu makan beling, tidak mempan dibom, tidak hangus terbakar api dan tidak mati dilindas mobil!
Sebab, ‘kehebatan’ yang ia miliki bukanlah karunia dari Allah. Itu sihir dan permainan setan! Maka jangan terkecoh dan jangan tertipu!
Imam Yunus bin Abdul A’laa berkata kepada Imam Asy-Syafi’i:
صَاحِبُنَا اللَّيْثُ يَقُوْلُ:
“Sahabat kita Al-Laits berkata:
لَوْ رَأَيْتَ صَاحِبَ هَوَىً يَمْشِي عَلَى المَاءِ، مَا قَبِلْتُهُ.
“Kalau aku melihat orang yang sesat berjalan di atas air, maka tetap saja aku tidak akan menerima ucapannya!”
Imam Asy-Syafi’i pun berkata:
قَصَّرَ لَوْ رَأَيْتُهُ يَمْشِي فِي الهَوَاءِ، لَمَا قَبِلْتُهُ
“Masih kurang. Seandainya kulihat ia berjalan di udara, maka tetap saja aku juga tidak akan menerima ucapannya!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Adapun kalau seseorang menauhidkan Allah عز وجل, berpegang teguh pada sunnah Nabi-Nya, menjalankan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, berarti dialah wali Allah.
Kalau suatu hari ia bisa berjalan di atas air, tidak mempan dibacok, ditusuk dan ditembak berarti itulah karomah yang Allah عز وجل berikan kepada wali-Nya.
Bahkan, kalaupun ia tidak mengalami kejadian luar biasa tadi, ia tetap wali Allah!
Lihatlah ‘Umar bin Al-Khaththab!
Adakah orang yang kesalehannya melebihi ‘Umar?
Tidak diragukan lagi ia adalah wali Allah, tapi….
Apa penyebab ia meninggal?
Ditusuk dengan pedang tajam berkali-kali oleh kafir Majusi!
Bahkan, tengoklah apa yang terjadi pada nabi kita ketika perang Uhud!
Ketika itu terluka kepala beliau dan pecah gigi seri beliau!
Karena itu, wali Allah adalah orang yang beriman dan bertakwa, walaupun tidak memiliki karomah, dan memang tidak disyaratkan harus mempunyai karomah!
Siberut, 23 Jumada Al-Ulaa 1442
Abu Yahya Adiya






