Cara Dukun Menipu

Cara Dukun Menipu

“Garis tanganmu menunjukkan bahwa kamu akan menjadi orang besar di kemudian hari!”

“Buka kartu itu, nanti terlihat hokimu di tahun depan.”

“Tanggal berapa lahir ibu Anda? Saya ingin menelusuri penyakit Anda.”

Apakah masa depan bisa diramal lewat kartu dan garis tangan?

Apakah penyakit bisa dideteksi lewat tanggal kelahiran?

Allah berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)

Ya, hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Tidak satu pun yang bisa mengetahui perkara gaib kecuali Dia.

Makanya jangan sampai kita percaya kepada siapa pun yang mengaku tahu perkara gaib.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Siapa yang mendatangi ‘Arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima salatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)

Apa itu ‘Arraf?

Imam Al-Baghawi berkata:

وَالْعَرَّافُ هُوَ الَّذِي يَدَّعِي مَعْرِفَةَ الأُمُورَ بِمُقَدِّمَاتِ أَسْبَابٍ يُسْتَدَلُّ بِهَا عَلَى مَوَاقِعِهَا، كَالْمَسْرُوقِ مِنَ الَّذِي سَرَقَهَا وَمَعْرِفَةُ مَكَانِ الضَّالَّةِ، وَتُتَّهَمُ الْمَرْأَةُ بِالزِّنَى، فَيَقُولُ: مِنْ صَاحِبِهَا؟ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنَ الأُمُورِ.

“Arraf adalah orang yang mengaku tahu berbagai perkara melalui isyarat-isyarat yang digunakan untuk mengetahui letak-letaknya, seperti barang curian, siapa yang mencurinya? Atau untuk mengetahui tempat barang yang hilang, atau seorang wanita dituduh berzina, siapa yang menggaulinya? Dan perkara semacamnya.” (Syarh As-Sunnah)

Nabi ﷺ menyatakan bahwa siapa yang menanyakan sesuatu kepada orang seperti itu, maka salatnya selama 40 hari tidak diterima.

Nah, kalau sekadar iseng bertanya saja salatnya selama 40 hari tidak diterima, maka bagaimana pula kalau sampai menganggap benar ucapannya?

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

“Siapa yang mendatangi Kahin atau ‘Arraf lalu menganggap benar apa yang ia ucapkan, maka sungguh, telah kafirlah ia terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HR. Ahmad)

Imam Al-Baghawi berkata:

هُوَ الَّذِي يُخْبِرُ عَنِ الْكَوَائِنِ فِي مُسْتَقْبَلِ الزَّمَانِ، وَيَدَّعِي مَعْرِفَةَ الأَسْرَارِ، وَمُطَالَعَةَ عِلْمَ الْغَيْبِ

“Kahin yaitu orang yang memberitahukan tentang kejadian yang terjadi di masa depan, mengaku tahu perkara-perkara yang tersembunyi, dan mengaku bisa melihat hal-hal gaib.” (Syarh As-Sunnah)

Karena itu, siapa yang mempercayai ucapan orang yang mengaku tahu kejadian di masa depan, maka ia telah kafir kepada Al-Quran.

Siapa yang menganggap benar ramalan seseorang, maka ia telah kafir kepada Al-Quran.

Ya, ia kafir kepada Al-Quran dan kepada Tuhan yang telah menurunkan Al-Quran.

 

Jangan Tertipu Oleh Mereka!

Kalau iseng bertanya kepada orang yang mengaku tahu perkara gaib saja bisa berakibat salat selama 40 hari tidak diterima, lantas bagaimana pula dengan orang yang menjawab pertanyaannya?!

Dan kalau memercayai orang yang mengaku tahu perkara gaib saja bisa berakibat kafir, lantas bagaimana pula dengan orang yang mengaku tahunya?!

‘Arraf, kahin, dukun, peramal, paranormal dan orang yang sejenis dengan mereka adalah orang-orang yang sangat buruk dan pendusta. Karena itu, jangan sampai tertipu oleh mereka dan terkecoh oleh penampilan mereka.

Bagaimanakah cara mereka menipu dan mencari ‘mangsa’?

 

  1. Menampakkan diri sebagai orang yang agamis

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

وبعضهم ربما تظاهر بذكر اسم الله أو يصلي، أو غير ذلك، حتى يقول من رآه: رأيته يصلي رأيته يذهب للمسجد. وما كل مَنْ يصلي يصير مسلماً، قد يصلي الإنسان ويزكِّي ويصوم ويحج وهو كافر، إذا فعل ذلك نفاقاً أو ارتكب ناقضاً من نواقض الإسلام.

“Dan sebagian mereka bisa jadi menampakkan zikir dengan menyebut nama Allah atau melaksanakan salat atau selain itu, sehingga orang yang melihatnya akan berkata, ‘Kulihat ia melaksanakan salat. Kulihat ia pergi ke masjid’. Padahal, tidak semua yang melaksanakan salat adalah muslim. Mungkin saja seseorang melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa, dan melaksanakan ibadah haji, padahal ia kafir, jika melakukan semua itu karena kemunafikan atau ia telah melakukan salah satu pembatal Islam.

فالكاهن لو صلى ولو صام ولو حج، ولو تصدّق ولو زكّى لا تُقبل أعماله لأنه مشرك كافر، وكذلك الساحر

Kahin, walaupun ia melaksanakan salat, puasa, haji, bersedekah dan menunaikan zakat, tetap saja amalannya tidak diterima. Sebab, ia seorang musyrik dan kafir. Demikian pula tukang sihir.” (I’aanah Al-Mustafiid Bisyarh Kitab At-Tauhid)

 

  1. Menampakkan pengobatan menggunakan Al-Quran.

Syekh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:

وكل من يدعي علم الغيب باستعمال ضرب الحصى أو الوَدع أو التخطيط في الأرض أو سؤال المريض عن اسمه واسم أمه أو اسم أقاربه فكل ذلك دليل على أنه من العرافين والكهان الذين نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن سؤالهم وتصديقهم.

“Setiap orang yang mengaku tahu perkara gaib dengan cara memukul kerikil, atau wada (sejenis kerang), atau menulis di tanah, atau bertanya kepada orang sakit tentang namanya dan nama ibunya atau nama kerabatnya, maka semua itu adalah tanda yang menunjukkan bahwa ia termasuk ‘arraf dan kahin yang Nabi ﷺ telah melarang untuk bertanya kepada mereka dan membenarkan mereka.

فالواجب الحذر منهم ومن سؤالهم ومن العلاج عندهم وإن زعموا أنهم يعالجون بالقرآن لأن من عادة أهل الباطل التدليس والخداع فلا يجوز تصديقهم فيما يقولون

Maka, wajib berhati-hati dari mereka dan bertanya serta berobat kepada mereka, walaupun mereka mengaku mengobati dengan Al-Quran. Sebab, di antara kebiasaan pelaku kebatilan adalah menyamarkan dan menipu. Karena itu, tidak boleh membenarkan mereka terkait dengan apa yang mereka ucapkan.” (Hukum As-Sihr wa Al-Kahanah wama Yata’allaqu biha)

 

  1. Memberitakan kabar yang benar.

Imam Al-Qurthubi berkata:

ولا يغتر بصدقهم في بعض الأمور، ولا بكثرة من يجيء إليهم ممن ينتسب إلى العلم

“Jangan sampai tertipu oleh benarnya mereka dalam beberapa perkara, dan tertipu oleh banyaknya orang yang mengaku berilmu tapi datang kepada mereka.” (Fathu Al-Majiid Syarh Kitab At-Tauhid)

Mengapa demikian?

Sebab, mereka telah mencampur berita yang mereka dengar dari setan dengan seratus macam kebohongan.

Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan berkata:

ولهذا قال النبي ﷺ في وصف الكهان: ” فيكذبون معها مائة كذبة “. فبين أنهم يصدقون مرة ويكذبون مائة

“Makanya, Nabi ﷺ menggambarkan para kahin dengan sabdanya, ‘Kemudian satu berita yang ia dapat itu, ia campur dengan seratus macam kebohongan. ‘ Nabi ﷺ menjelaskan bahwa mereka benar sekali dan berdusta seratus kali.” (Fathu Al-Majiid Syarh Kitab At-Tauhid)

Benar sekali dan berdusta seratus kali. Itu menunjukkan bahwa mereka itu pendusta dan sangat banyak berdusta, maka bagaimana bisa mereka dipercaya?!

 

Siberut, 29 Dzulhijjah 1442

Abu Yahya Adiya