Siapa Yang Mengetahui Perkara Gaib?

Siapa Yang Mengetahui Perkara Gaib?

Dulu para jin adalah budak Nabi Sulaiman ﷺ. Mereka bekerja dan melakukan pekerjaan apa pun yang diperintahkan Nabi Sulaiman ﷺ. Mereka terus bekerja karena merasa diawasi Nabi Sulaiman ﷺ.

Suatu hari, Allah menetapkan bahwa Nabi Sulaiman ﷺ harus menemui ajalnya. Beliau pun wafat dalam kondisi bertumpu pada tongkatnya.

Para jin menyangka bahwa Nabi Sulaiman ﷺ masih hidup dan mengawasi mereka. Karena itu, ketika tongkat beliau habis dimakan rayap lalu tersungkurlah jasad beliau, baru sadarlah mereka ternyata Nabi Sulaiman ﷺ sudah lama meninggal.

Allah menceritakan itu dalam Al-Quran:

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’: 14)

Ya, seandainya mereka tahu perkara gaib, tentu mereka tidak terus-menerus bekerja dengan hina.

Seandainya mereka tahu perkara gaib, tentu mereka akan berhenti dari pekerjaan yang telah memberatkan mereka.

Ayat tadi menunjukkan bahwa para jin tidak mengetahui perkara gaib.

Kalau para jin tidak mengetahui perkara gaib, lantas bagaimana dengan makhluk yang lebih mulia dari mereka yaitu malaikat?

 

Pengakuan Para Malaikat

Allah menyebutkan dalam Al-Quran:

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Mereka (para malaikat) berkata, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Di ayat setelahnya Allah pun berfirman:

أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

“Bukankah sudah Kukatakan kepada kalian, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui perkara gaib di langit dan bumi dan mengetahui apa yang kalian lahirkan dan apa yang kalian sembunyikan?” (QS. Al-Baqarah: 32-33)

Ternyata para malaikat pun tidak tahu perkara gaib.

Kalau para malaikat tidak tahu perkara gaib lantas bagaimana dengan makhluk yang lebih mulia dari mereka, yaitu para nabi dan rasul?

 

Pengakuan Para Nabi dan Rasul

Allah berfirman:

يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“(Ingatlah) hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya, ‘Apa jawaban kaum kalian terhadap (seruan) kalian?’ Para Rasul berkata, ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu). Sesungguhnya Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib.” (QS. Al-Maidah: 109)

Ternyata para rasul pun tidak tahu perkara gaib.

Kalau makhluk-makhluk Allah yang mulia tadi tidak tahu perkara gaib lantas siapa lagi yang mengetahui perkara gaib?

 

Kunci Gaib Ada di sisi-Nya

Allah berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)

Dan Dia berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Pada sisi-Nya lah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-An’aam: 59)

Ya, hanya Allah lah yang mengetahui perkara-perkara gaib. Dan hanya di sisi-Nya lah kunci-kunci semua yang gaib.

Allah tidak memperlihatkan itu kepada siapa pun, kecuali sebagian perkara gaib yang Dia perlihatkan kepada sebagian rasul.

Allah berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

“Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan yang gaib itu kepada siapa pun. Kecuali kepada rasul yang Dia ridai.” (QS. Al-Jin: 26-27)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan ayat ini:

قَالَ الْعُلَمَاءُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ: لَمَّا تَمَدَّحَ سُبْحَانَهُ بِعِلْمِ الْغَيْبِ وَاسْتَأْثَرَ بِهِ دُونَ خَلْقِهِ، كَانَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ أَحَدٌ سِوَاهُ، ثُمَّ اسْتَثْنَى مَنِ ارْتَضَاهُ مِنَ الرُّسُلِ، فَأَوْدَعَهُمْ مَا شَاءَ مِنْ غَيْبِهِ بِطَرِيقِ الْوَحْيِ إِلَيْهِمْ، وَجَعَلَهُ مُعْجِزَةً لَهُمْ وَدِلَالَةً صَادِقَةً عَلَى نُبُوَّتِهِمْ.

“Para ulama-semoga Allah merahmati mereka-menjelaskan bahwa tatkala Allah memuji diri-Nya dengan pengetahuan gaib dan Dia khususkan itu untuk diri-Nya, tanpa makhluk-Nya, maka itu merupakan dalil yang menunjukkan bahwa tidak ada satu pun yang mengetahui perkara gaib selain Dia. Kemudian Dia mengecualikan para rasul yang Dia ridai, karena Dia memberitahukan kepada mereka perkara gaib yang Dia kehendaki melalui wahyu yang diberikan kepada mereka dan menjadikan itu sebagai mukjizat bagi mereka dan dalil yang menunjukkan benarnya kenabian mereka.” (Al-Jami’ Liahkam Al-Quran)

 

Apa itu Gaib?

Kalau memang hanya Allah yang mengetahui perkara gaib dan Dia tidak memperlihatkan itu kepada siapa pun, kecuali sebagian perkara gaib yang Dia perlihatkan kepada sebagian rasul, lantas apa yang dimaksud dengan perkara gaib?

Ibnu Mas’ud dan beberapa sahabat Nabi lainnya menjelaskan:

أَمَّا الْغَيْبُ فَمَا غَابَ عَنِ الْعِبَادِ مِنْ أَمْرِ الْجَنَّةِ وَأَمْرِ النَّارِ وَمَا ذُكِرَ فِي الْقُرْآنِ

“Adapun gaib, maka itu adalah segala sesuatu yang tersembunyi bagi manusia, seperti perkara surga, neraka, dan apa yang disebutkan dalam Al-Quran.” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wil Al-Quran)

Kalau begitu, segala perkara yang tidak tampak oleh mata adalah perkara gaib.

Segala sesuatu yang tidak terlihat dan terjangkau oleh pancaindera adalah perkara gaib.

Apa sajakah itu?

Seperti kebangkitan manusia dari kubur, surga, neraka, dan semua kejadian di akhirat. Termasuk wujud asli jin dan malaikat.

Apa pun perkara yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, kalau memang itu tidak tampak oleh mata dan tidak terlihat dan terjangkau oleh pancaindera, maka semua itu adalah perkara gaib.

Semua itu tidak ada yang mengetahui hakikat sesungguhnya kecuali Allah.

Semua itu tidak ada yang mengetahui hakikat sebenarnya kecuali Allah.

Karena itu, kalau ada orang yang mengaku tahu perkara gaib, kita katakan ia dusta atau sakit jiwa!

Kalau ada orang yang mengaku tahu peristiwa yang akan terjadi di esok hari, maka kita katakan ia dusta atau sakit jiwa!

Kalau ada yang mengaku tahu nasib seseorang di masa depan, maka kita katakan ia dusta atau sakit jiwa!

Kalau ada yang mengaku pernah melihat surga dan neraka (selain Rasul), maka kita katakan ia dusta atau sakit jiwa!

Siapa pun yang mengaku tahu perkara gaib, kita katakan ia dusta atau sakit jiwa!

Ya, dusta atau sakit jiwa. Dan kita katakan juga kepadanya, “Bertobatlah dari kesalahan Anda atau berobatlah untuk sakit Anda!”

 

Siberut, 26 Dzulhijjah 1442

Abu Yahya Adiya