Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani. Namanya tidak asing di telinga ini.
Beliau adalah ulama yang terkenal sebagai ahli ibadah, banyak karomah dan termasuk sosok yang dikagumi oleh sekte Asy‘ariyyah. Namun, apakah sama akidah beliau dengan akidah sekte Asy‘ariyyah?
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
وهو بجهة العلو مستو على العرش, محتو على الملك, محيط علمه بالأشياء
“Dan Dia di arah ketinggian, tinggi di atas Arsy, menguasai segala kerajaan, dan pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani juga berkata:
وعرش الرحمن فوق الماء, والله تعالى على العرش
“Arsy Tuhan Yang Maha Pengasih ada di atas air, sedangkan Allah ada di atas Arsy.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Ternyata Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani menetapkan keberadaan Allah di atas langit, yaitu di atas Arsy-Nya.
Apa alasan Syekh menetapkan demikian?
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
وهو بائن من خلقه, ولا يخلو من علمه مكان, ولا يجوز وصفه بأنه في كل مكان, بل يقال: إنه في السماء على العرش, كما قال جل ثناؤه:
“Dan Dia terpisah dari semua makhluk-Nya, sedangkan pengetahuan-Nya di mana-mana. Tidak boleh menyifatkan-Nya bahwa Dia di mana-mana. Bahkan, dikatakan bahwa Dia di langit yaitu di atas Arsy. Sebagaimana firman-Nya:
{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه: 5]
“Yang Maha Pengasih, yang tinggi di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5)
وقوله:
Dan firman-Nya:
{ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} [الفرقان: 59]
“Kemudian Dia tinggi di atas Arsy.” (QS. Al-Furqan: 59)
وقال تعالى:
Dan Dia berfirman:
{إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ} [فاطر: 10]
“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik. Dan amal kebajikan akan Dia angkat.” (QS. Fathir: 10)
والنبي صلى الله عليه وسلم حكم بإسلام الأمة لما قال لها: أين الله. فأشارت إلى السماء.
Dan Nabi ﷺ menetapkan keislaman seorang budak wanita tatkala bertanya kepadanya, ‘Di mana Allah?’, lalu budak itu menunjuk ke arah langit.
وقال النبي صلى الله عليه وسلم في حديث أبي هريرة رضي الله عنه:
Dan Nabi ﷺ bersabda dalam hadis Abu Hurairah:
لما خلق الله الخلق كتب كتابا على نفسه, وهو عنده, فوق العرش: إن رحمتي تغلب غضبي.
“Ketika Allah menciptakan semua makhluk, Dia menulis dalam kitab-Nya, sementara kitab itu ada di sisi-Nya di atas Arsy: sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Sebagaimana dalam fikih Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, maka begitu pula dalam akidah. Beliau mengikuti akidah Imam Ahmad bin Hanbal, yakni akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah.
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
وقال أحمد رحمه الله, في رواية عنه في موضع آخر:
“Ahmad-semoga Allah merahmatinya-berkata dalam sebuah riwayat yang ternukil darinya dalam tempat yang lain:
نحن نؤمن بأن الله عز وجل على العرش, كيف شاء, كما شاء, بلا حد ولا صفة يبلغها واصف, أو يحده حاد, لما روي عن سعيد بن المسيب عن كعب الأحبار قال الله تعالى في التوراة:
“Kami beriman bahwa Allah di atas Arsy, bagaimana pun yang Dia kehendaki dan sebagaimana yang Dia kehendaki. Tanpa batasan dan sifat yang bisa digambarkan, dan dibatasi seorang pun. Karena, diriwayatkan dari Sa‘id bin Al-Musayyab dari Ka‘b Al-Ahbar, Allah berfirman dalam Taurat:
أنا الله فوق عبادي, وعرشي فوق جميع خلقي, وأنا على العرش, عليه أدبر عبادي, ولا يخفى على شيء من عبادي.
“Aku adalah Allah, ada di atas hamba-hamba-Ku. Dan Arsy-Ku di atas semua makhluk-Ku. Di atasnyalah Aku mengatur hamba-hamba-Ku. Dan tidak ada sesuatu pun perkara hamba-hamba-Ku yang tersembunyi bagi-Ku.”
وكونه عز وجل على العرش مذكورا في كل كتاب أنزل على كل نبي أرسل بلا كيف
Keberadaan Allah di atas Arsy disebutkan dalam semua kitab yang diturunkan kepada semua nabi yang diutus, tanpa menentukan hakekatnya.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Maka, jelaslah bahwa keyakinan Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berbeda dengan keyakinan sekte Asy’ariyyah.
Sebab, sebagian pengikut sekte Asy’ariyyah berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana. Dan sebagian yang lain-dan ini adalah pendapat mayoritas mereka-berpendapat bahwa Allah tidak di atas, dan tidak di bawah, Dia tidak di luar alam, dan tidak pula di dalam alam!
Itu pendapat mereka. Sedangkan Syekh dengan tegas menyatakan bahwa Allah ada di atas langit yaitu di atas Arsy-Nya. Bukan cuma menetapkan itu, bahkan Syekh pun membantah orang-orang yang berpendapat selain itu.
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
وينبغي إطلاق صفة الاستواء من غير تأويل, وأنه استواء الذات على العرش
“Dan sepantasnya menyatakan ketinggian Allah di atas Arsy secara mutlak, tanpa menakwilkannya, dan bahwasanya itu adalah ketinggian zat-Nya di atas Arsy.
لا على معنى القعود والمماسة كما قالت المجسمة والكرامية
Bukan maknanya bahwa Dia duduk dan menempel di Arsy, sebagaimana pendapat Mujassimah dan Karramiyyah.
ولا على معنى العلو والرفعة كما قالت الأشعرية
Dan bukan maknanya bahwa Dia luhur dan mulia, sebagaimana pendapat Asy‘ariyyah.
ولا على معنى الاستيلاء والغلبة كما قالت المعتزلة
Dan bukan pula maknanya bahwa Dia menguasai Arsy, sebagaimana pendapat Muktazilah.
لأن الشرع لم يرد بذلك, ولا نقل عن أحد من الصحابة والتابعين من السلف الصالح من أصحاب الحديث, بل المنقول عنهم حمله على الإطلاق.
Sebab, syariat ini tidak menyebutkan demikian, dan itu juga tidak dinukil dari seorang pun sahabat Nabi dan tabiin dari kalangan salaf yang saleh, yaitu dari kalangan ahli hadis. Bahkan, yang dinukil dari mereka adalah menyatakan ketinggian Allah di atas Arsy secara mutlak.
وقد روي عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم في قوله عز وجل: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه: 5] قالت:
Dan telah diriwayatkan dari Ummu Salamah, istri Nabi ﷺ ia berkata tentang firman-Nya: ‘Yang Maha Pengasih, yang tinggi di atas Arsy‘:
الكيف غير معقول, والاستواء غير مجهول, والإقرار به واجب, والجحود به كفر.
“Hakekat ketinggian-Nya di atas Arsy tidak diketahui, tetapi maknanya tidaklah asing, sedangkan mengakuinya adalah wajib, sementara mengingkarinya adalah kekafiran.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Siberut, 29 Jumada Ats-Tsaniyah 1443
Abu Yahya Adiya






