Al-Qadhi Al-Baqilani terkenal sebagai tokoh Asy’ariyyah. Bahkan, menurut Syekhul Islam Ibnu Taimiyah:
وهو أفضل المتكلمين المنتسبين إلى الأشعري، ليس فيهم مثله لا قبله ولا بعده
“Ia adalah orang paling utama dari kalangan ahli kalam yang berafiliasi dengan Asy’ari. Tidak ada di kalangan mereka yang seperti dirinya, baik sebelumnya maupun setelahnya.” (Al-Fatwa Al-Hamawiyyah Al-Kubra)
Lantas, apakah pendapat Al-Qadhi Al-Baqilani tentang keberadaan Allah? Di manakah Allah menurut Al-Qadhi Al-Baqilani?
Al-Qadhi Al-Baqilani berkata:
إن قال قائل:
“Jika ada yang berkata:
فهل تقولون: إن الله في كل مكان؟
“Apakah kalian berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana?”
قيل:
Maka dijawab:
معاذ الله، بل هو مستوٍ على العرش، كما أخبر في كتابه
“Kita berlindung kepada Allah. Bahkan, Dia tinggi di atas Arsy. Sebagaimana yang Dia kabarkan dalam kitab-Nya.
فقال عزّ وجل:
Dia berfirman:
الرحمن على العرش استوى
“Yang Maha Pengasih, yang tinggi di atas Arsy.”
وقال تعالى:
Dan Dia berfirman:
إليه يصعد الكلم الطيب:
“Kepada-Nya lah akan naik perkataan-perkataan yang baik.”
وقال
Dan Dia berfirman:
أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض
“Sudah merasa amankah kalian, bahwa Dia yang di atas langit tidak akan membuat kalian ditelan bumi?” (At-Tamhid)
Ternyata Al-Qadhi Al-Baqilani menetapkan keberadaan Allah di atas langit, yaitu di atas Arsy-Nya. Berbeda dengan keyakinan orang-orang Asy’ariyyah lainnya yang berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana. Dan berbeda pula dengan keyakinan orang-orang Asy’ariyyah lainnya yang berpendapat bahwa Allah tidak di atas, dan tidak di bawah, tidak di luar alam, dan tidak pula di dalam alam!
Bukan cuma menetapkan bahwa Allah ada di atas Arsy, bahkan Al-Qadhi Al-Baqilani pun membantah orang-orang yang berpendapat selain itu.
Al-Qadhi Al-Baqilani berkata:
لو كان في كل مكان، لكان في جوف الإنسان، وفي فمه، وفي الحشوش وفي المواضع التي يُرْغَب عن ذكرها ـ تعالى الله عن ذلك
“Kalau Allah ada di mana-mana, niscaya Dia berada di rongga manusia, di mulutnya, di jamban, dan di tempat-tempat yang kurang pantas untuk disebutkan. Maha Tinggi Allah dari semua itu.
ولو كان في كل مكان، لوجب أن يزيد بزيادة الأمكنة، إذا خلق منها ما لم يكن خَلَقَه. وينقص بنقصانها ، إذا بطل منها ما كان، ولَصَحَّ أن يُرْغب إليه إلى نحو الأرض، وإلى وراء ظهورنا، وعن أيماننا، وعن شمائلنا. وهذا ما قد أجمع المسلمون على خلافة وتخطئة صاحبه
Dan kalau Dia ada di mana-mana, tentu Dia harus bertambah dengan bertambahnya tempat, jika Dia menciptakan tempat yang sebelumnya tidak Dia ciptakan. Dan tentu Dia harus berkurang dengan berkurangnya tempat, jika memang ada tempat yang hilang.
ولَصَحَّ أن يُرْغب إليه إلى نحو الأرض، وإلى وراء ظهورنا، وعن أيماننا، وعن شمائلنا.
Dan kalau Dia ada di mana-mana, tentu sah saja Dia dituju (dalam berdoa) ke arah tanah, ke belakang punggung kita, ke kanan kita, dan ke kiri kita!
وهذا ما قد أجمع المسلمون على خلافة وتخطئة صاحبه
Kaum muslimin telah sepakat tidak meyakini itu dan menyalahkan orang yang meyakini itu.” (At-Tamhid)
Mungkin ada yang bertanya lantas mana bantahan Al-Qadhi Al-Baqilani terhadap orang-orang yang berpendapat bahwa Allah tidak di atas, dan tidak di bawah, tidak di luar alam, dan tidak pula di dalam alam?
Bisa jadi-Allahu a’lam-beliau tidak membantah pendapat itu, karena di masa beliau hidup belum ada atau belum banyak orang yang berpendapat demikian. Pendapat itu muncul belakangan, setelah beliau meninggal dunia. Dan memang itu pendapat orang-orang belakangan dari kalangan ahli kalam.
Karena itu, Imam Adz-Dzahabi berkata:
ومقال متأخري الْمُتَكَلِّمين أَن الله تَعَالَى لَيْسَ فِي السَّمَاء وَلَا على الْعَرْش وَلَا على السَّمَوَات وَلَا فِي الأَرْض وَلَا دَاخل الْعَالم وَلَا خَارج الْعَالم وَلَا هُوَ بَائِن عَن خلقه وَلَا مُتَّصِل بهم
“Dan pendapat para ahli kalam belakangan yaitu bahwa Allah tidak di langit, tidak di atas Arsy, tidak di atas langit dan bumi, dan tidak di dalam alam dan tidak pula di luar alam. Dia tidak berpisah dengan ciptaan-ciptaan-Nya dan tidak pula bersambung dengan mereka.” (Al-‘Uluw)
Siberut, 27 Jumada Ats-Tsaniyah 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- An-Nashihah Adz-Dzahabiyyah Li Al-Asya‘irah Al-Mu‘ashirin karya Sulaiman Al-Khurasyi.
- Al-‘Uluw karya Imam Adz-Dzahabi.






