Allah menitis kepada makhluk-makhluk-Nya seperti halnya roh menitis kepada jasad!
Itulah keyakinan Hululiyyah.
Lantas, apa hubungan antara keyakinan itu dengan Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani, dan Tarekat Qadiriyyah?
Tarekat Qadiriyyah adalah tarekat Sufi yang menurut pengakuan pengikutnya ajarannya bersumber dari ajaran Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani.
Betulkah keyakinan tarekat Qadiriyyah bersumber dari ajaran Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani?
Di antara zikir yang dipraktekkan oleh tarekat Qadiriyyah:
الحمد لله الذي وُجِدَ في كل شيء
“Segala puji bagi Allah Yang ada pada segala sesuatu.” (Al-Fuyudhat Ar-Rabbaniyyah)
Yang ada pada segala sesuatu inilah keyakinan Hululiyyah.
Apakah yang seperti ini diyakini juga oleh Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani?
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
وهو بجهة العلو مستو على العرش, محتو على الملك, محيط علمه بالأشياء
“Dan Dia di arah ketinggian, di atas Arsy, menguasai segala kerajaan, dan pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani juga berkata:
وعرش الرحمن فوق الماء, والله تعالى على العرش
“Arsy Tuhan Yang Maha Pengasih ada di atas air, sedangkan Allah ada di atas Arsy.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Ternyata Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani menetapkan keberadaan Allah di atas langit, yaitu di atas Arsy-Nya dan beliau menyalahkan keyakinan yang bertentangan dengan itu.
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
وهو بائن من خلقه, ولا يخلو من علمه مكان, ولا يجوز وصفه بأنه في كل مكان, بل يقال: إنه في السماء على العرش, كما قال جل ثناؤه:
“Dan Dia terpisah dari semua makhluk-Nya, sedangkan pengetahuan-Nya di mana-mana. Tidak boleh menyifatkan-Nya bahwa Dia di mana-mana. Bahkan, dikatakan bahwa Dia di langit yaitu di atas Arsy. Sebagaimana firman-Nya:
{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه: 5]
“Yang Maha Pengasih, yang tinggi di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5)
وقوله:
Dan firman-Nya:
{ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} [الفرقان: 59]
“Kemudian Dia tinggi di atas Arsy.” (QS. Al-Furqan: 59)
وقال تعالى:
Dan Dia berfirman:
{إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ} [فاطر: 10]
“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik. Dan amal kebajikan akan Dia angkat.” (QS. Fathir: 10)
والنبي صلى الله عليه وسلم حكم بإسلام الأمة لما قال لها: أين الله. فأشارت إلى السماء.
Dan Nabi ﷺ menetapkan keislaman seorang budak wanita tatkala bertanya kepadanya, “Di mana Allah?”, lalu budak itu menunjuk ke arah langit.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Maka, jelaslah bahwa keyakinan Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berbeda dengan keyakinan tarekat Qadiriyyah yang meyakini bahwa Allah ada di mana-mana, bahkan bisa bersatu dengan makhluk-Nya.
Siberut, 29 Jumada Ats-Tsaniyah 1443
Abu Yahya Adiya






