Bergetar badannya dan memerah wajahnya. Lalu ia berkata:
أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ؟!
“Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak, kalau aku meriwayatkan hadis dari Rasulullah ﷺ lalu aku mengambil pendapat selainnya?!” (Hilyah Al-Auliya wa Thabaqat Al-Ashfiya)
Itulah reaksi Imam Asy-Syafi’i tatkala seseorang mempertanyakan sikap beliau berdalil dengan suatu hadis Nabi ﷺ.
Maksud beliau tadi yaitu bagaimana aku bisa selamat dari siksa Allah kalau aku mengetahui hadis dari Nabi ﷺ lalu aku tidak mau menerimanya?!
Kalau itu sikap Imam Asy-Syafi’i terhadap orang yang mempermasalahkan satu hadis Nabi ﷺ, maka bagaimana pula sikap beliau terhadap orang yang mempermasalahkan dan menolak semua hadis Nabi ﷺ?!
Imam Ahmad berkata:
مَنْ رَدَّ حَدِيثَ النَّبِيِّ ﷺ، فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ
“Siapa yang menolak hadis Nabi ﷺ, maka ia berada di tepi jurang kebinasaan.” (Al-Ibanah Al-Kubra)
Karena itu, orang yang tidak mau menjadikan hadis Nabi ﷺ sebagai sumber hukum adalah orang yang benar-benar menyimpang dari jalan-Nya. Dan Nabi ﷺ telah mengabarkan kepada kita kemunculan orang-orang semacamnya.
Nabi ﷺ bersabda:
أَلَا هَلْ عَسَى رَجُلٌ يَبْلُغُهُ الحَدِيثُ عَنِّي وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى أَرِيكَتِهِ، فَيَقُولُ: بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ، فَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَلَالًا اسْتَحْلَلْنَاهُ. وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَرَامًا حَرَّمْنَاهُ، وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ كَمَا حَرَّمَ اللَّهُ
“Ketahuilah, mungkin akan ada seseorang yang telah sampai kepadanya hadisku, sementara ia sedang bersandar pada dipannya. Lalu ia berkata, ‘Antara kami dan kalian ada kitab Allah. Karena itu, apa yang kita dapati halal di dalamnya, maka kita akan menganggapnya halal. Dan apa yang kita dapati haram di dalamnya, maka kita pun akan menganggapnya haram.’ Sesungguhnya apa yang diharamkan Rasulullah sama dengan apa yang diharamkan Allah.” (HR. Tirmidzi)
Dan orang-orang semacam itulah yang akan menghancurkan umat Islam dari dalam.
Mereka tidak mengakui hadis Nabi ﷺ. Mereka mengaku hanya berpegang pada Al-Quran. Merekalah yang dinamakan kelompok inkarsunah.
Merekalah yang akan menghancurkan umat Islam dari dalam, baik dengan sukarela maupun ‘terpaksa’.
Ustaz Muhammad Amin Djamaluddin berkata, “Salah satu usaha para orientalis untuk menghancurkan Islam adalah dengan cara memecah belah umat Islam melalui pemahaman-pemahaman menyimpang tentang pokok-pokok ajaran Islam itu sendiri. Di antaranya dengan membangkitkan kembali paham inkar Sunnah. Paham ini muncul kembali pada abad ke-18, tepatnya sejak 111 (seratus sebelas) tahun yang lalu atau sekitar tahun 1874 M.” (Capita Selekta Aliran Sesat di Indonesia)
Siapa yang menghidupkan kembali pemikiran sesat itu?
Ustaz Muhammad Amin Djamaluddin berkata, “Kemunculan kembali paham ini berawal dari hasil penelitian seorang orientalis yang bernama Prof. Dr. Ignaz Goldziher (1850-1921). Dia lahir di Hongaria, keturunan asli Yahudi dari garis ibu dan bapaknya. Dalam usianya yang cukup muda, yaitu sekitar 19 tahun, pada tahun 1869 Goldziher telah dilantik menjadi seorang Doktor dalam bidang Islamologi di Jerman di bawah bimbingan Prof. Rodiger. Kemudian Goldziher mendapatkan beasiswa untuk belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir pada tahun 1873-1874 untuk memperdalam pengetahuan Islam.” (Capita Selekta Aliran Sesat di Indonesia)
Apa tujuan orang kafir tersebut memperdalam pengetahuan tentang Islam?
Ustaz Muhammad Amin Djamaluddin berkata, “Tak dapat dipungkiri, Goldziher melakukan semua itu untuk menghancurkan Islam. Hal itu terbukti dengan mempelopori pencetusan paham Inkar Sunnah. Dia meyakini bahwa apabila paham ini dihembuskan dan diterima oleh umat Islam, maka umat Islam akan terpecah belah dan hancur secara perlahan.” (Capita Selekta Aliran Sesat di Indonesia)
Kalau demikian, jika kita menyaksikan ada orang yang mengaku muslim tapi menolak satu hadis sahih dari Nabi ﷺ, bahkan menolak semua hadis sahih dari Nabi ﷺ, maka waspadalah!
Ia akan memecah belah dan menghancurkan umat ini!
Siberut, 3 Dzulqa’dah 1443
Abu Yahya Adiya






