Tobatnya Penolak Ketinggian Allah di Hadapan Ibnu Taimiyah

Tobatnya Penolak Ketinggian Allah di Hadapan Ibnu Taimiyah

Akibat terpengaruh ilmu kalam dan filsafat, banyak orang yang menolak ketinggian Allah, walaupun itu menyalahi fitrah mereka.

Di antara sekte yang menolak ketinggian Allah adalah Asy’ariyyah.

Sebenarnya, beberapa tokoh sekte Asy’ariyyah terdahulu meyakini ketinggian Allah di atas Arsy. Orang-orang belakangan dari merekalah yang banyak menolak itu.

Asy’ariyyah belakangan menyatakan bahwa Allah tidak di atas dan tidak di bawah, Dia tidak di luar alam dan tidak pula di dalam alam!

Mereka mengingkari ketinggian Allah di atas Arsy!

Mereka mengingkari fitrah mereka sendiri!

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah menceritakan dialognya bersama seorang penganut Asy’ariyyah:

ولقد كان عندي من هؤلاء النافين لهذا من هو من مشايخهم، وهو يطلب مني حاجة، وأنا أخاطبه في هذا المذهب كأني غير منكر له، وأخرت قضاء حاجته حتى ضاق صدره، فرفع طرفه ورأسه إلى السماء، وقال:

“Sungguh, pernah ada di sisiku orang yang termasuk syekh dari kalangan penolak ketinggian Allah. Ketika itu ia meminta suatu kebutuhan kepadaku, sedangkan aku mengajaknya bicara tentang pendapatnya seakan-akan aku tidak mengingkarinya. Dan aku menunda untuk memenuhi kebutuhannya hingga sempitlah dadanya. Lalu ia mengangkat pandangannya dan kepalanya ke langit dan mengucapkan:

يا الله

“Ya Allah.”

فقلت له:

Kukatakan kepadanya:

أنت محق، لمن ترفع طرفك ورأسك؟ وهل فوق عندك أحد؟

“Anda benar! Kepada siapa Anda mengangkat pandangan dan kepala Anda? Apakah ada seseorang di atas Anda?”

فقال:

Syekh itu pun berkata:

أستغفر الله

“Aku memohon ampun kepada Allah.”

ورجع عن ذلك لما تبين له أن اعتقاده يخالف فطرته، ثم بينت له فساد هذا القول: فتاب من ذلك، ورجع إلى قول المسلمين المستقر في فطرهم.

Akhirnya syekh tadi rujuk dari pendapatnya, karena jelas baginya bahwa keyakinannya menyalahi fitrahnya. Lalu kujelaskan kepadanya rusaknya pendapatnya. Maka, ia pun bertobat dari itu dan kembali kepada pendapat kaum muslimin yang tertanam dalam fitrah mereka.” (Daru Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql)

Fitrah manusia itu meyakini bahwa Tuhannya itu tinggi, jauh di atasnya. Makanya bagaimana bisa ia menyalahi fitrahnya?!

 

Siberut, 29 Jumada Ats-Tsaniyah 1444

Abu Yahya Adiya