Cara Singkat Membantah Penolak Sifat-Nya

Cara Singkat Membantah Penolak Sifat-Nya

Orang yang beriman tidak akan melihat Allah di akhirat nanti. Allah tidak di atas Arsy. Dia tidak turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir.

Itulah keyakinan Muktazilah. Dan masih banyak lagi sifat Allah yang mereka tolak, padahal itu disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Suatu hari Syarik bin ‘Abdillah Al-Qadhi mengunjungi Imam ‘Abbad bin Al-‘Awwam. Lalu Imam ‘Abbad berkata kepadanya:

إِنَّ عِنْدَنَا قَوْماً مِنَ المُعْتَزِلَةِ، يُنْكِرُوْنَ هَذِهِ الأَحَادِيْثَ:

“Sesungguhnya di tengah-tengah kami ada kaum Muktazilah. Mereka menolak hadis-hadis ini:

إِنَّ أَهْلَ الجَنَّةِ يَرَوْنَ رَبَّهُم

“Sesungguhnya penduduk surga akan melihat Tuhan mereka.”

وَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا

“Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia.”

Lantas, apa tanggapan Syarik bin ‘Abdillah Al-Qadhi?

Imam ‘Abbad berkata:

فَحَدَّثَ شَرِيْكٌ بِنَحْوٍ مِنْ عَشْرَةِ أَحَادِيْثَ فِي هَذَا، ثُمَّ قَالَ:

“Kemudian Syarik menyampaikan sekitar sepuluh hadis tentang itu lalu ia berkata:

أَمَّا نَحْنُ، فَأَخَذنَا دِيْنَنَا عَنْ أَبْنَاءِ التَّابِعِيْنَ، عَنِ الصَّحَابَةِ، فَهُم عَمَّنْ أَخَذُوا؟

“Adapun kita, maka kita mengambil agama kita dari anak-anak tabiin dari para sahabat Nabi. Sedangkan mereka, dari siapa mereka mengambil agama?” (Siyar A’lam An-Nubala)

Lihatlah, kita mengambil agama kita dari anak-anak tabiin dari para sahabat Nabi. Sedangkan mereka, dari siapa mereka mengambil agama?

Ini adalah bantahan singkat dan telak terhadap mereka yang menolak sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Quran atau As-Sunnah.

Apakah ada sahabat Nabi ﷺ yang menyatakan bahwa Allah tidak di atas Arsy?

Apakah ada sahabat Nabi ﷺ yang menyatakan bahwa Allah tidak turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir?

Apakah ada sahabat  Nabi ﷺ yang menyatakan bahwa orang yang beriman tidak akan melihat Allah di surga nanti?

Apakah ada sahabat Nabi ﷺ yang menolak sifat Allah yang ada dalam Al-Quran?

Atau adakah murid sahabat Nabi, yaitu tabiin yang menolak sifat-Nya yang ada dalam hadis yang sahih?

Sa’id bin Jubair berkata:

مَا لَمْ يَعْرِفْهُ الْبَدْرِيُّونَ فَلَيْسَ مِنَ الدِّينِ

“Apa yang tidak dikenal oleh para sahabat Nabi yang mengikuti perang Badr, maka itu bukan termasuk bagian dari agama!” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm Wa Fadhlihi)

Kalau suatu keyakinan tidak pernah diyakini oleh para sahabat Nabi, maka ketahuilah, itu adalah bidah, dan bukan bagian dari agama ini.

Karena itu Imam Ibnu Katsir berkata:

وَأَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فَيَقُولُونَ فِي كُلِّ فِعْلٍ وَقَوْلٍ لَمْ يَثْبُتْ عَنِ الصَّحَابَةِ: هُوَ بِدْعَةٌ؛ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ خَيْرًا لسبقونا إليه، لأنهم لَمْ يَتْرُكُوا خَصْلَةً مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ إِلَّا وَقَدْ بَادَرُوا إِلَيْهَا

“Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah, mereka berkata tentang setiap perbuatan dan pendapat yang tidak ada dari para sahabat bahwa itu adalah bidah. Sebab, kalau itu merupakan kebaikan, tentulah mereka telah mendahului kita dalam hal itu. Karena, mereka tidak meninggalkan satu pun perbuatan baik kecuali mereka telah melakukannya dengan segera.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)

 

Siberut, 20 Rabi’ul Tsani 1444

Abu Yahya Adiya