Berapa banyak nama dan sifat Allah disebutkan dalam Al-Quran maupun As-Sunnah. Lantas, apa sikap umat ini terhadapnya?
Adapun sekte Jahmiyyah, mereka menolak nama dan sifat Allah.
Sedangkan sekte Muktazilah, mereka menolak sifat-sifat Allah, tetapi menetapkan nama-nama-Nya.
Sementara sekte Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, mereka menolak sebagian sifat Allah dan menetapkan sebagiannya, serta menetapkan nama-nama-Nya.
Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah, mereka menerima semua nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka menetapkan itu sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya.
Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan berkata:
فمذهبنا مذهب السلف: إثبات بلا تشبيه، وتنزيه بلا تعطيل، وهو مذهب أئمة الإسلام، كمالك والشافعي والثوري والأوزاعي وابن المبارك والإمام أحمد وإسحاق بن راهويه وهو اعتقاد المشايخ المقتدى بهم، كالفضيل بن عياض وأبي سليمان الداراني وسهل بن عبد الله التستري، وغيرهم. فإنه ليس بين هؤلاء الأئمة نزاع في أصول الدين
“Pendapat kami adalah pendapat salaf yakni menetapkan sifat Allah, tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk, dan menyucikan Allah, tanpa menolak sifat-sifat-Nya. Dan itulah pendapat para ulama Islam, seperti Malik, Asy-Syafi’i, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Ibnul Mubarak, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, dan itu adalah keyakinan para syekh yang jadi panutan, seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Abu Sulaiman Ad-Darani, Sahl bin ‘Abdillah At-Tustari, dan selain mereka. Sesungguhnya tidak ada di antara mereka perbedaan pendapat dalam pokok agama.” (Qathfu Ats-Tsamar Fii Bayaan ‘Aqidah Ahli Al-Atsar)
Menetapkan semua sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadis yang sahih, tanpa menyerupakan itu dengan sifat makhluk.
Itulah sikap orang yang benar-benar mengagungkan Tuhannya. Namun anehnya, karena sikap yang demikian, musuh-musuh Ahlussunnah menuduh Ahlussunnah telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Padahal….
Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’i, guru Imam Bukhari berkata:
وَلَيْسَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ وَلَا رَسُولُهُ تَشْبِيهًا
“Menetapkan sifat yang Allah berikan kepada diri-Nya dan juga yang diberikan rasul-Nya bukanlah tasybih (menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya).” (Al-‘Uluw Li Al-‘Aliyy Al-Ghaffar)
Dan Imam Ibnu Abi Al-‘Izz Al-Hanafi berkata:
وَلَا يَلْزَمُ مِنْ إِثْبَاتِ الصِّفَةِ تَشْبِيهٌ إِذْ صِفَاتُ الْمَخْلُوقِ كَمَا يَلِيقُ بِهِ وَصِفَاتُ الْخَالِقِ كَمَا يَلِيقُ بِهِ
“Tidak mesti dengan menetapkan sifat bagi Allah berarti menyerupakan-Nya dengan ciptaan-Nya. Sebab, sifat makhluk itu sesuai dengannya dan sifat Pencipta itu sesuai dengan-Nya.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)
Ketika Ahlussunnah menetapkan bagi Allah sifat sayang, cinta, berbicara, tinggi di atas, dan sifat Allah lainnya yang disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah, bukan berarti mereka sedang menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya. Sebab, sifat-sifat itu sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, dan tidak serupa dengan sifat makhluk-Nya.
Pertengahan di Antara Penyembah Berhala dan Penyembah Tidak Ada
Syekhul Islam berkata:
وَالْمُعَطِّلُ يَعْبُدُ عَدَمًا….وَالْمُمَثِّلُ يَعْبُدُ صَنَمًا. وَمَذْهَبُ السَّلَفِ إثْبَاتٌ بِلَا تَمْثِيلٍ وَتَنْزِيهٌ بِلَا تَعْطِيلٍ. كَمَا قَالَ تَعَالَى:
“Orang yang menolak sifat Allah menyembah sesuatu yang tidak ada….Dan orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk menyembah berhala. Sedangkan mazhab salaf yaitu menetapkan sifat Allah, tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk, dan menyucikan-Nya tanpa menolak sifat-sifat-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
وَهَذَا رَدٌّ عَلَى الْمُمَثِّلَةِ
Ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang menyerupakan-Nya dengan makhluk.
وَقَوْلُهُ:
Dan firman-Nya:
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
رَدٌّ عَلَى الْمُعَطِّلَةِ.
Ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang menolak sifat-Nya.” (Majmu’ Al-Fatawa)
Mana perbuatan yang lebih buruk, menolak sifat-Nya atau menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya?
Mullah ‘Ali Al-Qari berkata:
وَلَا شكّ أَن تَعْطِيل الصِّفَات شَرّ من تشبيهها
“Tidak diragukan lagi bahwa menolak sifat Allah lebih buruk daripada menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya.” (Ar-Radd ‘Alaa Al-Qaailiin Biwihdah Al-Wujuud)
Kenapa menolak sifat Allah lebih buruk daripada menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya?
Dr. Syamsuddin Al-Afghani berkata:
فإن المعطل شر منه؛ لأنه شبه الله تعالى, بالمعدومات والممتنعات. ولأنه جمع بين التشبيه وبين التعطيل.
“Sesungguhnya orang yang menolak sifat Allah itu lebih buruk. Sebab, ia telah menyerupakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada dan tidak mungkin terjadi, dan karena ia telah menggabungkan antara menyerupakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada dan menolak sifat-Nya.” (‘Idaa Al-Maturidiyyah Li Al-‘Aqidah As-Salafiyyah)
Artinya, menolak sifat Allah itu lebih buruk. Karena, selain telah menolak sifat Allah, orang yang melakukannya juga telah menyerupakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada.
Sebagai contoh, mereka yang menolak ketinggian Allah di atas Arsy-Nya dengan mengatakan bahwa Dia tidak di atas dan tidak di bawah, Dia tidak di luar alam dan tidak pula di dalam alam.
Mereka lebih buruk dibandingkan orang-orang yang mengatakan bahwa Dia di atas Arsy seperti makhluk di atas sesuatu.
Kenapa demikian?
Selain telah menolak sifat-Nya, mereka juga telah menyerupakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada. Karena, jika sesuatu dikatakan “tidak di atas dan di bawah, tidak di luar alam dan di dalam alam” , itu artinya sesuatu itu tidak ada!
Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan….
Siberut, 19 Dzulqa’dah 1444
Abu Yahya Adiya






