“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 3)
Bukankah maknanya jelas?
Dan Allah berfirman:
الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
“Tuhan Yang Maha Pengasih, yang tinggi di atas Arsy.” (QS. Thahaa: 5)
Bukankah maknanya jelas?
Dan Nabi ﷺ bersabda:
يَحْشُرُ اللَّهُ العِبَادَ، فَيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُب
“Allah mengumpulkan hamba-hamba-Nya lalu memanggil mereka dengan suara yang bisa didengar oleh orang yang jauh sebagaimana bisa didengar oleh orang yang dekat:
أَنَا المَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ
“Akulah Raja dan Akulah Maha Pembalas.” (HR. Bukhari)
Bukankah maknanya jelas?
Ya, jelas. Sangat jelas. Namun anehnya, itu tidak jelas bagi sekte Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Muktazilah, dan para penolak sifat Allah lainnya sehingga akhirnya mereka menolak sifat-Nya yang ada dalam dua ayat dan hadis tadi.
Mereka menolak sifat kasih dan sayang bagi Allah. Mereka menolak ketinggian Allah di atas Arsy. Mereka juga menolak bahwa Allah berbicara dengan suara yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.
Bukan cuma itu, masih banyak lagi sifat Allah yang mereka tolak padahal itu disebutkan dalam banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi.
Mereka menolaknya dengan alasan maknanya belum jelas dan tidak sesuai dengan lahirnya. Padahal, dalam beberapa ayat Al-Quran Allah menyebutkan bahwa Al-Quran itu kitab yang terang, jelas, dan penjelas segala sesuatu.
“Jika kalian menyimpang setelah bukti-bukti yang terang datang kepada kalian, maka ketahuilah, bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 209)
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku dilarang menyembah sekutu-sekutu yang kalian seru selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku.” (QS. Ghafir: 66)
“Kami turunkan Kitab kepadamu sebagai penjelas segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)
Kalau memang ayat-ayat tentang sifat Allah itu memiliki makna yang berbeda dengan lahirnya, padahal itu ada banyak, berarti konsekuensinya Al-Quran bukanlah kitab yang jelas dan terang. Tentu saja itu batil.
Karena itu, apa yang dilakukan oleh para penakwil sifat-sifat-Nya adalah batil.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
لأن لازم طريقهم ألا يكون القرآن بياناً للناس
“Sebab, konsekuensi metode mereka yaitu Al-Quran bukanlah penjelas bagi umat manusia.” (Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah)
Selain itu, dalam surat Al-Qamar, berkali-kali Allah menyebutkan:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan.”
Allah mengabarkan bahwa Dia telah memudahkan Al-Quran untuk dibaca, dipahami, dipelajari, dihafalkan dan disampaikan.
Kalau memang ayat-ayat tentang sifat Allah itu memiliki makna yang berbeda dengan lahirnya, padahal itu ada banyak, berarti konsekuensinya Al-Quran bukanlah kitab yang mudah untuk dipahami dan dipelajari. Tentu saja itu batil.
Siberut, 27 Rabi’ul Tsani 1446
Abu Yahya Adiya






