“Di mana kita dibandingkan Nabi ﷺ? Beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang!”
Itulah yang dikatakan oleh 3 orang yang mendatangi rumah isteri-isteri Nabi ﷺ.
Mereka bertanya kepada istri-istri Nabi ﷺ tentang ibadah Nabi ﷺ. Setelah diberitahu, seakan-akan mereka menganggap sedikit ibadah Nabi ﷺ. Lalu mereka pun mengucapkan perkataan tadi.
Setelah itu salah seorang dari mereka berkata:
أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا
“Adapun aku, maka sungguh, aku akan melaksanakan salat malam selama-lamanya!”
Kemudian yang lain berkata:
أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ
“Adapun aku, maka sungguh, aku akan berpuasa terus-menerus dan tidak akan berbuka!”
Dan yang lain lagi berkata:
أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا
“Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya!”
Kemudian datanglah Nabi ﷺ kepada mereka seraya berkata:
أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Kalian yang berkata begini dan begitu? Sungguh, demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa di antara kalian. Walaupun begitu, aku berpuasa dan aku juga berbuka. Aku melaksanakan salat dan aku juga tidur. Dan aku tetap menikahi wanita. Karena itu, siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikanlah sabda Nabi ﷺ tadi: “aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa di antara kalian”!
Syekh Taqiyyuddin Al-Hilali berkata:
فأنت ترى أن هذا الحديث حجة قاطعة على أن النبي صلى الله عليه وسلم سيد ولد آدم وأفضل الأنبياء والرسل في العلم والعمل فكيف بغيرهم
“Engkau lihat bahwa hadis ini adalah bukti yang tegas bahwa Nabi ﷺ adalah pemimpin umat manusia, dan nabi serta rasul yang paling utama dalam hal pengetahuan dan amalan, maka bagaimana pula selain para nabi bisa menyamainya?” (As-Siraj Al-Munir)
Ya, tentu saja tidak ada manusia yang bisa menyamai nabi kita, baik dari sisi pengetahuan maupun amalan, kecuali bagi kaum Sufi!
Seorang Sufi terdahulu berkata:
خضنا بحورا وقفت الأنبياء بسواحله
“Kami menyelami lautan, sedangkan para nabi berdiri di pinggirnya.” (Al-Ibriiz)
Artinya, ilmu kaum Sufi sangat mendalam, sedangkan ilmu para nabi masih dangkal!
Sufi itu juga berkata:
تالله أن لوائي أعظم من لواء محمد صلى الله عليه وسلم، لوائي من نور تحته الجان والجن والإنس، كلهم من النبيين
“Demi Allah, panjiku lebih besar daripada panji Muhammad. Panjiku dari cahaya yang di bawahnya ada para jin dan manusia. Seluruh mereka dari kalangan nabi.”
Dan sebagian Sufi terdahulu berkata:
مقام النبوة في برزخ فويق الرسول ودون الوليّ
“Kedudukan nabi di barzakh ada di atas rasul dan di bawah wali.” (Thabaqat Asy-Sya’rani)
Itu semua Sufi terdahulu, maka bagaimana dengan Sufi belakangan?
Seorang Sufi belakangan berkata:
إن الأنبياء يمتازون بين أمتهم بعلمهم. أما الأعمال؛ ففي أكثر الأحيان يساويهم أتباعهم في الظاهر, بل يتفوقون عليهم في العمل.
“Sesungguhnya para nabi memiliki kelebihan di antara umat mereka dalam hal pengetahuan mereka. Adapun amalan, maka seringnya para pengikut mereka menyamai mereka secara lahir, bahkan mereka mengungguli para nabi dalam hal amalan.” (Tahdzir An-Nas)
Lihatlah, bahkan mereka mengungguli para nabi dalam hal amalan!
Setelah menyebutkan perkataan ini, Syekh Taqiyyuddin Al-Hilali berkata:
أما زعمه أن أتباع الأنبياء يساوون الأنبياء في العمل, بل يفوقونهم؛ فهو من الطوام الكبرى والضلالات العظمى.
“Adapun klaimnya bahwa pengikut-pengikut para nabi menyamai mereka dalam hal amalan, bahkan mengungguli mereka, maka itu termasuk bencana besar dan kesesatan yang parah.” (As-Siraj Al-Munir)
Ya, bencana besar dan kesesatan yang parah. Sebab, itu menyangkut perkara akidah.
Syekh Taqiyyuddin Al-Hilali juga berkata:
من زعم أنه زاد على عمل النبي صلى الله عليه وسلم؛ فهو ضال فاسد الاعتقاد, لأن ما زاده يبعده من الله, وهو في الحقيقة نقصان وخذلان؛ فإن أقوال النبي صلى الله عليه وسلم وأفعاله وكل حركاته عبادة لا تساويه عبادة؛ فكلام هذا القائل ضلال وهوس أصيب به
“Siapa yang mengklaim bahwa dirinya bisa melebihi amalan Nabi ﷺ, maka ia telah sesat dan rusak akidahnya. Sebab, apa yang ia tambah akan menjauhkannya dari Allah. Dan itu sebenarnya kekurangan dan kesengsaraan. Karena sesungguhnya perkataan, perbuatan, dan seluruh gerakan Nabi ﷺ adalah ibadah yang tidak bisa disamai oleh ibadah apa pun. Karenanya, ucapan orang tadi adalah kesesatan dan kekacauan yang menimpa dirinya.” (As-Siraj Al-Munir)
Maka, tidak ada seorang pun yang bisa menyamai, apalagi melampaui nabi, baik dari sisi pengetahuan maupun amalan!
Siberut, 1 Dzulqa’dah 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber:






