“Kalau akalmu bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka dahulukan akalmu!”
Itulah pendapat ahli bidah.
Aneh?
Lebih aneh lagi ucapan sebagian dari mereka:
“Berpatokan dengan lahir nas Al-Quran dan As-Sunnah adalah pokok kesesatan!”
Aneh?
Lebih aneh lagi ucapan sebagian dari mereka:
“Berpatokan dengan lahir nas Al-Quran dan As-Sunnah adalah pokok kekafiran!”
Itulah prinsip ahli bidah. Mereka sangat mengagungkan akal mereka, sampai-sampai mereka menjadikan akal mereka layaknya Tuhan yang bisa menentukan mana yang baik dan buruk dalam perkara agama.
Dan itulah kebiasaan musuh para nabi.
Syekh Nashir Al-‘Aql berkata:
فتقديم العقل على النص ناتج عن الغرور والكبرياء من خصوم الأنبياء.
“Mendahulukan akal dibandingkan nas adalah muncul dari sikap tertipu dan kesombongan dari para musuh nabi.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah wal Jama’ah)
Imam Adz-Dzahabi berkata:
وَإِذَا رَأَيْتَ المُتَكَلِّمَ المُبْتَدِعَ يَقُوْلُ: دَعْنَا مِنَ الكِتَابِ وَالأَحَادِيْثِ الآحَادِ وَهَاتِ العَقْلَ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ أَبُو جَهْلٍ
“Dan bila engkau melihat orang ahli kalam dan ahli bid’ah berkata, ‘Jauhkanlah kita dari Al-Quran dan hadis ahad. Tunjukkan saja dalil akal!’, maka ketahuilah, ia adalah Abu Jahl!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Ya, Abu Jahl. Karena Abu Jahl menolak dakwah Nabi ﷺ dengan alasan bertentangan dengan akal!
Pandangan Ahlussunnah wal Jama‘ah Tentang Akal
Adapun Ahlussunnah wal jama’ah mereka berpendapat bahwa akal yang sehat pasti selaras dengan wahyu, yaitu Al-Quran dan hadis yang sahih. Akal dan wahyu tidak akan saling bertentangan selama-lamanya.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
وما علم بصريح العقل لا يتصور أن يعارضه الشرع البتة
“Segala sesuatu yang diketahui dengan akal sehat tidak terbayangkan akan bertentangan dengan syariat.
بل المنقول الصحيح لا يعارضه معقول صريح فقط
Bahkan, nas yang sahih tidak mungkin bertentangan dengan dalil akal yang sehat sedikit pun.” (Daru Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql)
Namun, kalau dalam suatu masalah-misalnya- ternyata akal kita seakan-akan bertentangan dengan suatu nas, maka apa yang sebenarnya terjadi?
Syekhul Islam berkata:
وقد تأملت ذلك في عامة ما تنازع الناس فيه فوجدت ما خالف النصوص الصحيحة الصريحة شبهات فاسدة يعلم بالعقل بطلانها بل يعلم بالعقل ثبوت نقيضها الموافق للشرع
“Sungguh, telah kuperhatikan itu pada kebanyakan yang diperselisihkan orang-orang. Kudapati segala yang menyelisihi nas-nas yang sahih dan jelas adalah syubhat rusak yang diketahui kebatilannya dengan akal. Bahkan, diketahui pula dengan akal kebalikannya yang sesuai dengan syariat.” (Daru Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql)
Ya, kalau memang nas itu sahih, maka yang rusak bukan nasnya, tapi akal yang bertentangan dengannya!
Syekhul Islam berkata:
فيأخذ المسلمونَ جميعَ دينهم من الاعتقادات , والعبادات , وغير ذلك من كتاب الله , وسنَّةِ رسولِهِ , وما اتفق عليه سلف الأمّة وأئمتها
“Kaum muslimin mengambil semua perkara agama mereka baik berupa keyakinan, ibadah, maupun selain itu dari kitab Allah dan sunnah rasul-Nya, dan yang disepakati oleh para salaf dan ulama mereka.
وليس ذلك مخالفاً للعقل الصريح؛ فإنّ ما خالف العقل الصريح فهو باطلٌ.
Dan itu tidak menyelisihi akal sehat. Karena sesungguhnya segala sesuatu yang menyelisihi akal sehat adalah batil.
وليس في الكتاب والسنَّةِ والإجماع باطل
Dan tidak ada dalam Al-Quran, As-Sunnah, dan ijmak sesuatu yang batil.
ولكن فيه ألفاظ قد لا يفهمها بعضُ النَّاس أو يفهمون منها معنى باطلاً
Namun, di dalamnya ada kalimat-kalimat yang tidak dipahami sebagian orang, atau dipahami darinya makna yang batil.
فالآفةُ منهم , لا من الكتاب والسُّنَّة
Maka, kesalahan itu dari mereka, bukan dari Al-Quran dan As-Sunnah.
فإن الله تعالى قال:
Karena sesungguhnya Allah berfirman (QS. An-Nahl: 89):
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدى وَرَحْمَة وَبُشْرى لِلْمُسْلِمِين
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Majmu’ Al-Fatawa)
Maka, bisa disimpulkan bahwa:
- Akal yang sehat tidak akan bertentangan dengan syariat. Akal yang sehat pasti akan selaras dengan nas yang sahih dalam syariat.
- Jika dalam suatu masalah dan keadaan akal seseorang bertentangan dengan nas, maka ada 2 kemungkinan: nas itu tidak sahih atau akalnya yang tidak sahih!
Siberut, 5 Jumada Al-Ulaa 1442
Abu Yahya Adiya






