‘Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi khalifah daripada Abu Bakar dan ‘Umar. Itulah pernyataan sekte Syiah.
Mereka menyatakan demikian dengan alasan bahwa ‘Ali mendapatkan wasiat dari Nabi ﷺ untuk menjadi pemimpin umat sepeninggal beliau ﷺ. Padahal….
Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah berkata:
كُنْتُ عِنْدَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ
“Aku berada di samping ‘Ali bin Abi Thalib lalu datanglah seseorang seraya berkata:
مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُسِرُّ إِلَيْكَ
“Apa yang pernah Nabi ﷺ rahasiakan untukmu?”
فَغَضِبَ وَقَالَ
‘Ali pun marah lalu berkata:
مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُسِرُّ إِلَيَّ شَيْئًا يَكْتُمُهُ النَّاسَ غَيْرَ أَنَّهُ قَدْ حَدَّثَنِي بِكَلِمَاتٍ أَرْبَعٍ قَالَ
“Nabi ﷺ tidak pernah merahasiakan kepadaku sesuatu yang tidak beliau sampaikan kepada orang-orang. Hanya saja beliau pernah menyampaikan kepadaku empat perkara.”
فَقَالَ
Laki-laki itu berkata:
مَا هُنَّ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ
“Apa itu wahai Amirulmukminin?”
قَالَ
‘Ali menjawab:
قَالَ
“Beliau ﷺ bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَهُ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ
“Allah melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanya, Allah melaknat orang yang menyembelih sesuatu kepada selain Allah, Allah melaknat orang yang melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat orang yang mengubah tanda batas tanah.” (HR. Muslim)
Ternyata Nabi ﷺ tidak pernah memberikan wasiat apa pun kepada ‘Ali kecuali perkataan ini.
Karena itu, Imam An-Nawawi berkata:
قَوْله: إِنَّ عَلِيًّا غَضِبَ حِين قَالَ لَهُ رَجُل : مَا كَانَ النَّبِيّ ﷺ يُسِرّ إِلَيْك ؟ إِلَى آخِره فِيهِ إِبْطَال مَا تَزْعُمهُ الرَّافِضَة وَالشِّيعَة وَالْإِمَامِيَّة مِنْ الْوَصِيَّة إِلَى عَلِيّ وَغَيْر ذَلِكَ مِنْ اِخْتِرَاعَاتهمْ.
“Perkataannya bahwa ‘Ali marah tatkala seseorang berkata kepadanya: ‘Apa yang pernah Nabi ﷺ rahasiakan untukmu?’ sampai akhir perkataannya, itu membatalkan klaim Syiah Rafidhah dan Syiah Imamiyah tentang adanya wasiat (kepemimpinan) untuk ‘Ali dan berbagai kedustaan mereka lainnya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Maka, hadis tadi membantah klaim Syiah bahwa ‘Ali mendapat wasiat kepemimpinan dari Nabi ﷺ.
Kalau pun tidak ada hadis itu, tetap saja klaim mereka terbantahkan.
Bagaimana bisa?
Bisa!
Kita katakan kepada orang-orang Syiah, “Apakah ‘Ali telah membaiat Abu Bakar dan ‘Umar sebagai khalifah?”
Kalau mereka menjawab, “Tidak! ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar dan ‘Umar!”, maka kita katakan:
“Kalian telah mengingkari kenyataan yang demikian gamblang! Riwayat yang menyebutkan bahwa ‘Ali membaiat Abu Bakar dan ‘Umar adalah mutawatir, tidak bisa didustakan. Bahkan, ulama kalian, Muhammad Kasyif Alu Al-Ghitho pun mengakuinya. Ia berkata dalam kitab Ashlus Syi’ah wa Ushuluha:
وحين رأى أن الخليفتين-أعني الخليفة الأول و الثاني- بذلا أقصى الجهد في نشر كلمة التوحيد وتجهيز الجنود وتوسيع الفتوح ولم يستأثرا ولم يستبدا، بايع
“Tatkala beliau (‘Ali) memandang bahwa kedua khalifah ini-Abu Bakar dan ‘Umar-telah mengerahkan upaya yang maksimal dalam menyebarkan kalimat tauhid, mengerahkan pasukan, meluaskan penaklukan, tidak memonopoli, dan tidak pula berbuat sewenang-wenang, maka beliau pun membaiat keduanya.”
Namun, kalau mereka berkata, “Ya, ‘Ali telah membaiat Abu Bakar dan ‘Umar”, maka kita katakan, “Kalau memang beliau membaiat keduanya, berarti wasiat kepemimpinan itu tidak ada!”
Kalau mereka bersikeras meyakini adanya wasiat itu, maka kita tanyakan kepada mereka, “Jika memang wasiat itu ada, lantas kenapa ‘Ali tidak menjalankannya?”
Kalau mereka menjawab, “Kondisi beliau ketika itu lemah, tertindas, dan tidak bisa melakukan apa-apa”, maka kita katakan, “Kalau memang beliau lemah, berarti beliau tidak pantas menjadi pemimpin. Karena, kepemimpinan itu hanya pantas bagi orang yang kuat dan mampu memikulnya.”
Namun, kalau mereka berkata, “Beliau mampu untuk menjalankan wasiat itu”, maka kita katakan, “Kalau memang beliau mampu menjalankan wasiat itu, tapi beliau tidak melakukannya, berarti beliau telah mengkhianati Nabi ﷺ! Seorang pengkhianat tidak pantas untuk menjadi pemimpin dan tidak bisa dipercaya untuk memimpin umat ini. Dan itu tidak mungkin terjadi pada sahabat Nabi yang mulia ini!”
Siberut, 7 Sya’ban 1443
Abu Yahya Adiya






