Beribadah Sampai Yakin?

Beribadah Sampai Yakin?

Abu ‘Ali Ar-Rudzbaari ditanya tentang seseorang yang mendengar musik dan berkata:

هِيَ لِي حَلَالٌ لِأَنِّي قَدْ وَصَلْتُ إِلَى دَرَجَةٍ لَا يُؤَثِّرُ فِيَّ اخْتِلَافُ الْأَحْوَالِ.

“Itu halal bagiku, karena aku sudah sampai tingkat di mana berbagai keadaan tidak berpengaruh padaku!”

Abu ‘Ali Ar-Rudzbaari berkata:

نَعَمْ، قَدْ وَصَلَ، وَلَكِنْ إِلَى سَقَرٍ

“Ya, ia telah sampai, akan tetapi sampai ke (neraka) Saqar!” (Al-I’tisham)

Sebagian kaum Sufi meyakini bahwa tokoh mereka bisa mencapai makrifat. Makrifat artinya tingkat mengenal Allah. Dan jika sudah mencapai makrifat, artinya gugurlah darinya semua aturan syariat. Segala sesuatu yang sebelumnya haram menjadi halal baginya.

Lantas, apakah mereka memiliki dalil yang mendukung keyakinan mereka itu?

Ada, yaitu firman-Nya:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang yakin (maut) kepadamu.” (QS. Al-Hijr: 99)

Mereka berkata, “Lihatlah, perintah untuk beribadah kepada Allah ini sampai datangnya yakin. Dan guru kami sudah sampai tingkat yakin, yakni makrifat!”

Padahal, Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata:

اليَقِينُ: المَوْتُ

“Yakin di sini yakni maut.” (Shahih Al-Bukhari)

Dan itu juga yang diutarakan oleh Mujahid sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari.

Dan itu dikuatkan oleh firman-Nya:

فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ

“Mereka (penduduk surga) saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa, ‘Apakah yang menyebabkan kalian masuk saqar (neraka)?’ Orang-orang yang berdosa menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang yang mengerjakan salat dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan dulu kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami juga mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami yakin (kematian).” (QS. Al-Muddatstsir: 40-47)

Yakin di sini artinya kematian.

“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang yakin (maut) kepadamu.” Ini adalah perintah dari Allah kepada nabi-Nya untuk beribadah kepada-Nya sepanjang hidupnya sampai maut menjemputnya.

Nah, kalau seorang nabi saja diperintahkan untuk beribadah di sepanjang hidupnya, maka bagaimana mungkin orang selain nabi bisa ‘libur’ dalam beribadah di masa hidupnya?

Imam Ibnu Katsir menjelaskan surat Al-Hijr ayat 99 tadi:

وَيُسْتَدَلُّ بِهَا عَلَى تَخْطِئَةِ مَنْ ذَهَبَ مِنَ الْمَلَاحِدَةِ إِلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْيَقِينِ الْمُعْرِفَةُ، فَمَتَى وَصَلَ أَحَدُهُمْ إِلَى الْمَعْرِفَةِ سَقَطَ عَنْهُ التَّكْلِيفُ عِنْدَهُمْ. وَهَذَا كُفْرٌ وَضَلَالٌ وَجَهْلٌ، فَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ، عَلَيْهِمُ السَّلَامُ، كَانُوا هُمْ وَأَصْحَابُهُمْ أَعْلَمَ النَّاسِ بِاللَّهِ وَأَعْرَفَهُمْ بِحُقُوقِهِ وَصِفَاتِهِ، وَمَا يَسْتَحِقُّ مِنَ التَّعْظِيمِ، وَكَانُوا مَعَ هَذَا أَعْبَدَ النَّاسِ وَأَكْثَرَ النَّاسِ عِبَادَةً وَمُوَاظَبَةً عَلَى فِعْلِ الْخَيْرَاتِ إِلَى حِينِ الْوَفَاةِ وَإِنَّمَا الْمُرَادُ بِالْيَقِينِ هَاهُنَا الْمَوْتُ، كَمَا قَدَّمْنَاهُ

“Ayat ini dijadikan dalil untuk menyalahkan orang-orang menyimpang yang berpendapat bahwa maksud yakin di sini adalah makrifah. Karena itu, tatkala salah seorang dari mereka sampai pada makrifat, maka gugurlah darinya beban syariat menurut mereka. Ini adalah kekafiran, kesesatan, dan kebodohan. Karena sesungguhnya para nabi dan para sahabat mereka adalah orang-orang yang paling tahu tentang Allah dan paling mengenal hak-hak-Nya dan sifat-sifat-Nya, serta apa pengagungan yang pantas bagi-Nya. Walaupun begitu, mereka adalah orang yang paling giat dan banyak beribadah serta menjaga perbuatan baik sampai wafat. Sesungguhnya maksud yakin di sini adalah maut, sebagaimana telah kami kemukakan.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)

 

Siberut, 18 Shafar 1444

Abu Yahya Adiya