‘Ali Lebih Mulia karena Memerangi Jin?

‘Ali Lebih Mulia karena Memerangi Jin?

Segolongan jin kafir mengepung Nabi ﷺ dan para sahabatnya di dekat suatu lembah, tatkala mereka hendaknya menyerang Bani Musthaliq.

Jibril pun mengabarkan itu kepada Nabi ﷺ, maka beliau pun memanggil ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu ‘Ali pun turun ke lembah tersebut kemudian memerangi para jin itu.

Itulah riwayat yang disebutkan oleh seorang Syiah untuk menunjukkan keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib.

Benarkah riwayat tersebut bisa dijadikan dalil tentang keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib?

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

عَلِيٌّ أَجَلُّ قَدْرًا مِنْ هَذَا، وَإِهْلَاكُ الْجِنِّ مَوْجُودٌ لِمَنْ هُوَ دُونَ عَلِيٍّ، لَكِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمَكْذُوبَةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَعَلَى عَلِيٍّ عِنْدَ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ بِالْحَدِيثِ، وَلَمْ يَجْرِ فِي غَزْوَةِ بَنِي الْمُصْطَلِقِ شَيْءٌ مِنْ هَذَا.

“Ali lebih mulia lagi daripada itu. Pembinasaan jin telah dilakukan oleh orang selain ‘Ali. Namun, hadis tadi termasuk hadis dusta atas nama Rasulullah ﷺ dan atas nama ‘Ali menurut orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang hadis. Dan kejadian tersebut tidak terjadi dalam perang Bani Musthaliq.” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah)

Tidak diragukan lagi bahwa ‘Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat Nabi yang mulia. Namun, untuk menetapkan kemuliaannya tidak perlu kita menggunakan riwayat dusta dan palsu, seperti riwayat tadi.

Riwayat tadi tidak bisa kita gunakan untuk menetapkan kemuliaan ‘Ali, apalagi sampai digunakan untuk melebihkan ‘Ali daripada Abu Bakar dan ‘Umar, dua orang terbaik setelah Nabi ﷺ.

Suatu hari beberapa orang Syiah bertanya kepada Imam Abu Al-Baqa An-Nablusi tentang kisah ‘Ali bin Abi Thalib memerangi jin. Mereka ingin menampakkan keunggulan ‘Ali.

Beliau pun berkata kepada mereka:

أَنْتُمْ مَعْشَرَ الشِّيعَةِ لَيْسَ لَكُمْ عَقْلٌ، أَيُّمَا أَفْضَلُ عِنْدَكُمْ: عُمَرُ أَوْ عَلِيٌّ؟

“Kalian orang-orang Syiah, tidak punya akal! Siapa yang lebih utama menurut kalian, ‘Umar atau ‘Ali?”

Mereka menjawab:

بَلْ عَلِيٌّ.

“Bahkan ‘Ali yang lebih utama.”

Imam Abu Al-Baqa An-Nablusi pun berkata:

إِذَا كَانَ الْجُمْهُورُ يَرْوُونَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ لِعُمَرَ: ” «مَا رَآكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ» ” فَإِذَا كَانَ الشَّيْطَانُ يَهْرُبُ مِنْ عُمَرَ، فَكَيْفَ يُقَاتِلُ عَلِيًّا؟ !

“Jika mayoritas umat meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau berkata kepada ‘Umar: ‘Tidaklah setan melihatmu menempuh suatu jalan kecuali ia akan mengambil jalan lain yang bukan jalan yang engkau tempuh!’. Jika setan kabur dari ‘Umar, maka bagaimana bisa ia malah memerangi ‘Ali?!”  (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah)

Artinya, kalau memang ‘Ali dianggap mulia karena telah berhadapan dengan para jin, maka bukankah ‘Umar bin Al-Khaththab lebih mulia karena para jin kabur darinya dan sama sekali tidak mau berhadapan dengannya?

Nabi ﷺ bersabda:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ

“Ikutilah dua orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan ‘Umar.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

 

Siberut, 13 Jumada Ats-Tsaniyah 1445

Abu Yahya Adiya