“Ada di hati!”
Itulah jawaban sebagian orang ketika ditanya, “Di manakah Allah?”
Lantas, apa landasan mereka menyatakan demikian?
Yaitu hadis yang berbunyi:
الْقَلْبُ بَيْتُ الرَّبِّ
“Hati adalah rumah Rabb (Allah).”
Betulkah hadis ini adalah dalil yang membenarkan keyakinan mereka?
Jawaban:
- Hadis itu tidak bisa dijadikan dalil, karena tidak ada asalnya atau palsu!
Mullah ‘Ali Al-Qari berkata:
قال السخاوي:
“As-Sakhawi berkata:
ليس له أصل في المرفوع
“Hadis itu tidak ada asalnya secara marfuk.”
وقال الزركشي:
Az-Zarkasyi berkata:
لا أصل له.
“Hadis itu tidak ada asalnya.”
وقال ابن تيمية:
Ibnu Taimiyah berkata:
هو موضوع.
“Hadis itu palsu.” (Al-Asrar Al-Marfu’ah Fii Al-Akhbar Al-Maudhu’ah)
Selain tidak ada asalnya atau palsu, hadis itu juga bertentangan dengan puluhan ayat dan hadis serta kesepakatan salaf bahwa Allah ada di atas, yakni di atas Arsy, jauh di atas langit ketujuh.
- Kalau pun hadis itu sahih, maka tidak mesti itu menunjukkan bahwa zat Allah ada di dalam hati manusia. Sama seperti ungkapan “Ka’bah adalah rumah Allah.” Apakah itu menunjukkan bahwa zat Allah ada di dalam Ka’bah? Tentu saja tidak!
Maka begitu pula ungkapan “Hati adalah rumah Allah.” Itu tidak menunjukkan bahwa zat Allah ada di dalam hati.
Jika sesuatu disandarkan kepada Allah, maka itu menunjukkan istimewanya sesuatu tersebut. Karenanya, kalau dikatakan, “Ka’bah adalah rumah Allah dan hati adalah rumah Allah”, maka itu menunjukkan bahwa keduanya memiliki kedudukan yang istimewa dan tidak biasa-biasa saja.
Allahu a’lam.
Siberut, 14 Shafar 1444
Abu Yahya Adiya






