Pelajaran Tentang Bisyr Al-Marisi

Pelajaran Tentang Bisyr Al-Marisi

Siapakah Bisyr Al-Marisi?

Imam Adz-Dzahabi berkata:

كَانَ بِشْرٌ مِنْ كِبَارِ الفُقَهَاءِ. أَخَذَ عَنِ: القَاضِي أَبِي يُوْسُفَ. وَرَوَى عَنْ: حَمَّادِ بنِ سَلَمَةَ، وَسُفْيَانَ بنِ عُيَيْنَةَ.

“Dulu Bisyr termasuk fukaha senior. Ia mengambil ilmu dari Al-Qadhi Abu Yusuf dan meriwayatkan hadis dari Hammad bin Salamah dan Sufyan bin ‘Uyainah.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Namun, ilmu kalam merusak ilmunya dan akalnya, sehingga di kemudian hari ia menjadi tokoh Jahmiyyah.

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan keadaan Bisyr Al-Marisi:

وَنَظَرَ فِي الكَلاَمِ، فَغَلَبَ عَلَيْهِ، وَانْسَلَخَ مِنَ الوَرَعِ وَالتَّقْوَى، وَجَرَّدَ القَوْلَ بِخَلْقِ القُرْآنِ، وَدَعَا إِلَيْهِ، حَتَّى كَانَ عَيْنَ الجَهْمِيَّة فِي عَصْرِهِ وَعَالِمَهُم

“Ia mempelajari ilmu kalam lalu menguasainya. Ia pun melepaskan diri dari warak dan ketakwaan, dan menyatakan pendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk serta mengajak orang lain pada pendapat tersebut, sampai ia menjadi tokoh dan ulama Jahmiyyah di masanya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Apakah ia memiliki karya tulis?

Ada. Bahkan, banyak!

Imam Adz-Dzahabi berkata:

وَصَنَّفَ كِتَاباً فِي التَّوْحِيْدِ، وَكِتَابَ (الإِرْجَاءِ) ، وَكِتَابَ (الرَّدِّ عَلَى الخَوَارِجِ) ، وَكِتَابَ (الاسْتِطَاعَةِ) ، وَ (الرَّدِّ عَلَى الرَّافِضَةِ فِي الإِمَامَةِ) ، وَكِتَابَ (كُفْرِ المُشَبِّهَةِ) ، وَكِتَابَ (المَعْرِفَةِ) ، وَكِتَابَ (الوَعِيْدِ) ، وَأَشْيَاءَ غَيْرَ ذَلِكَ فِي نِحْلَتِهِ.

“Ia menulis kitab tentang tauhid, kitab Al-Irja (Murjiah), kitab bantahan terhadap Khawarij, kitab kemampuan, kitab bantahan terhadap Syiah Rafidhah dalam hal imamah, kitab Kafirnya Musyabbihah, kitab pengetahuan, kitab ancaman, dan kitab selain itu yang mengandung ajarannya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Apakah Murjiah perlu dibantah?

Perlu.

Apakah Khawarij perlu dibantah?

Perlu.

Apakah Syiah Rafidhah perlu dibantah?

Perlu. Dan Bisyir memberikan kepada kita ‘senjata’ untuk itu. Namun…

Imam Adz-Dzahabi berkata:

بشر بن غياث المريسى.مبتدع ضال، لا ينبغي أن يروى عنه ولا كرامة.

“Bisyr bin Ghiyats Al-Marisi adalah ahli bidah dan sesat. Tidak sepantasnya meriwayatkan darinya dan tidak ada kemuliaan baginya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Manfaat dari karya tulisnya tak sebanding dengan kerusakan yang muncul akibat pemikirannya, sehingga itu dianggap tidak berharga bagi para ulama.

Apa buktinya?

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan keadaan Bisyr Al-Marisi:

فَمَقَتَهُ أَهْلُ العِلْمِ، وَكَفَّرَهُ عِدَّةٌ، وَلَمْ يُدْرِكْ جَهْمَ بنَ صَفْوَانَ، بَلْ تَلَقَّفَ مَقَالاَتِهِ مِنْ أَتْبَاعِهِ.

“Para ulama pun membencinya dan sebagian dari mereka mengafirkannya. Ia tidak pernah bertemu dengan Jahm bin Shafwan, tetapi mengambil pendapat-pendapat Jahm dari para pengikutnya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Abu Bakr Al-Atsram berkata:

سُئِلَ أَحْمَدُ عَنِ الصَّلاَةِ خَلْفَ بِشْرٍ المَرِيْسِيِّ، فَقَالَ:

“Ahmad (bin Hanbal) ditanya tentang bermakmum kepada Bisyr Al-Marisi, maka ia pun menjawab:

لاَ تُصَلِّ خَلْفَهُ.

“Jangan bermakmum kepadanya!” (Siyar A’lam An-Nubala)

Qutaibah berkata:

بِشْرٌ المَرِيْسِيُّ كَافِرٌ.

“Bisyr Al-Marisi itu kafir!” (Siyar A’lam An-Nubala)

Perkataan Bisyr sampai kepada Al-Hafizh ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimi. Maka beliau pun membantahnya dalam satu kitab khusus.

Itulah kondisi Bisyr Al-Marisi. Para ulama menilainya sangat sesat. Bahkan, sebagian mereka menganggap ia telah kafir. Namun, separah apa pun kesesatannya atau kekafirannya, ia tidak bisa disamakan dengan kafir yang asli.

Imam Adz-Dzahabi berkata:

وَمَنْ كُفِّرَ بِبِدْعَةٍ – وَإِنْ جَلَّتْ – لَيْسَ هُوَ مِثْلَ الكَافِرِ الأَصْلِيِّ، وَلاَ اليَهُوْدِيِّ، وَالمَجُوْسِيِّ، أَبَى اللهُ أَنْ يَجْعَلَ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَاليَوْمِ الآخِرِ، وَصَامَ، وَصَلَّى، وَحَجَّ، وَزَكَّى – وَإِنِ ارْتَكَبَ العَظَائِمَ، وضَلَّ، وَابِتَدَعَ – كَمَنْ عَانَدَ الرَّسُوْلَ، وَعَبَدَ الوَثَنَ، وَنَبَذَ الشَّرَائِعَ، وَكَفَرَ، وَلَكِنْ نَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِنَ البِدَعِ وَأَهْلِهَا

“Siapa yang dikafirkan karena suatu bidah-walaupun itu parah-, maka ia bukan seperti orang yang asalnya kafir, baik itu Yahudi, atau Majusi. Allah enggan menjadikan orang yang beriman kepada Allah, dan rasul-Nya, serta hari akhir, dan juga berpuasa, melaksanakan salat, haji, dan zakat-walaupun melakukan perkara besar, sesat, dan berbuat bidah-seperti orang yang menentang rasul, menyembah berhala, membuang syariat, dan mengingkarinya. Namun, kita berlepas diri kepada Allah dari bidah dan pelakunya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

 

Siberut, 9 Jumada Al-Ulaa 1444

Abu Yahya Adiya