Orang yang bahagia adalah orang yang sudah mati, tapi amalannya tidak terhenti. Ia sudah masuk kubur, tapi amalannya tidak ikut terkubur.
Siapakah itu?
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika mati seorang insan, maka terputuslah segala amalannya, kecuali dalam 3 perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Dalam hadis ini, Nabi ﷺ menyebutkan 3 amalan yang jika dilakukan oleh seseorang di masa hidupnya, maka pahalanya akan terus mengalir kepadanya, walaupun kematian sudah mendatanginya.
1. Sedekah jariah.
Siapa yang membangun masjid, maka selama masjid itu dipakai untuk ibadah dan kegiatan yang bermanfaat, pahalanya mengalir kepada orang yang membangunnya, walaupun maut telah menjemputnya.
Siapa yang menanam tanaman, maka selama tanaman itu dimakan oleh manusia atau hewan, pahalanya mengalir kepada orang yang menanamnya, walaupun ia telah menemui ajalnya.
Siapa pun yang memberikan sesuatu yang baik, maka selama sesuatu itu masih bisa dipakai dan bermanfaat bagi makhluk hidup, maka pahalanya akan terus mengalir kepadanya, walaupun ia sudah masuk ke dalam kuburnya.
Alangkah mulianya amalan ini. Sampai-sampai orang yang sudah mati pun ingin mengamalkannya kalau ia bisa hidup lagi.
Allah berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menunda (kematian) ku sampai sebentar lagi, sehingga aku bisa bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Munafiqun: 10)
2. Ilmu yang bermanfaat.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Siapa yang menunjukkan kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Ya, ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.
Makin sering ia melakukannya, maka makin banyak pahala yang mengalir kepada orang yang menunjukkannya.
Benar-benar amalan yang mulia. Sampai-sampai Imam Abdullah bin Al-Mubarak berkata:
لاَ أَعْلَمُ بَعْدَ النُّبُوَّةِ أَفْضَلَ مِنْ بَثِّ العِلْمِ
“Aku tidak mengetahui setelah kenabian sesuatu yang lebih utama dibandingkan menyebarkan ilmu!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Dan suatu hari beliau pernah ditanya:
لَوْ قِيلَ لَكَ لَمْ يَبْقَ مِنْ عُمُرِكَ إِلَّا يَوْمٌ مَا كُنْتَ صَانِعًا؟
“Seandainya dikatakan kepadamu bahwa umurmu hanya tersisa satu hari lagi, maka apa yang akan engkau lakukan?”
Beliau berkata:
كُنْتُ أُعَلِّمُ النَّاسَ
“Aku akan mengajarkan ilmu kepada orang-orang!” (Al-Madkhal Ilaa As-Sunan Al-Kubra)
3. Anak saleh yang mendoakan.
Nabi ﷺ bersabda:
إنَّ الرَّجُلُ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الجَنَّةِ فَيَقُولُ:
“Sesungguhnya seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga, sehingga ia bertanya:
أَنَّى لِي هَذَا؟
“Dari mana aku mendapatkan ini?”
فيقالُ:
Maka dijawab:
بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Ini disebabkan permohonan ampun anakmu untukmu.” (Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Kita memohon kepada Allah agar mengaruniai kita anak-anak saleh yang menjadi penyejuk hati kita di dunia dan akhirat.
Siberut, 13 Shafar 1443
Abu Yahya Adiya






