Antara Gambar dan Kubur

‘Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abu Al-Hayyaj Al Asadi:

أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ لَا تَدَعَ صُورَةً إِلَّا طَمَسْتَها وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ

“Maukah engkau kuutus untuk suatu tugas sebagaimana Rasulullah ﷺ mengutusku untuk tugas tersebut, yaitu janganlah engkau meninggalkan satu pun gambar makhluk bernyawa kecuali engkau hapus dan jangan pula engkau meninggalkan kubur yang meninggi kecuali engkau ratakan. “(HR. Muslim)

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Haramnya menggambar makhluk yang bernyawa dalam segala bentuknya dan wajibnya menghilangkan gambar itu.

 

  1. Anjuran untuk saling menasehati dan menyampaikan ilmu.

 

  1. Perintah untuk meratakan kubur yang meninggi.

Fadhalah bin ‘Ubaid berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَأْمُرُ بِتَسْوِيَتِهَا

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk meratakannya (kuburan). ” (HR. Muslim)

 

  1. Diharamkan meninggikan kubur secara berlebihan.

Kapan suatu kubur dianggap ditinggikan secara berlebihan?

Imam An-Nawawi berkata:

وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ فِيهِ أَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ الْقَبْرَ لَا يُرْفَعُ عَلَى الْأَرْضِ رَفْعًا كَثِيرًا وَلَا يُسَنَّمُ بَلْ يُرْفَعُ نَحْوَ شِبْرٍ وَيُسَطَّحُ وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَمَنْ وَافَقَهُ

Dan janganlah engkau meninggalkan kubur yang meninggi kecuali engkau ratakan dalam sabda beliau ini terkandung faidah bahwa yang sunah, kubur itu tidak ditinggikan dari tanah secara berlebihan, dan tidak dibuat seperti punuk unta, bahkan ditinggikan hanya sejengkal dan dihamparkan. Dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’I dan orang yang sependapat dengannya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Pernyataan Imam An-Nawawi itu berdasarkan hadis dalam Shahih Ibnu Hibban dari Jabir bin ‘Abdillah. Ia berkata:

وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

“Kubur Nabi ditinggikan sekitar sejengkal dari permukaan tanah.”

Artinya, lebih dari sejengkal itu dianggap berlebihan.

 

  1. Wajibnya menghancurkan bangunan apapun yang ada di atas kubur.

Imam Asy-Syafi’i berkata:

وَرَأَيْتُ الْأَئِمَّةَ بِمَكَّةَ يَأْمُرُونَ بِهَدْمِ مَا يُبْنَى

“Aku melihat para ulama di Mekah menyuruh menghancurkan apa yang dibangun di atas kubur.” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Al-Munawi berkata:

وأفتى جمع شافعيون بوجوب هدم كل بناء بالقرافة حتى قبة إمامنا الشافعي رضي الله عنه التي بناها بعض الملوك

“Kebanyakan ulama Syafi’iyyah berfatwa tentang wajibnya menghancurkan segala bangunan di Qorofah (tanah pekuburan), sekalipun kubah Imam kita sendiri yaitu Asy-Syafi’i yang dibangun oleh sebagian penguasa.” (Faidh Al-Qadir)

 

  1. Menggambar makhluk bernyawa seperti membuat bangungan di atas kubur yakni kedua-duanya merupakan sarana menuju syirik.

Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan berkata:

فهذا ما صح عن النبي ﷺ من إنكار هذه الأمور وإزالتها

“Maka inilah yang sahih dari Nabi ﷺ berupa pengingkaran terhadap beberapa perkara ini dan menghilangkannya.

  (فبدل الذين ظلموا قولا غير الذي قيل لهم) . فأكثروا التصوير واستعملوه وأكثروا البناء على القبور وزخرفوها وجعلوها أوثانا، وزعموه دينا

Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Mereka banyak membuat gambar, menggunakannya, dan banyak membuat bangunan di atas kubur, menghiasinya, dan menjadikannya berhala serta menganggap itu sebagai agama.

وهو أعظم المنكرات وأكبر السيئات, تعظيما للأموات وغلوا، وعبادة لغير الله بأنواع العبادة التي هي حق الله على عباده.

Itulah kemungkaran yang sangat besar dan kesalahan yang sangat parah. Semua itu mereka lakukan sebagai bentuk pengagungan terhadap orang-orang mati dan sikap berlebihan serta beribadah kepada selain Allah dengan berbagai macam ibadah yang merupakan hak Allah terhadap hamba-hamba-Nya.” (Kitab At-Tauhid wa Qurrah ‘Uyun Al-Muwahhidin Fi Tahqiq Da’wah Al-Anbiya wa Al-Mursalin)

Siberut, 12 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj karya Imam An-Nawawi.
  3. Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Imam Al-Munawi.
  4. Kitab At-Tauhid wa Qurrah ‘Uyun Al-Muwahhidin Fi Tahqiq Da’wah Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan.