Kaitan antara Riya dan Dajjal

Kaitan antara Riya dan Dajjal

Menjelang hari kiamat nanti akan muncul manusia yang punya kemampuan menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, menghidupkan orang mati, dan kemampuan luar biasa lainnya yang tentu saja semua itu terjadi dengan izin Allah.

Celakanya, orang itu mengaku bahwa dirinya adalah Allah, Tuhan semesta alam.

Banyak orang yang tersesat karena kebohongannya itu. Banyak orang yang jadi kafir karena kedustaannya itu.

Siapakah si pembohong yang memiliki banyak kemampuan itu?

Dialah Dajjal!

Karena dahsyatnya fitnah yang dimunculkan oleh Dajjal, wajarlah kalau banyak orang melarikan diri darinya ketika itu.

Nabi ﷺ bersabda:

ليَنْفِرَن النَّاسُ مِنَ الدَّجَّالِ فِي الجِبَالِ

“Sesungguhnya orang-orang akan melarikan diri dari gangguan Dajjal yaitu ke gunung-gunung.” (HR. Muslim)

Dan Nabi ﷺ sendiri sudah menegaskan dahsyatnya fitnah Dajjal. Nabi ﷺ bersabda:

مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ

“Sejak penciptaan Adam sampai datangnya hari kiamat, tidak ada cobaan yang lebih dahsyat daripada cobaan Dajjal.” (HR. Muslim)

Itu menunjukkan kemunculan Dajjal merupakan sesuatu yang mencemaskan. Namun, walaupun begitu, ada sesuatu yang lebih mencemaskan Nabi ﷺ dibandingkan Dajjal. Apa itu?

Nabi ﷺ bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟

“Maukah kalian kuberitahu tentang sesuatu yang menurutku lebih kukhawatirkan terhadap kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal?”

Para sahabat menjawab:

بَلَى

“Tentu.”

Kemudian Nabi ﷺ bersabda :

الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang berdiri melakukan salat, lalu ia perindah salatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya.” (HR. Ibnu Majah)

Itulah yang namanya riya. Itulah yang namanya beramal karena orang lain. Itulah yang ditakutkan Nabi ﷺ terjadi pada umatnya. Bahkan, itulah yang lebih ditakutkan oleh Nabi ﷺ dibandingkan Dajjal.

 

Riya Versus Ikhlas

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa’. Siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Jangan menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya yaitu:

أي: لا يرائي بعمله بل يعمله خالصا لوجه الله تعالى

“Jangan riya (pamer) dengan amalannya. Bahkan, hendaknya ia melakukannya dengan ikhlas karena mengharap wajah Allah.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)

Ayat ini menunjukkan wajibnya memurnikan peribadatan hanya untuk Allah.

Kita wajib beribadah hanya kepada Allah dan hanya untuk Allah.

Bukan untuk selain-Nya. Bukan untuk meraih keuntungan dunia. Bukan untuk mencari pujian manusia. Bukan karena riya!

Mengapa demikian?

Nabi ﷺ bersabda, “Allah Ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang di dalamnya ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan amal syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan:

وَالْمُرَاد أَنَّ عَمَل الْمُرَائِي بَاطِل لَا ثَوَاب فِيهِ ، وَيَأْثَم بِهِ

“Maksud hadis ini yaitu bahwa amalan orang yang berbuat riya adalah sia-sia, tidak ada baginya pahala, dan karenanya ia teranggap berbuat dosa.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Kalau demikian, orang yang tidak ikhlas dalam beramal adalah orang yang merugi. Sangat merugi.

Bagaimana tidak merugi, amalannya sia-sia. Ia tidak mendapat pahala, bahkan mendapat dosa. Bahkan terancam celaka. Ya, celaka dan hina di neraka.

 

Akibat Riya di Akhirat

Nabi ﷺ bersabda:

إنَّ أوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يوْمَ الْقِيامَةِ عَليْهِ رجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِىَ بِهِ، فَعرَّفَهُ نِعْمَتَهُ، فَعَرفَهَا قالَ:

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan nasibnya pada hari kiamat adalah seorang yang mati dalam jihad. Orang itu didatangkan, lalu Dia memperlihatkan kepadanya berbagai nikmat-Nya, maka ia pun mengakuinya. Allah berfirman:

فَمَا عَمِلْتَ فِيها؟

“Apa yang kau lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?”

قَالَ:

Orang itu menjawab:

قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ:

“Aku berperang karena-Mu hingga aku terbunuh.”

قالَ

Allah berfirman:

كَذَبْت وَلكِنَّكَ قَاتلْتَ لأنَ يُقالَ جَرِيء، فَقَدْ قِيلَ

“Engkau berdusta! Engkau sebenarnya berperang supaya dikatakan sebagai pemberani, dan engkau sudah mendapatkan itu!”

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ في النَّارِ.

Lalu orang itu dipegang, kemudian diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke dalam api neraka.

وَرَجُل تَعلَّم الْعِلّمَ وعَلَّمَهُ، وقَرَأ الْقُرْآنَ، فَأتِىَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمهُ فَعَرَفَهَا. قالَ:

Selanjutnya seorang yang belajar ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca Al-Quran. Ia didatangkan, lalu Dia memperlihatkan kepadanya berbagai nikmat-Nya, maka ia pun mengakuinya. Allah berfirman:

فمَا عمِلْتَ فِيهَا؟

“Apa yang engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?”

قالَ:

Orang itu menjawab:

تَعلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ، وَقَرَأتُ فِيكَ الْقُرآنَ

“Aku mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya, serta aku juga membaca Al-Quran karena-Mu.”

قَالَ:

Allah berfirman:

كَذَبْتَ، ولكِنَّك تَعَلَّمْت الْعِلْمَ ليقال عالم، وقَرَأتُ الْقرآن لِيقالَ: هو قَارِىءٌ، فَقَدْ قِيلَ

“Engkau berdusta! Engkau sebenarnya belajar agama supaya dikatakan sebagai orang yang berilmu, dan engkau juga membaca Al-Quran supaya dikatakan sebagai qari (pandai membaca Al-Quran) dan engkau sudah mendapatkan itu!”

ثُمَّ أمِرَ، فَسُحِبَ عَلى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ في النَّارِ

Lalu orang itu dipegang, kemudian diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke dalam api neraka.

وَرَجُلٌ وسَّعَ اللَّه عَلَيْهِ، وَأعْطَاه مِنْ أصنَافِ المَال، فَأُتِى بِهِ فَعرَّفَهُ نعمَهُ، فَعَرَفَهَا. قَالَ:

Ada pula seseorang yang telah Allah lapangkan hidupnya dan Dia telah memberikan berbagai macam harta benda kepadanya. Ia didatangkan, lalu Dia memperlihatkan kepadanya berbagai nikmat-Nya, maka ia pun mengakuinya. Allah berfirman:

فَمَا عَمِلْت فِيهَا؟

“Apa yang engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?”

قَالَ:

Orang itu menjawab:

مَا تركتُ مِن سَبيلٍ تُحِبُّ أنْ يُنْفَقَ فيهَا إلاَّ أنْفَقْتُ فِيهَا لَك.

“Tidak ada satu jalan pun yang Engkau cintai untuk berinfak di dalamnya, melainkan aku pun berinfak di dalamnya karena-Mu.”

قَالَ:

Allah berfirman:

كَذَبْتَ، ولكِنَّكَ فَعَلْتَ ليُقَالَ: هو جَوَادٌ فَقَدْ قيلَ

“Engkau berdusta! Engkau sebenarnya melakukan itu supaya dikatakan, ‘Orang itu sangat dermawan!’ dan engkau sudah mendapatkan itu!”

ثُمَّ أمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وجْهِهِ ثُمَّ ألْقِىَ في النَّارِ

Selanjutnya orang itu dipegang, kemudian diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)

 

Siberut, 26 Shafar 1441

Abu Yahya Adiya