Kalau kita letakkan jari kita ke laut lalu kita angkat, bukankah ada tetesannya?
Apakah sebanding tetesan air itu dengan air yang ada di laut?
Tentu saja tidak! Maka begitu pula perbandingan antara dunia dengan akhirat.
Nabi ﷺ bersabda:
وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ؟
“Demi Allah, tidaklah perbandingan dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke laut maka perhatikanlah apa yang dapat ia peroleh?” (HR. Muslim)
Dunia itu cuma setetes. Maka, jangan sampai kita mengorbankan seluruh waktu kita hanya demi mendapatkan dunia yang banyaknya hanya setetes, lalu meninggalkan akhirat yang banyaknya sebanyak air di lautan!
Sehebat apa pun kita di dunia ini, tetap saja akan mati.
Dan sebanyak apa pun kekayaan yang kita kumpulkan, tetap saja tidak bisa dibawa ke dalam kuburan.
Karena itu, akankah kita lalai dari kematian?
Apakah kita lupa akan kehidupan setelah kematian?
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian.” (QS. Fathir: 5)
Ya, jangan sampai dunia memperdayakan kalian dan menipu kalian. Jangan menjadi hamba dunia!
Siapakah Hamba Dunia?
Siapa yang rajin mencari dunia, dan menjadikan itu sebagai satu-satunya tujuan hidupnya, maka ia telah menjadi budak dunia.
Siapa yang sibuk mengejar dunia dan menjadikan itu sebagai puncak ambisinya, maka ia telah menjadi hamba dunia.
Dan siapa yang telah menjadi budak atau hamba dunia, maka pasti keresahan dan kegundahan selalu menghampirinya.
Nabi ﷺ bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ
“Celakalah hamba Dinar. Celakalah hamba Dirham. Celakalah hamba Khomishoh (pakaian tenunan dari sutra atau wol yang bercorak). Jika diberi, ia senang. Dan jika tidak diberi, ia meradang. Celakalah ia dan tersungkurlah ia. Bila terkena duri, ia tidak bisa mencabutnya.
طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ
Berbahagialah seorang hamba yang memacu kudanya di jalan Allah. Kusut rambutnya, dan berdebu kedua kakinya. Bila ditugaskan sebagai penjaga, ia setia berada di pos penjagaan. Dan bila ditugaskan di garis belakang, ia akan tetap setia di garis belakang. Jika minta izin (untuk menemui raja atau penguasa), ia tidak diperkenankan. Dan jika bertindak sebagai perantara, tidak diterima perantaraannya.” (HR. Bukhari)
Itulah nasib budak dunia. Itulah nasib hamba dunia. Ia didoakan celaka oleh nabi kita.
Lantas, seperti apa sifat budak dunia?
Nabi ﷺ sebutkan dalam hadis tadi:
“Jika diberi, ia senang. Dan jika tidak diberi, ia meradang.”
Artinya, kalau ia mendapatkan rezeki, ia gembira. Kalau ia tidak mendapatkan rezeki, ia murka.
Lalu kata Nabi ﷺ:
“Celakalah ia dan tersungkurlah ia. Bila terkena duri, ia tidak bisa mencabutnya.”
Artinya, kalau ia mendapatkan musibah sedikit saja, seakan-akan itu kiamat baginya. Ia tidak bisa melepaskan diri dari musibah tersebut. Ia merasa sangat sedih, resah, dan gelisah.
Wahb bin Munabbih menyebutkan bahwa Nabi Isa ﷺ pernah berkata kepada para muridnya:
أشدكم جزعا على المصيبة, أشدكم حبا للدنيا.
“Orang yang paling bersedih karena tertimpa musibah di antara kalian adalah orang yang paling cinta kepada dunia.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ
“Siapa yang menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan Dia akan menjadikan kemiskinan di depan matanya. Tidaklah ia mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.
وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
Dan siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah akan menyatukan urusannya dan memberikan kekayaan di hatinya. Dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan terpaksa.” (HR. Ibnu Majah)
Karena itu, pecinta akhirat akan selalu merasa kaya, walaupun hartanya sedikit. Sebaliknya, pecinta dunia akan selalu merasa miskin, walaupun hartanya banyak.
Melakukan Amalan Akhirat demi Meraih Dunia
Dunia itu cuma setetes air, sedangkan akhirat itu sebanyak air di lautan. Itulah perumpamaan yang sudah Nabi ﷺ kabarkan.
Maka, pantaskah kita mengorbankan air sebanyak itu hanya untuk mendapatkan air yang cuma setetes?
Dan pantaskah kita memanfaatkan air sebanyak itu untuk mendapatkan yang setetes?
Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
“Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan balasan penuh atas pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.” (QS. Huud: 15-16)
Ayat ini menunjukkan wajibnya memurnikan peribadatan hanya kepada Allah.
Kita wajib beribadah hanya kepada Allah dan hanya untuk Allah. Bukan untuk selain-Nya. Bukan untuk meraih keuntungan dunia.
Akhirat itu mahal, sedangkan dunia itu murah. Maka, bagaimana mungkin seorang mau melakukan pekerjaan yang mahal untuk mendapatkan upah yang murah!
Jangan sampai melakukan ibadah, kebajikan, dan kebaikan untuk mendapatkan dunia!
Apa contoh melakukan ibadah untuk mendapatkan dunia?
Dan apa contoh melakukan kebajikan dan kebaikan demi mendapatkan dunia?
Contohnya:
- Menjadi muazin semata-mata karena ingin mendapat honor sebagai muazin.
- Belajar agama agar menjadi mulia di tengah masyarakat.
- Berpuasa agar badan menjadi sehat.
- Menyumbang harta kepada fakir miskin agar terpilih jadi kepala daerah.
Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Semua itu namanya beramal untuk tujuan dunia. Dan semua itu bukanlah ikhlas.
Dan siapa yang melakukan ibadah, kebajikan, dan kebaikan karena tujuan dunia, maka bisa jadi ia mendapatkan apa yang ia niatkan secara sempurna, dan bisa jadi mendapatkan setengahnya, dan bisa jadi tidak mendapatkannya sama sekali.
Itu di dunia. Adapun di akhirat?
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 16)
Maka, korbankanlah duniamu untuk akhiratmu! Dan jangan engkau korbankan akhiratmu untuk duniamu!
Siberut, 28 Shafar 1442
Abu Yahya Adiya






