Apa Itu Iman?

Apa Itu Iman?

Kalau ada orang yang berpendapat bahwa Fir’aun, musuh Nabi Musa ﷺ adalah seorang yang beriman, maka bisakah pendapatnya kita terima?

Kalau ada orang yang berkata bahwa ‘Abdullah bin Ubay, gembong munafikin di zaman Nabi ﷺ adalah seorang yang beriman, maka bisakah pendapatnya kita terima?

Kalau ada orang yang berkata bahwa seorang pemabuk, pembunuh, dan pemerkosa adalah orang yang beriman dan memiliki iman yang sempurna, maka bisakah pendapatnya kita terima?

Sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ada baiknya kita simak terlebih dahulu penyebutan iman dalam Al-Quran dan Hadis.

 

Iman dalam Al-Quran

Ayat pertama:

“Dan sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Apa yang dimaksud dengan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian?

Al Barra bin ‘Azib berkata:

وَكَانَ الَّذِي مَاتَ عَلَى القِبْلَةِ قَبْلَ أَنْ تُحَوَّلَ قِبَلَ البَيْتِ رِجَالٌ قُتِلُوا، لَمْ نَدْرِ مَا نَقُولُ فِيهِمْ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ:

“Orang yang meninggal dunia pada saat kiblat belum dialihkan ke arah Ka’bah ada banyak dan mereka sudah terbunuh. Kami tidak tahu apa yang harus kami katakan tentang mereka. Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:

{وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ}

“Dan Allah tidaklah akan menyia-nyiakan iman kalian.”  (HR. Bukhari)

Imam Bukhari menjelaskan makna Allah tidaklah akan menyia-nyiakan iman kalian:

يَعْنِي صَلاَتَكُمْ عِنْدَ البَيْتِ

“Yaitu salat kalian di sisi Ka’bah.” (Shahih Bukhari)

Maksudnya yaitu salat para sahabat Nabi ke arah Baitul Maqdis di sisi Ka’bah ketika kiblat belum dialihkan ke arah Kabah.

Dalam ayat ini, Allah menyebut salat dengan iman.

 

Ayat kedua:

“Sungguh, beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salat mereka, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat.” (QS. Al-Mu’minun: 1-3)

Ayat ini menunjukkan bahwa salat, khusyuk, menjauhkan diri dari perkara yang tidak berguna, dan menunaikan zakat adalah termasuk iman.

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa amalan itu termasuk iman.

 

Iman dalam Hadis

Hadis pertama:

Nabi ﷺ bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Iman itu berjumlah tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha Illa Allah. Yang paling rendah yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu termasuk cabang dari iman.” (HR. Muslim)

Ucapan Laa ilaaha illaa Allah adalah perkataan. Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah amalan anggota badan. Sedangkan malu adalah amalan hati.

Hadis ini dengan jelas menunjukkan bahwa amalan itu termasuk iman.

 

Hadis kedua:

Nabi ﷺ bersabda kepada utusan ‘Abdul Qais:

أَتَدْرُونَ مَا الإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Tahukah kalian, apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allah saja?”

Mereka menjawab:

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

“Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

Nabi ﷺ bersabda:

شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامُ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ، وَصِيَامُ رَمَضَانَ، وَأَنْ تُعْطُوا مِنَ المَغْنَمِ الخُمُسَ

“Bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan; dan kalian berikan kepada orang yang menang dalam peperangan seperlima dari harta rampasan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini pun dengan jelas menunjukkan bahwa amalan seperti salat, zakat, dan puasa adalah termasuk iman.

Masih banyak lagi hadis yang menunjukkah bahwa amalan itu termasuk iman.

 

Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah

Iman secara bahasa artinya:

الإقرار بالشيء عن تصديق به

“Mengakui sesuatu karena membenarkannya.” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

Adapun secara istilah syariat, iman bukan cuma itu, melainkan juga perkataan dan amalan. Sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh  ayat-ayat dan hadis-hadis tadi.

Imam Asy-Syafi’i berkata:

وَكَانَ الْإِجْمَاعُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِمَّنْ أَدْرَكْنَاهُمْ أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ، لَا يُجْزِئُ وَاحِدٌ مِنَ الثَّلَاثَةِ بِالْآخَرِ

“Kesepakatan para sahabat dan tabiin setelah mereka yang kami temui yaitu bahwa iman adalah perkataan, perbuatan, dan niat. Tidak sah salah satu dari yang tiga ini tanpa yang lainnya.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

Imam Muhammad bin Al-Husain berkata:

اعْلموا رَحِمَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ أَنَّ الَّذِيَ عَلَيْهِ عُلَمَاءُ الْمُسْلِمِينَ أَنَّ الْإِيمَانَ وَاجِبٌ عَلَى جَمِيعِ الْخَلْقِ، وَهُوَ تَصْدِيقٌ بِالْقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِالْجَوَارِحِ

“Ketahuilah-semoga Allah merahmati kami dan kalian-, bahwa yang diyakini para ulama muslimin yakni bahwa iman itu wajib atas seluruh makhluk, yaitu meyakini dengan hati, mengakui dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.” (Asy-Syari’ah)

Imam Ash-Shabuni berkata:

ومن مذهب أهل الحديث: أن الإيمان قول وعمل ومعرفة

“Dan termasuk mazhab ahli hadis yaitu bahwa iman adalah perkataan, perbuatan dan pengetahuan.” (‘Aqidah As-Salaf wa Ashhaab Al-Hadits)

Imam Ibnu ‘Abdil Barr berkata:

أَجْمَعَ أَهْلُ الْفِقْهِ وَالْحَدِيثِ عَلَى أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ

“Para ulama ahli fikih dan hadis telah sepakat bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan.” (At-Tamhid)

Imam Bukhari berkata:

كَتَبْتُ عَنْ أَلْفِ نَفَرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَزِيَادَةٍ وَلَمْ أَكْتُبْ إِلَّا عَمَّنْ قَالَ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، وَلَمْ أَكْتُبْ عَمَّنْ قَالَ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ

“Aku menulis hadis dari seribu orang ulama bahkan lebih dan aku hanya menulisnya dari orang yang berpendapat bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan. Dan aku tidak menulis hadis dari orang yang berpendapat bahwa iman adalah perkataan saja.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

Imam Waki’ bin Al-Jarrah berkata:

أَهْلُ السُّنَّةِ يَقُولُونَ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ

“Ahlussunnah berpendapat bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan.” (Asy-Syariah)

Maksud para ulama yang menyatakan bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan yakni….

Perkataan di sini maksudnya perkataan hati dan lisan. Sedangkan perbuatan di sini maksudnya perbuatan hati, lisan, dan anggota badan.

Maka, berdasarkan ayat, hadis dan keterangan para ulama salaf di atas, jelaslah, bahwa iman adalah keyakinan dalam hati dan pengakuan dengan lisan serta pengamalan dengan anggota badan.

Dan itulah keyakinan golongan yang selamat dan ditolong oleh Allah yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah.

Lalu apa pendapat sekte-sekte lain tentang iman?

 

Iman Menurut Sekte-Sekte Sesat

  1. Iman itu hanyalah keyakinan dalam hati. Dan ini adalah pendapat Sekte Jahmiyyah dan Asy’ariyyah. (lihat: Al-Milal wa An-Nihal juz 1 hal 101)

Apa konsekuensi dari pendapat mereka ini?

Konsekuensinya yaitu Fir’aun dan Iblis serta kroco-kroconya adalah makhluk yang beriman!

Sebab, mereka semua mengakui dan meyakini adanya Allah, malaikat, rasul, dan perkara pokok agama lainnya, meskipun mereka menolak semua itu dengan lisan dan perbuatan mereka.

 

  1. Iman itu hanyalah ucapan dengan lisan. Dan ini adalah pendapat Sekte Karramiyyah. (lihat: Al-Fashl Fi Al-Milal wa Al-Ahwa wa An-Nihal Juz 4 hal 155)

Apa konsekuensi dari pendapat mereka ini?

Konsekuensinya yaitu ‘Abdullah bin Ubay dan orang-orang munafik yang memusuhi Islam adalah orang-orang yang beriman!

Sebab, mereka mengakui ketuhanan Allah dan kenabian Muhammad ﷺ serta perkara pokok agama lainnya dengan lisan mereka, meskipun mengingkari itu dalam hati dan menentangnya dengan tindak-tanduk mereka.

 

  1. Iman adalah keyakinan dalam hati dan ucapan dengan lisan, tanpa amalan anggota badan. Dan ini adalah pendapat sekte Murjiah. (lihat: Al-Fiqh Al-Akbar juz 1 hal 55)

Apa konsekuensi dari pendapat mereka ini?

Konsekuensinya yaitu siapa pun bebas berbuat maksiat!

Sebab, perbuatan itu tidak termasuk iman. Makanya, kemaksiatan apa pun yang dilakukan seseorang, itu tidak memengaruhi imannya!

Menurut mereka, pelaku maksiat adalah mukmin sejati, betapa pun rusak amalannya, selama ia masih meyakini dan mengakui dengan hati dan lisannya bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad adalah rasulnya dan mengakui perkara pokok agama lainnya.

 

Itulah beberapa pendapat sesat dari sekte-sekte sesat. Adapun pendapat yang selamat dari golongan yang selamat, Ahlussunnah wal Jama’ah  yakni iman adalah keyakinan dalam hati dan pengakuan dengan lisan serta pengamalan dengan anggota badan.

 

Siberut, 15 Muharram 1443

Abu Yahya Adiya