Bertambah Atau Berkurangnya Iman

Bertambah Atau Berkurangnya Iman

Apakah iman bisa bertambah dan berkurang?

Atau hanya bisa bertambah tapi tidak bisa berkurang?

Atau bahkan tidak bisa bertambah dan tidak bisa berkurang?

Sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ada baiknya kita simak terlebih dahulu ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi ﷺ yang menyinggung hal demikian.

 

Ayat-Ayat Tentang Iman

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfaal: 2)

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat itu menambah iman mereka, sedang mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124)

Ayat-ayat ini dan masih banyak lagi ayat yang serupa dengannya menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.

Mungkin ada yang ‘protes’, “Bukankah ayat-ayat itu cuma menyebutkan tentang bertambahnya iman, dan tidak menyebutkan tentang berkurangnya iman?”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata:

وَبِثُبُوتِهَا يَثْبُتُ الْمُقَابِلُ فَإِنَّ كُلَّ قَابِلٍ لِلزِّيَادَةِ قَابِلٌ لِلنُّقْصَانِ ضَرُورَةً

“Dengan tetapnya pertambahan iman, maka tetap pula pengurangannya. Karena sesungguhnya segala sesuatu yang bisa bertambah, maka mesti bisa pula berkurang.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

 

Hadis-Hadis Tentang Iman

Nabi ﷺ bersabda:

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ

“Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengatakan Laa ilaaha Illa Allah dan dalam hatinya ada kebaikan sebesar sya’irah (semacam gandum). Dan akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengatakan Laa ilaaha Illa Allah dan dalam hatinya ada kebaikan sebesar biji gandum. Dan akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengatakan Laa ilaaha Illa Allah dan dalam hatinya ada kebaikan sebesar zarah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Iman orang-orang yang dikeluarkan dari neraka di sini bertingkat-tingkat. Ini menunjukkan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Makanya Imam Bukhari menyebutkan hadis ini dalam bab:

بَابُ زِيَادَةِ الإِيمَانِ وَنُقْصَانِهِ….

“Bab: Bertambah dan berkurangnya iman.” (Shahih Bukhari)

Nabi ﷺ bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan lain-lain)

Hadis ini menunjukkan bahwa iman kaum mukminin itu bertingkat-tingkat. Ada yang imannya sempurna dan ada yang tidak. Dan itu menunjukkan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Makanya Imam Abu Daud menyebutkan hadis ini dalam bab:

بَابُ الدَّلِيلِ عَلَى زِيَادَةِ الْإِيمَانِ وَنُقْصَانِهِ

“Bab: Dalil Tentang Bertambah dan berkurangnya iman.” (Sunan Abu Daud)

2 hadis ini dan masih banyak lagi hadis yang serupa dengannya menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.

Kalau memang ayat-ayat dan hadis-hadis menyatakan demikian, maka bagaimana pula pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah tentang bertambah dan berkurangnya iman?

 

Pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah Tentang Iman

Imam Ibnu Baththal berkata:

وقد تقدم فى أول كتاب الإيمان، أن القول بزيادة الإيمان ونقصانه هو مذهب أهل السُّنَّة وجمهور الأُمة

“Dan telah berlalu di awal kitab Al-Iman bahwa pendapat bertambah dan berkurangnya iman adalah pendapat Ahlussunnah dan mayoritas umat ini.” (Syarh Shahih Al-Bukhari)

Imam Al-Lalakai berkata:

وَقَالَ سَهْلُ بْنُ الْمُتَوَكِّلِ:

“Sahl bin Al-Mutawakkil berkata:

أَدْرَكْتُ أَلْفَ أُسْتَاذٍ أَوْ أَكْثَرَ، كُلُّهُمْ يَقُولُ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنْقُصُ

“Aku mendapati 1000 ustaz bahkan lebih. Semuanya berpendapat bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.”

وَقَالَ يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ:

Ya’qub bin Sufyan berkata:

أَدْرَكْتُ أَهْلَ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ عَلَى ذَلِكَ

“Aku mendapati Ahlussunnah wal Jama’ah berpendapat demikian.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

Imam Ibnu Abi Hatim Ar-Razi berkata:

سَأَلْتُ أَبِي وَأَبَا زُرْعَةَ عَنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ , وَمَا أَدْرَكَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الْأَمْصَارِ , وَمَا يَعْتَقِدَانِ مِنْ ذَلِكَ , فَقَالَا:

“Aku bertanya kepada ayahku (Imam Abu Hatim Ar-Razi) dan Abu Zur’ah tentang pendapat Ahlussunnah dalam masalah pokok agama dan pendapat para ulama di semua kota yang mereka dapati dan juga keyakinan mereka. Maka keduanya berkata:

أَدْرَكْنَا الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الْأَمْصَارِ حِجَازًا وَعِرَاقًا وَشَامًا وَيَمَنًا فَكَانَ مِنْ مَذْهَبِهِمُ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ , يَزِيدُ وَيَنْقُصُ

“Kami mendapati para ulama di semua kota, baik itu Hijaz, Irak, Syam, maupun Yaman, di antara pendapat mereka yaitu iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

Imam  Ibnu ‘Abdilbarr berkata:

أَجْمَعَ أَهْلُ الِفقهِ وَالحَديثِ عَلَى أَن الإِيمانَ قَولٌ وَعَمَل ، وَلا عَمَلَ إِلا بنية ، والإِيمانُ عِنْدَهُمْ يَزيدُ بالطاعَة ، ويَنْقُص بالمعْصيَة

“Ulama ahli fikih dan ahli hadis telah sepakat bahwasanya iman adalah ucapan dan perbuatan. Dan tidak ada perbuatan kecuali dengan niat. Iman menurut mereka bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.” (At-Tamhid)

Imam Ash-Shabuni berkata:

ومن مذهب أهل الحديث: أن الإيمان قول وعمل ومعرفة يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

“Di antara pendapat ahli hadis yaitu bahwa iman merupakan perkataan, perbuatan dan pengenalan, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.” (‘Aqidah As-Salaf wa Ashhab Al-Hadits)

Imam Sufyan At-Tsauri berkata:

وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ , يَزِيدُ وَيَنْقُصُ , يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

“Dan iman adalah perkataan, perbuatan, dan niat. Bisa bertambah dan berkurang. Bertambah karena melakukan ketaatan dan berkurang karena melakukan kemaksiatan.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

Imam Al-Auza’i ditanya tentang iman, maka ia pun berkata:

الْإِيمَانُ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ، فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ، وَلَا يَنْقُصُ فَهُوَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ

“Iman itu bertambah dan berkurang. Siapa yang menganggap bahwa iman bertambah, tetapi tidak berkurang, maka itulah ahli bidah.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

Ya, itulah ahli bidah yang sesat dan tersesat.

 

Pendapat Sesat Tentang Iman

  1. Iman tidak bisa bertambah dan tidak bisa berkurang.

Ini adalah pendapat sekte Murjiah, Jahmiyyah, Maturidiyyah, dan mayoritas pengikut sekte Asy’ariyyah. (lihat: Al-Fiqh Al-Akbar juz 1 hal 55, Maqaalaat Islaamiyyiin juz 1 hal. 114, dan Ithaf As-Saadah Al-Muttaqin juz 2 hal. 256)

 

  1. Iman bisa bertambah, tapi tidak bisa berkurang.

Ini adalah pendapat sekte Najjariyyah, Ghassaaniyyah, Ibadhiyyah, dan sebagian pengikut sekte Asyariyyah. (lihat: Ziyadah Al-Iman wa Nuqshanuhu wa Hukmu Al-Istitsna’ Fiihi hal.293)

 

Itulah 2 pendapat sesat dari sekte-sekte sesat. Adapun pendapat yang selamat dari golongan yang selamat, Ahlussunnah wal Jama’ah yakni iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Bisa bertambah karena melakukan ketaatan, dan bisa berkurang karena melakukan kemaksiatan.

 

Siberut, 18 Muharram 1443

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Baththal.
  2. Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah karya Imam Al-Laalikai
  3. Ziyadah Al-Iman wa Nuqshanuhu wa Hukmu Al-Istitsna’ Fiihi karya Syekh Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.