- Nama-nama Allah itu tauqifi (hanya bisa diketahui berdasarkan wahyu) dan musytak (memiliki kata dasar).
Ini adalah pendapat mayoritas tokoh sekte Asy’ariyyah. Dan dalam hal ini mereka sependapat dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah.
- Nama Allah lebih dari 99 nama.
Ini adalah pendapat mayoritas tokoh sekte Asy’ariyyah. Dan dalam hal ini mereka sependapat dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah.
- Mendahulukan akal dibandingkan naqal tatkala terjadi kontradiksi.
Dr. Safar Al-Hawali berkata:
وَقد صرح الْجُوَيْنِيّ والرازي والبغدادي وَالْغَزالِيّ والآمدي والإيجي وَابْن فورك والسنوسي وشُرَّاح الْجَوْهَرَة وَسَائِر أئمتهم بِتَقْدِيم الْعقل على النَّقْل عِنْد التَّعَارُض
“Al-Juwaini, Ar-Razi, Al-Baghdadi, Al-Ghazali, Al-Amidi, Al-Iijii, Ibnu Faurak, As-Sanusi, dan para pensyarah Al-Jauharah, dan para imam mereka yang lain menegaskan bahwa akal lebih didahulukan dibandingkan naqal tatkala terjadi kontradiksi.” (Minhaj Al-Asya’irah Fii Al-‘Aqidah)
Semua nama tadi adalah tokoh Asy’ariyyah.
Di antara mereka ada yang menegaskan bahwa mengambil lahir Al-Quran dan As-Sunnah adalah asal dari kesesatan, bahkan kekafiran!
Seperti As-Sanusi, ia berkata:
أصُول الْكفْر سِتَّة
“Pokok kekafiran ada 6.”
Ia menyebutkan lima macam lalu berkata:
“سادسا: التَّمَسُّك فِي أصُول العقائد بِمُجَرَّد ظواهر الْكتاب وَالسّنة من غير عرضهَا على الْبَرَاهِين الْعَقْلِيَّة والقواطع الشَّرْعِيَّة
“Keenam: berpegang dalam pokok akidah dengan semata lahir Al-Quran dan As-Sunnah tanpa memaparkannya kepada dalil akal dan perkara syariat yang pasti.” (Syarh Al-Kubra)
Tentu saja prinsip mereka bertentangan dengan prinsip salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah.
Syekh ‘Abdurrahman bin Saleh Al-Mahmud berkata:
أول قاعدة في منهج السلف هي اقتصارهم في مصدر التلقي على الوحي: كتاب الله وسنة رسوله – صلى الله عليه وسلم – الصحيحة
“Kaidah pertama dalam manhaj salaf yaitu dalam sumber mengambil ilmu, mereka hanya berdasarkan wahyu yaitu kitab Allah dan sunnah rasul-Nya ﷺ yang sahih.” (Mauqif Ibn Taimiyyah Min Al-Asya’irah)
Lantas, bagaimana jika wahyu bertentangan dengan akal?
Syekhul Islam berkata:
فيأخذ المسلمونَ جميعَ دينهم من الاعتقادات , والعبادات , وغير ذلك من كتاب الله , وسنَّةِ رسولِهِ , وما اتفق عليه سلف الأمّة وأئمتها
“Kaum muslimin mengambil semua perkara agama mereka baik berupa keyakinan, ibadah dan selain itu dari kitab Allah dan sunnah rasul-Nya, dan yang disepakati oleh para salaf dan ulama mereka.
وليس ذلك مخالفاً للعقل الصريح؛ فإنّ ما خالف العقل الصريح فهو باطلٌ.
Dan itu tidak menyelisihi akal sehat. Karena sesungguhnya segala sesuatu yang menyelisihi akal sehat adalah batil.
وليس في الكتاب والسنَّةِ والإجماع باطل
Dan tidak ada dalam Al-Quran, As-Sunnah, dan ijmak sesuatu yang batil.
ولكن فيه ألفاظ قد لا يفهمها بعضُ النَّاس أو يفهمون منها معنى باطلاً
Namun, di dalamnya ada kalimat-kalimat yang tidak dipahami oleh sebagian orang, atau dipahami darinya makna yang batil.
فالآفةُ منهم , لا من الكتاب والسُّنَّة
Maka, kesalahan itu dari mereka, bukan dari Al-Quran dan As-Sunnah.
فإن الله تعالى قال:
Karena sesungguhnya Allah berfirman (QS. An-Nahl: 89):
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدى وَرَحْمَة وَبُشْرى لِلْمُسْلِمِين
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Majmu’ Al-Fatawa)
7. Menolak ketinggian Allah di atas Arsy-Nya.
Ini adalah pendapat mayoritas tokoh sekte Asy’ariyyah.
Sebagian mereka berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana. Ini adalah pendapat orang-orang terdahulu dari kalangan mereka.
Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa Allah tidak di atas dan tidak di bawah, Dia tidak di dalam alam, dan tidak pula di luar alam. Ini adalah pendapat orang-orang belakangan dari kalangan mereka.
Dan tentu saja pendapat mereka semua bertentangan dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah.
Imam Ash-Shabuni berkata:
وعلماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف رحمهم الله لم يختلفوا في أن الله تعالى على عرشه، وعرشه فوق سماواته
“Para ulama umat dan para imam terdahulu tidak berbeda pendapat bahwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit-Nya.” (‘Aqidatussalaf wa Ashabul hadits)
Dan pendapat mereka juga bertentangan dengan pendapat tokoh mereka sendiri, yaitu Al-Baqilani.
Al-Baqilani berkata:
فَإِن قيل
“Jika ada yang berkata:
فَهَل تَقولُونَ إِنَّه فِي كل مَكَان
“Apakah kalian berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana?”
قيل
Dijawab:
معَاذ الله بل هُوَ مستو على عَرْشه كَمَا أخبر فِي كِتَابه
“Kita berlindung kepada Allah. Bahkan, Dia tinggi di atas Arsy-Nya. Sebagaimana yang Dia kabarkan dalam kitab-Nya.
فَقَالَ
Dia berfirman:
الرَّحْمَنُ على الْعَرْش اسْتَوَى
“Yang Maha Pengasih, Yang tinggi di atas Arsy.”
وَقَالَ
Dia berfirman:
{إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ}
“Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik.”
وَقَالَ
Dia berfirman:
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أن يخسف بكم الأرض
“Sudah merasa amankah kalian, bahwa Dia yang di atas langit tidak akan membuat kalian ditelan bumi?” (Al-‘Uluw Li Al-‘Aliyy Al-Ghaffar)
Dan pendapat mereka juga bertentangan dengan tokoh yang sangat mereka puja, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari.
Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:
جملة ما عليه أهل الحديث والسنة الإقرار بالله وملائكته وكتبه ورسله وما جاء من عند الله…وأن الله سبحانه على عرشه كما قال:
“Kesimpulan dari keyakinan Ahli Hadis dan Sunnah yaitu membenarkan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan segala yang datang dari sisi Allah…dan bahwasanya Allah di atas Arsy-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
الرحمن على العرش استوى
“Yang Maha Pengasih, Yang tinggi di atas Arsy.” (Maqalaat Al-Islaamiyyin wa Ikhtilaf Al-Mushalliin)
(bersambung)
Siberut, 5 Jumada Al-Ulaa 1443
Abu Yahya Adiya






