Apa Pokok Pemikiran Asy’ariyyah?

Apa Pokok Pemikiran Asy’ariyyah?

Siapakah Asy’ariyyah?

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

والأشاعرة: ينسبون إلى أبي الحسن الأشعري-رحمه الله-وكان أبو الحسن الأشعري معتزليا, ثم من الله عليه, وعرف بطلان مذهب المعتزلة, فوقف في المسجد يوم الجمعة وأعلن براءته من مذهب المعتزلة, وخلع ثوبا عليه وقال:

“Sekte Asy’ariyyah disandarkan kepada Abul Hasan Al-Asy’ari-semoga Allah merahmatinya-. Abul Hasan Al-Asy’ari dulunya seorang Muktazilah lalu Allah beri karunia kepadanya dan mengetahui kebatilan pendapat Muktazilah. Lalu ia pun berdiri di masjid hari Jumat dan mengumumkan sikap berlepas diri dari pendapat Muktazilah dan melepaskan baju yang ia kenakan dan berkata:

خلعت مذهب المعتزلة, كما خلعت ثوبي هذا

“Aku melepaskan pendapat Muktazilah, sebagaimana aku melepaskan bajuku ini!”

لكنه صار إلى مذهب الكلابية: أتباع عبد الله بن سعيد بن كلاب.

Namun, setelahnya ia mengikuti pendapat Kullabiyyah, yaitu pengikut ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab.

وعبد الله بن سعيد بن كلاب: كان يثبت سبع صفات, وينفي ما عداها, يقول:

Dan ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab menetapkan 7 sifat bagi Allah dan meniadakan sifat selain itu. Ia beralasan:

لأن العقل لا يدل إلا على سبع صفات فقط: العلم, والقدرة, والإرادة, والحياة, والسمع, والبصر, والكلام, يقول: “هذه دل عليها العقل, أما ما لم يدل عليه العقل-عنده-فليس بثابت.

“Sebab, akal hanya menunjukkan 7 sifat saja, yaitu ilmu, kuasa, kehendak, kehidupan, pendengaran, penglihatan, dan pembicaraan. Ini adalah sifat yang ditunjukkan oleh akal. Adapun yang tidak ditunjukkan oleh akal-menurutnya-, maka itu tidaklah tetap bagi-Nya.”

ثم إن الله من على أبي الحسن الأشعري, وترك مذهب الكلابية, ورجع إلى مذهب الإمام أحمد بن حنبل, وقال:

Kemudian, Allah memberi karunia kepada Abul Hasan Al-Asy’ari dan ia meninggalkan pendapat Kullabiyyah dan rujuk kepada pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan berkata:

“أنا أقول بما يقول به إمام أهل السنة والجماعة أحمد بن حنبل: أن الله استوى على العرش, وأن له يدا, وأن له وجها”

“Aku berpendapat sebagaimana pendapat Imam Ahlussunnah wal Jama’ah Ahmad bin Hanbal bahwa Allah tinggi di atas Arsy dan bahwa Dia memiliki tangan dan wajah.”

ذكر هذا في كتابه: “الإبانة عن أصول الديانة”, وذكر هذا في كتابه الثاني: “مقالات الإسلاميين واختلاف المصلين” ذكر أنه على مذهب الإمام أحمد بن حنبل وإن بقيت عنده بعض المخالفات..

Ini ia sebutkan dalam kitabnya, Al-Ibanah ‘An Ushul Ad-Diyanah. Dan menyebutkan ini juga dalam kitabnya yang kedua, yaitu Maqalaat Islamiyyin wa Ikhtilaaf Al-Mushalliin. Ia menyebutkan bahwa dirinya di atas pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, walaupun tersisa pada dirinya sebagian pelanggaran…

ولكن أتباعه بقوا على مذهب الكلابية؛ فغالبهم لا يزالون على مذهبه الأول, ولذلك يسمون بالأشعرية

Namun, para pengikutnya tetap dalam pendapat Kullaabiyyah. Dan kebanyakan mereka masih berada dalam pendapatnya yang pertama. Karena itu, mereka dinamakan Asy’ariyyah.” (Lamhah ‘An Al-Firaq)

Lantas, apa saja pokok pemikiran sekte Asy’ariyyah?

 

Pokok Pemikiran Asy’ariyyah

  1. Iman itu hanyalah keyakinan dalam hati.

Asy-Syahrastani menyebutkan pendapat sekte Asy’ariyyah:

الإيمان هو التصديق بالجنان. وأما القول باللسان والعمل بالأركان ففروعه، فمن صدق بالقلب أي أقر بوحدانية الله تعالى، واعترف بالرسل تصديقا لهم فيما جاءوا به من عند الله تعالى بالقلب صح إيمانه حتى لو مات عليه في الحال كان مؤمنا ناجيا، ولا يخرج من الإيمان إلا بإنكار شيء من ذلك.

“Iman adalah membenarkan dengan hati. Adapun ucapan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan, maka itu adalah cabangnya. Siapa yang membenarkan dengan hati yaitu mengakui keesaan Allah dan mengakui para rasul karena membenarkan mereka dalam perkara yang mereka bawa dari sisi Allah dengan hati, maka telah sah imannya. Walaupun ia mati dalam keadaan demikian, maka ia adalah seorang mukmin yang selamat dan tidak akan keluar dari iman kecuali dengan mengingkari sedikit dari itu.” (Al-Milal wa An-Nihal)

Tentu saja itu pendapat yang bertentangan dengan pendapat Ahlussunnah wal Jamaah.

Imam Asy-Syafi’i berkata:

وَكَانَ الْإِجْمَاعُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِمَّنْ أَدْرَكْنَاهُمْ أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ، لَا يُجْزِئُ وَاحِدٌ مِنَ الثَّلَاثَةِ بِالْآخَرِ

“Kesepakatan para sahabat dan tabiin setelah mereka yang kami temui yaitu bahwa iman adalah perkataan, perbuatan, dan niat. Tidak sah salah satu dari yang tiga ini tanpa yang lainnya.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

 

  1. Al-Quran adalah ungkapan atau hikayat tentang perkataan Allah dan bukan perkataan Allah.

Syekh ‘Abdur Razzaq Al-Badr berkata:

والأشاعرة والكلابية أيضاً يقولون بخلق القرآن، ولكن لا يصرحون بذلك، ويقولون: الكلام نوعان

“Asyariyyah dan Kullabiyyah juga berpendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk. Namun, mereka tidak menyatakan itu dengan jelas. Mereka mengatakan bahwa perkataan itu ada dua macam:

كلام نفسي ليس بحرف ولا صوت وهذا يضيفونه إلى الله

Perkataan batin (kalam nafsi) tanpa huruf dan suara. Dan ini mereka sandarkan kepada Allah.

أما الكلام اللفظي الذي يشتمل على الحرف والصوت والذي هو القرآن فهو مخلوق، وهو عبارة أو حكاية عن كلام الله وليس كلام الله بل هو مخلوقٌ من جمل سائر المخلوقات

Adapun perkataan lahir (kalam lafzhi) yang mengandung huruf dan suara-yang mana itu adalah Al-Quran-, maka itu adalah makhluk (ciptaan Allah). Dan itu adalah ungkapan atau hikayat tentang perkataan Allah, dan bukan perkataan Allah. Bahkan itu adalah salah satu ciptaan Allah.

وبذلك يلتقون مع الجهمية.

Dengan itu mereka sejalan dengan Jahmiyyah.” (At-Tuhfah As-Saniyyah Syarh Manzhumah Ibn Abi Daud Al-Haiyyah)

Tentu saja pendapat Asy’ariyyah ini bertentangan dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah.

Imam ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi berkata:

ومن مذهب أهل الحق أنَّ الله عز وجل لم يزل متكلماً بكلام مسموع، مفهوم، مكتوب.

“Dan di antara pendapat orang-orang yang berpegang pada kebenaran yaitu bahwa Allah senantiasa berbicara dengan perkataan yang didengar, dipahami dan ditulis.” (‘Aqidah Al-Hafizh ‘Abdil Ghani Al-Maqdisi)

 

  1. Allah menakdirkan sesuatu tanpa ada sebab, tujuan, dan hikmah tertentu.

Al-Iijii berkata:

أن أفعاله تعالى ليست معللة بالأغراض، إليه ذهبت الأشاعرة

“Perbuatan-perbuatan-Nya tidak memiliki tujuan-tujuan. Itulah pendapat Asy’ariyyah.” (Al-Mawaqif)

Dr. Safar Al-Hawali berkata:

فمثلا عِنْدهم: من قَالَ: “إِن النَّار تحرق بطبعها أوهي عِلّة الإحراق فَهُوَ كَافِر مُشْرك؛ لِأَنَّهُ لَا فَاعل عِنْدهم إِلَّا الله مُطلقًا

“Contohnya, menurut mereka, siapa yang mengatakan bahwa api itu membakar sesuai dengan tabiatnya atau api adalah sebab terjadinya kebakaran, maka ia kafir dan musyrik. Sebab, tidak ada yang melakukan itu secara mutlak-menurut mereka-kecuali Allah!” (Manhaj Al-Asya’irah Fii Al-‘Aqidah)

Tentu saja itu pendapat yang bertentangan dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah.

Shalah Al-‘Adani berkata:

وأما نحن معاشر أهل السنة السلفيين, فنقول: إن الله جعل لها تأثيرا في الأشياء, فنثبت لها تأثيرا, لكن ليست بذاتها, ولا بصفات ذاتية فيها, بل بجعل الله لها مؤثرة

“Adapun kita Ahlussunnah yang mengikuti orang-orang terdahulu, maka kita berpendapat bahwa Allah menjadikan sebab bisa berpengaruh pada sesuatu. Karena itu, kita tetapkan bahwa sebab memiliki pengaruh. Namuh, itu bukan dengan sendirinya atau karena sifat yang ada padanya, melainkan karena Allah menjadikannya memberi pengaruh.” (Akhtha Al-Ushuliyyin Fii Al-‘Aqidah)

 

(bersambung)

 

Siberut, 3 Jumada Al-Ulaa 1443

Abu Yahya Adiya