- Teori Kasb (usaha)
Menurut sekte Asy’ariyyah, perbuatan manusia adalah takdir dan ciptaan Allah. Namun, manusia juga mempunyai kasb (kemampuan).
Apa itu kasb?
Kasb menurut mereka yaitu:
مقارنة القدرة الحادثة للفعل من غير تأثير
“Seiringnya kemampuan yang ada pada manusia dengan perbuatannya tanpa pengaruh.” (Syarh Umm Al-Barahin)
Artinya, manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu, tetapi kemampuannya tidak berpengaruh sama sekali pada perbuatannya.
Dr. Safar Al-Hawali berkata:
أَرَادَ الأشاعرة هُنَا أَن يوفقوا بَين الجبرية والقدرية فَجَاءُوا بنظرية الْكسْب وَهِي فِي مآلها جبرية خَالِصَة؛ لِأَنَّهَا تَنْفِي أَي قدرَة للْعَبد أَو تَأْثِير
“Sekte Asy’ariyyah ingin mengambil jalan tengah antara sekte Jabriyyah dan Qadariyyah, karena itu mereka mendatangkan teori kasb dan itu akhirnya berujung pada pemikiran Jabriyyah murni. Sebab, itu meniadakan apa pun kemampuan atau pengaruh hamba.” (Minhaj Al-Asya’irah Fii Al-‘Aqidah)
Tentu saja pendapat mereka bertentangan dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah yang tidak meniadakan pengaruh kemampuan manusia pada perbuatannya.
Dan teori mereka sebenarnya tidak ada hakekatnya dalam dunia nyata. Karena itu mereka sendiri kebingungan memahaminya.
Dr. Safar Al-Hawali berkata:
أما حَقِيقَتهَا النظرية الفلسفية فقد عجز الأشاعرة أنفسهم عَن فهمهما فضلا عَن إفهامها لغَيرهم
“Adapun hakikat dari kasb secara teori falsafi, maka sekte Asy’ariyyah sendiri tidak sanggup memahaminya apalagi menjadikan selain mereka memahaminya.” (Minhaj Al-Asya’irah Fii Al-‘Aqidah)
- Apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi dan Dia cintai.
Ini adalah pendapat mayoritas tokoh sekte Asy’ariyyah,
Mereka berpendapat bahwa apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa pun yang Dia kehendaki, pasti Dia cintai dan Dia sukai. Termasuk di dalamnya kekafiran, kemusyrikan, dan kerusakan lainnya.
Mereka berkata:
يريد الكفر ويحبه ويرضاه والإرادة والمحبة والرضا بمعنى واحد
“Dia menghendaki kekafiran dan mencintainya serta meridainya. Kehendak, cinta, dan rida itu bermakna sama.” (Ruh Al-Ma’ani)
Tentu saja pendapat mereka bertentangan dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Dan apa yang Dia kehendaki belum tentu Dia cintai.
Sebab, kehendak Allah itu terbagi menjadi 2:
- Kehendak-Nya yang berhubungan dengan alam (iradat kauniah)
Apa contohnya?
Allah berfirman:
وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا
“Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak.” (QS. Al-An’aam: 125)
Maksud siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat di sini yaitu siapa yang ingin Dia sesatkan. Bukan siapa yang Dia sukai untuk disesatkan. Sebab, Allah tidak suka hamba-hamba-Nya sesat.
Itu adalah kehendak-Nya yang berhubungan dengan alam (iradat kauniah) dan kehendak itu pasti terjadi. Pasti ada orang yang Dia sesatkan. Namun itu tidak Dia cintai.
- Kehendak-Nya yang berhubungan dengan syariat (iradat syar’iyyah)
Apa contohnya?
Allah berfirman:
{وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ}
“Dan Allah hendak menerima tobat kalian.” (QS. An-Nisa: 27)
Maksud Allah hendak menerima tobat kalian di sini yaitu Allah suka untuk menerima tobat kalian. Bukan Allah ingin menerima tobat kalian. Sebab, Dia tidak menerima semua tobat.
Itu adalah kehendak-Nya yang berhubungan dengan syariat (iradat syar’iyyah) dan kehendak itu tidak mesti terjadi. Ada saja tobat hamba-Nya yang tidak Dia terima.
- Hadis ahad tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah akidah.
Hadis itu bisa dibagi menjadi dua: hadis mutawatir dan hadis ahad.
Hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang yang dengan jumlah tersebut mustahil mereka bersepakat untuk berdusta menurut kebiasaan.
Sedangkan hadis ahad adalah hadis yang bukan mutawatir, termasuk hadis yang di dalam salah satu tingkatan sanadnya hanya ada satu orang.
Menurut sekte Asy’ariyyah, hadis ahad hanya bisa dijadikan dalil dalam masalah hukum, dan tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah akidah. Sebab, hadis ahad itu tidak membuat yakin, menurut mereka.
Tokoh sekte Asy’ariyyah, Al-Juwaini berkata:
وأما الأحاديث التي يتمسكون بها, فآحاد لا تفضي إلى العلم, ولو أضربنا عن جميعها كان سائغا
“Adapun hadis-hadis yang mereka pegang, maka itu adalah hadis-hadis ahad, tidak bisa mengantarkan pada ilmu. Kalau kita berpaling dari semua itu, maka itu boleh.” (Al-Irsyad)
Tentu saja pendapat mereka bertentangan dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah yang meyakini bahwa hadis ahad bisa dijadikan dalil baik dalam masalah hukum maupun akidah.
Ibnu Baththal berkata:
وانعقد الإجماع على القول بالعمل بأخبار الآحاد، وبطل قول من خرج عن ذلك من أهل البدع
“Dan telah tercapai kesepakatan para ulama akan bolehnya mengamalkan hadis-hadis ahad. Dan batallah pendapat orang yang menyelisihi itu dari kalangan ahli bidah.” (Syarh Shahih Al-Bukhari)
- Jika sifat Allah disebutkan dalam Al-Quran, dan dikhawatirkan timbul anggapan bahwa itu serupa dengan sifat makhluk, maka itu harus ditakwilkan atau diserahkan maknanya kepada Allah.
Seorang tokoh sekte Asy’ariyyah berkata dalam sebuah bait:
وكل نص أوهم التشبيها…فأوله أو فوضه ورم تنزيها
“Setiap nas yang menimbulkan anggapan keserupaan sifat-Nya dengan sifat makhluk….maka takwilkan itu atau serahkan itu kepada-Nya dan niatkanlah sebagai bentuk menyucikan diri-Nya.” (Jauharah At-Tauhid)
Tentu saja sikap mereka bertentangan dengan sikap Ahlussunnah wal Jama’ah.
Sebab, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang:
الْإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ. وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ ﷺ. مِنْ غَيْرِ: تَحْرِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِ: تَكْيِيفٍ وَلَا تَمْثِيلٍ.
“Mengimani sifat yang Allah berikan kepada diri-Nya dalam kitab-Nya dan sifat yang diberikan rasul-Nya, Muhammad ﷺ kepada diri-Nya, tanpa tahrif (menyelewengkan maknanya), dan ta’thil (menolaknya), dan tanpa takyif (menentukan hakekatnya) serta tamtsil (menyerupakannya dengan makhluk-Nya).
بَلْ يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى: {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}
Bahkan, Ahlussunnah beriman bahwa tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.” (Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)
Siberut, 22 Jumada Al-Ulaa 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Mauqif Ibnu Taimiyyah Min Al-Asya’irah karya Syekh ‘Abdurrahman bin Saleh Al-Mahmud.
- Minhaj Al-Asya’irah Fii Al-‘Aqidah karya Dr Safar Al-Hawali.
- Mausu’ah Al-Firaq Al-Muntasibah Li Al-Islam (dorar.net)
- dan lain-lain.






