Apa Pokok Pemikiran Sufi? (Bag. 4)

Apa Pokok Pemikiran Sufi? (Bag. 4)

 

  1. Wali Allah mesti memiliki karomah.

Sebagian kaum Sufi meyakini bahwa wali Allah itu mesti memiliki karomah.

Imam Al-Qurthubi berkata:

قَالَ عُلَمَاؤُنَا- رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ-:

“Para ulama kita-semoga rahmat Allah tercurah kepada mereka-berkata:

وَمَنْ أَظْهَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى يَدَيْهِ مِمَّنْ لَيْسَ بِنَبِيٍّ كَرَامَاتٍ وَخَوَارِقَ لِلْعَادَاتِ فَلَيْسَ ذَلِكَ دَالًّا عَلَى وِلَايَتِهِ، خِلَافًا لِبَعْضِ الصُّوفِيَّةِ وَالرَّافِضَةِ حَيْثُ قَالُوا:

“Siapa pun orang selain nabi yang Allah tampakkan karomah dan kejadian luar biasa lewat dirinya, maka itu tidak menunjukkan bahwa ia adalah wali Allah. Berbeda halnya dengan sebagian kaum Sufi dan Syiah Rafidhah di mana mereka berkata:

 إِنَّ ذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَلِيٌّ، إِذْ لَوْ لَمْ يَكُنْ وَلِيًّا مَا أَظْهَرَ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ مَا أَظْهَرَ

“Itu menunjukkan bahwa ia adalah wali. Sebab, kalau ia bukan wali, tentu Allah tidak akan menampakkan lewat dirinya kejadian yang telah Dia tampakkan. ” (Al-Jami’ Lii Ahkam Al-Quran)

Padahal, Allah عز وجل berfirman:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. ” (QS. Yunus: 62-63)

Ayat ini menunjukkan bahwa wali Allah adalah orang yang beriman dan bertakwa. Baik ia punya karomah maupun tidak.

Dan telah kita ketahui bahwa banyak para sahabat Nabi dan orang-orang saleh dari kalangan salaf yang tidak mempunyai karomah. Apakah mereka bukan wali Allah?

Tentu saja mereka adalah wali Allah, walaupun tidak memiliki karomah.

Adapun orang yang menampakkan kemampuan di luar kebiasaan, maka bisa saja ia seorang wali setan, bukan wali Allah. Karena, kadang Allah mengizinkan itu terjadi pada orang tadi, sebagai bentuk istidraj. Seperti yang terjadi pada tukang sihir, Dajjal, dan orang semacam mereka.

 

  1. Tidak ada jihad dengan angkat senjata

‘Abdurrahim bin Shumayil As-Sulami berkata:

ولا يعرف أن للصوفية دعوة جهادية قاتلت أعداء الله عز وجل في زمن من الأزمان.

“Dan tidak diketahui bahwa kaum Sufi mempunyai dakwah untuk berjihad memerangi musuh Allah pada satu zaman pun. “(Syarh Risalah Al-‘Ubudiyyah)

Apa contohnya?

Muhammad Al-‘Abdah dan Thariq ‘Abdul Halim berkata:

ألف أبو حامد الغزالي كتابه (إحياء علوم الدين) في فترة تغلب الصليبين على بلاد الشام، وتذكر المؤلف كل شيء من أعمال القلوب ولم يتذكر أن يكتب فصلاً عن الجهاد

“Abu Hamid Al-Ghazali menulis kitabnya Ihya ‘Ulumuddin di masa ketika pasukan salib menguasai negeri Syam. Ia ingat semua amalan hati dan tidak teringat untuk menulis satu pasal pun tentang jihad.” (Ash-Shufiyyah Nasyatuha wa Tathawwuruha)

Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana bisa mereka anti jihad, bukankah salah satu kelompok Sufi yaitu Mahdiyyah memerangi penjajah juga?! ”

‘Abdurrahim bin Shumayil As-Sulami berkata:

وقد يقول قائل: إنه من خلال التاريخ نجد أن هناك دعوات صوفية قاتلت الاستعمار في الأوقات المتأخرة، مثل المهدية مثلاً.

“Bisa jadi ada yang bertanya: dari perjalanan sejarah kita dapati bahwa di sana ada dakwah kaum Sufi yang memerangi penjajah pada waktu belakangan, seperti kelompok Mahdiyyah contohnya.

وأقول: هذا ليس لكون الصوفية لديها منهج جهادي، بل يجاهدون لمسألة سياسية

Aku katakan, ini bukan karena kaum Sufi punya minhaj jihad. Namun, mereka berperang karena urusan politik.

كما يوجد -مثلاً- أشخاص من أهل السنة، وينتسبون إلى السنة، ويتركون الجهاد في سبيل الله في زمن من الأزمان وهو منهجهم،

Sebagaimana-contohnya-ada beberapa orang Ahlussunnah dan menyandarkan diri kepada sunnah, tapi mereka meninggalkan jihad di jalan Allah pada suatu masa, padahal jihad adalah minhaj mereka.

فالصوفية الأصل عندهم ترك الجهاد، وإنما يجاهدون لحاجة من الحاجات السياسية.

Asalnya kaum Sufi memiliki prinsip meninggalkan jihad. Hanya saja, mereka berjihad karena kebutuhan politik.

إذاً: الصوفية خالفت معالم الرسالة وطريقة الرسول صلى الله عليه وسلم في حياته التي كان يعيشها عندما كان في المدينة في تلك الفترة.

Kalau begitu, kaum Sufi menyelisihi rambu-rambu risalah dan jalannya Rasul ﷺ di masa hidupnya yang beliau jalani ketika di Madinah pada masa itu. “(Syarh Risalah Al-‘Ubudiyyah)

 

  1. Wajibnya memiliki syekh (guru) dan baiat kepadanya

Kaum Sufi berkata:

من لا شيخ له فشيخه الشيطان، ومتى كان شيخه الشيطان كان في الكفر حتى يتخذ له شيخا متخلقا بأخلاق الرحمن

“Siapa yang tidak punya syekh, maka syekhnya adalah setan. Dan tatkala syekh seseorang adalah setan, berarti ia berada dalam kekafiran, sampai mau mengambil syekh yang berakhlak dengan akhlak Tuhan Yang Maha Pengasih. “(Nurul Hidayah wal Irfan fii Sirr Ar-Rabithah wa At-Tawajjuh wa Khatm Al-Khowajikaan)

Abu ‘Abdirrahman At-Tamimi berkata:

الصوفية تنقض مبايعة الحكام بمبايعة مشائخ الطرق الصوفية، وتعتبرها أعظم من مبايعة الحاكم وألزم؛ لأنها كمبايعة الرسول صلى الله عليه وسلم. قال الشيخ الفوتي الصوفي:

“Kaum Sufi membatalkan bait kepada para penguasa dengan baiat kepada syekh-syekh tarekat Sufi dan mereka menganggap itu lebih agung dan lebih wajib daripada baiat kepada penguasa. Sebab, baiat kepada syekh-syekh itu seperti baiat kepada Rasul ﷺ. Syekh Al-Futi tokoh Sufi berkata:

“الفصل الثامن عشر في إعلامهم أن الشيخ –وهو الولي الكامل- في قومه كالنبي في أمته، وأن مبايعته كمبايعة النبي –صلى الله عليه وسلم-” .

“Pasal kedelapan belas tentang pemberitahuan mereka bahwa Syekh-yaitu wali yang sempurna-di tengah kaumnya seperti Nabi di tengah umatnya dan berbaiat kepadanya seperti berbaiat kepada Nabi ﷺ.” (‘Alaqah At-Tashawwuf Bi Ats-Tsauraat As-Siyasiyyah ‘Alaa Al-Hukkaam wa Bi At-Takfiir Wa Al-Inqilaabaat)

Adapun perkataan mereka bahwa siapa yang tidak punya syekh, maka syekhnya adalah setan….

Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:

هذا غلط وهو كلام عامي وجهل فإن الإنسان إذا تعلم وتبصر في دينه، بسماع الحلقات العلمية أو بالتدبر للقرآن والاستفادة من ذلك، أو بقراءة السنة والاستفادة من ذلك، لا يقال: شيخه شيطان

“Itu adalah kesalahan, dan itu ucapan orang awam dan kebodohan. Karena sesungguhnya seseorang jika belajar dan memahami agamanya dengan mendengarkan majlis ilmu atau dengan merenungkan Al-Quran dan mengambil manfaat darinya, atau dengan membaca sunnah dan mengambil manfaat darinya, maka tidak dikatakan: gurunya adalah setan.

يقال قد اجتهد وقد فعل ما ينبغي، لكن ينبغي له أن يجتهد في قصد العلماء، وفي سؤال العلماء المعروفين بالعقيدة الطيبة؛ لأنه إذا كان لا يسأل أهل العلم، فقد يغلط كثيرا، لاعتماده على فهمه

Dikatakan bahwa ia sudah bersungguh-sungguh dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Namun, sepantasnya ia bersungguh-sungguh dalam mendatangi  para ulama, dan bertanya kepada para ulama yang dikenal baik akidah mereka. Sebab, jika ia tidak bertanya kepada para ulama, maka bisa jadi ia banyak melakukan kesalahan, karena mengandalkan pemahamannya.

وإذا حضر حلقات العلم، وحضر المواعظ فله شيوخ كثيرون، فإن صاحب الحلقة العلمية وخطبة الجمعة شيخ للسامعين، فهذا لا يقال بأنه ليس بشيخ لهم

Dan jika ia menghadiri berbagai majelis ilmu dan menghadiri berbagai khutbah, maka ia memiliki banyak guru. Karena sesungguhnya orang yang menyampaikan pelajaran dan khutbah Jum’at adalah guru bagi para pendengarnya. Maka, tidak dikatakan bahwa orang seperti itu bukan guru bagi mereka.

والذي يحضر حلقات العلم، ويسمع خطب الجمع وخطب الأعياد، والمحاضرات التي تعرض في المساجد وفي غيرها، هؤلاء كلهم شيوخ له، يستفيد منهم

Dan orang yang menghadiri majelis ilmu, dan mendengar khotbah Jumat, khotbah hari raya, dan ceramah yang disajikan di masjid dan di tempat lain, semuanya adalah gurunya yang diambil manfaat olehnya.

وإذا اتصل بأحد من علماء السنة ليسأله عما أشكل عليه كان هذا من الكمال والتمام

Dan jika ia menghubungi seorang ulama sunnah untuk menanyakan kepadanya tentang apa yang membuatnya bingung, maka itu termasuk baik dan sempurna.

ولا يقال: إنه ليس له بشيخ، وشيخه الشيطان، كل هذا ما له أصل

Dan tidak dikatakan: ia tidak memiliki guru, dan gurunya adalah setan. Semua pernyataan itu tidak ada dalilnya.” (Fatawa Nur ‘Alaa Ad-Darb)

 

Adapun keyakinan mereka akan wajibnya baiat kepada syekh tarekat mereka, maka….

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

أما بالنسبة لإعطاء البيعة لرجل فهذا لا يجوز؛ لأن البيعة للولي العام على البلد، وإذا أردنا أن نقول: إن كل إنسان له بيعة تفرقت الأمة، وأصبح البلد الذي فيه مائة حي من الأحياء له مائة إمام ومائة ولاية وهذا هو التفرق، فما دام في البلد حكم شرعي فإنه لا يجوز إعطاء البيعة لأي أحد من الناس.

“Adapun memberikan baiat kepada seseorang, maka itu tidak diperbolehkan. Karena, baiat itu untuk pemimpin umum suatu negara. Jika kita ingin mengatakan bahwa setiap orang boleh mendapatkan baiat, niscaya terpecahlah umat ini, dan negara yang di dalamnya ada seratus orang  jadi memiliki seratus pemimpin dan seratus kekuasaan. Itu adalah perpecahan. Selama di suatu negara ada hukum syariat, maka tidak boleh memberikan baiat kepada siapa pun selainnya.” (Liqa Al-Bab Al-Maftuh)

 

Siberut, 6 Jumada Ats-Tsaniyah 1443

Abu Yahya Adiya