Apa Pokok Pemikiran Sufi? (Bag.3)

Apa Pokok Pemikiran Sufi? (Bag.3)

 

  1. Mengesampingkan akal

Muhammad Al-‘Abdah dan Thariq ‘Abdul Halim berkata:

فإن الاتجاه العام لدى الصوفية هو الابتعاد عن العقل والعقلانية

“Sesungguhnya pandangan umum kaum Sufi yaitu menjauh dari rasio (akal sehat) dan rasionalitas.

وذلك لأنهم يرون أنه لا يمكن الوصول إلى الأحوال والمقامات العالية إلا بإلغاء العقل

Yang demikian itu, karena mereka beranggapan bahwa tidak mungkin sampai pada keadaan dan posisi yang tinggi kecuali dengan meniadakan akal.

ولذلك يذكرون حوادث لمشايخهم ويقررون أموراً يأباها العقل بل يكذبها

Karenanya mereka menyebutkan berbagai kejadian guru-guru mereka dan menetapkan beberapa perkara yang tidak diterima akal sehat bahkan didustakan oleh akal sehat.

ومع أن العقل شرط في معرفة العلوم وهو بمنزلة البصر في العين فإذا اتصل به نور الإيمان والقرآن كان كنور العين إذا اتصل بنور الشمس وإن إبعاد العقل وعزله تماماً هو رجوع إلى الأحوال الحيوانية

Padahal akal adalah syarat untuk mengetahui ilmu. Akal seperti penglihatan bagi mata. Jika cahaya iman dan Al-Quran bersambung dengan akal, maka seperti cahaya mata jika bersambung dengan cahaya matahari. Dan  menjauhkan akal dan menghapuskannya secara total adalah kembali kepada keadaan hewani.

ومن العلوم أن مناط التكليف في الإسلام هو العقل

Dan telah diketahui bahwa sebab pemberian beban syariat dalam Islam adalah adanya akal.

ولكن الصوفية كل شيء عندهم ممكن، وكل شيء يصدق مهما كانت غرابته، لأنه لا شيء يؤود على مشايخهم

Namun, menurut kaum Sufi, segala sesuatu mungkin terjadi dan segala sesuatu dibenarkan walau bagaimana pun anehnya. Sebab, tidak ada sesuatu yang sulit bagi guru-guru mereka.

وإذا رددت فأنت محجوب لا تفهم في مثل هذه الأمور

Dan jika engkau menolak itu, maka engkau terhalangi dari ilmu, tidak memahami perkara seperti itu.

ولذلك أصبحت قصصهم أضحوكة لأهل الأديان المنسوخة كما يقول الآلوسي

Karena itulah, kisah-kisah mereka jadi bahan tertawaan bagi pemeluk agama yang sudah terhapus, sebagaimana dikatakan oleh Al-Alusi. “(Ash-Shufiyyah Nasyatuha wa Tathawwuruha)

Apa contoh kisah-kisah mereka yang bisa menjadi bahan tertawaan bagi pemeluk agama yang lain?

Asy-Sya’rani berkata tentang tokoh Sufi, Abul ‘Abbas Ahmad Al-Mulatstsam:

وكان الناس مختلفين في عمره، فمنهم من يقول: هذا من قوم يونس

“Orang-orang berbeda pendapat tentang umurnya. Di antara mereka ada yang berkata bahwa ia termasuk kaum Yunus.

ومنهم من يقول: إنه رأى الإمام الشافعي

Dan di antara mereka ada yang berkata bahwa ia pernah melihat Imam Asy-Syafi’i.

فسئل عن ذلك، فقال

Abul ‘Abbas pun ditanya tentang itu, maka ia berkata:

عمري الآن نحو أربعمائة سنة

“Umurku sekarang sekitar 400 tahun!” (Ath-Thabaqat Al-Kubra)

Abu Hamid Al-Ghazali bercerita tentang tokoh-tokoh Sufi:

ومنهم من تأتي الكعبة إليه وتطوف هي به وتزوره

“Di antara mereka ada yang didatangi Ka’bah, dikelilingi dan dikunjungi.” (Ihya ‘Ulumuddin)

Muhammad bin ‘Abdullah Al-Khoni An-Naqsyabandi berkata:

وأما الحيوانات فلنا منهم شيوخ: ومن شيوخنا الذين اعتمدت عليهم: الفرس، فإن عبادته عجيبة، والبازي والهرة والكلب والفهد والنحلة وغيرهم: فما قدرت أن أتصف بعبادتهم على حد ما هم عليها فيها

“Adapun hewan-hewan, maka kami memiliki syekh-syekh (guru-guru) dari kalangan mereka. Di antara syekh-syekh kami yang kujadikan sandaran, yaitu kuda. Sesungguhnya ibadahnya menakjubkan. Dan begitu juga al-bazi, kucing, anjing, singa, lebah dan selain itu. Aku tidak sanggup menggambarkan ibadah mereka sesuai dengan keadaan mereka di dalamnya. ” (Al-Bahjah As-Sunniyyah fi Aadab Ath-Thariqah Al-‘Illiyyah Al-Kholidiyyah An-Naqsyabandiyyah)

Makin tidak masuk akal kisah guru-guru mereka, jika itu mereka yakini, maka makin kuat keislaman mereka, menurut anggapan mereka.

Ahmad Al-Faruqi As-Sarhand An-Naqsyabandi menukil dari sebagian muwaswasin Sufi:

ما لم يصل أحدكم إلى حد الجنون لا يصل إلى الإسلام

“Selama salah seorang dari kalian belum sampai pada batas gila, maka ia belum sampai kepada Islam! ” (Maktubaat Al-Imam Ar-Rabbani)

 

  1. Hululiyyah

Sebagian kaum Sufi meyakini hululiyyah. Hululiyyah adalah keyakinan bahwa:

حلول الله في المخلوقات كحلول الروح في الجسد.

“Allah menitis kepada makhluk-makhluk-Nya seperti halnya roh menitis kepada jasad.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)

 

  1. Ittihadiyyah

Sebagian kaum Sufi meyakini ittihadiyyah. Ittihadiyyah adalah keyakinan bahwa:

اتحاد الله تعالى –بزعمهم- مع المخلوقات كاتحاد الجسم مع الجسم.

“Allah bersatu-menurut klaim mereka-dengan makhluk-Nya seperti bersatunya jasad dengan jasad.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)

 

  1. Wihdatul wujud

Sebagian kaum Sufi meyakini wihdatul wujud. Wihdatul wujud adalah keyakinan bahwa:

أنه ليس هناك خالق ولا مخلوق، فالكل واحد

“Tidak ada yang namanya khalik (pencipta) dan tidak pula makhluk (yang dicipta), semuanya satu.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)

Apa perbedaan antara hululiyyah, ittihadiyyah, dan wihdatul wujud?

Syekh Nashir Al-‘Aql berkata:

فالذين يقولون بالحلول والاتحاد قد يقولون: لله وجود، لكن وجوده -على نحو ما قالوا- إما أن يكون حل بالمخلوقات كحلول الروح في الجسد، أو اتحد بالمخلوقات كاتحاد الأجساد بعضها مع بعض، كاتحاد الماء مع العجين بزعمهم

“Orang-orang yang mempunyai keyakinan Hululiyyah dan Ittihadiyyah bisa jadi mereka berkata bahwa Allah memiliki wujud, tetapi wujud-Nya-sebagaimana pendapat mereka-bisa jadi menitis pada makhluk-Nya seperti halnya roh menitis pada jasad, atau bersatu dengan makhluk-Nya seperti bersatunya jasad dengan jasad yang lain, yaitu seperti bersatunya air dengan adonan menurut anggapan mereka.

وأما الذين يقولون بوحدة الوجود فليس عندهم خالق ولا مخلوق، فالله هو الخلق والخلق هو الله!

Adapun orang-orang yang berpendapat wihdatul wujud, maka menurut mereka tidak ada khalik dan tidak juga makhluk. Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah!

تعالى الله عما يزعمون. وكلها أوهام وشرك من عبث الشيطان ببني آدم.

Maha Tinggi Allah dari anggapan mereka. Semua itu ilusi, syirik, dan permainan setan terhadap keturunan Adam.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)

 

  1. Membagi agama menjadi hakekat dan syariat.

Menurut kaum Sufi, syariat adalah kumpulan hukum Islam yang bersifat lahir seperti salat, zakat, puasa dan semacamnya. Itulah ilmu yang dikuasai oleh para ahli fikih dan hadis, menurut mereka.

Adapun hakikat yaitu isyarat dan rahasia di balik ibadah-ibadah tadi, maka itu hanya dikuasai oleh kaum Sufi, menurut klaim mereka.

Kaum Sufi mengklaim bahwa pengetahuan tentang hakekat adalah pemberian dari Allah yang mereka capai dengan perasaan mereka dan itu sudah menjadi bagian dari agama, terlepas dari apakah itu sesuai dengan syariat atau tidak.

Apa bukti mereka mempercayai adanya “hakekat”?

Tokoh Sufi, Ibnu ‘Ajiibah menyebutkan hadis yang sangat lemah atau palsu:

إن من العلم كهيئة المكنون لا يعرفه إلا العلماء بالله، فإذا نطقوا به لم ينكره إلا أهل الغرة بالله عز وجل

“Sesungguhnya sebagian dari ilmu ada yang seperti sesuatu yang terselubung. Itu tidak diketahui kecuali oleh orang-orang yang berilmu tentang Allah. Apabila mereka mengungkapkannya, maka tidak akan ada yang  mengingkarinya kecuali orang-orang yang lalai terhadap Allah.”

Lalu Ibnu ‘Ajiibah menerangkan hadis ini:

قال بعضهم في شرح هذا الحديث هي أسرار الله يبديها الله إلى أمناء أوليائه وسادات النبلاء من غير سماع ولا دراسة وهي من الأسرار التي لم يطلع عليها إلا الخواص فإذا سمعها العوام أنكروها

“Sebagian mereka (kaum Sufi) menjelaskan hadis ini yakni itu adalah rahasia-rahasia Allah yang Dia tampakkan kepada orang-orang terpercaya dari kalangan wali-wali-Nya dan para pemimpin yang mulia, tanpa proses mendengar dan tanpa belajar. Dan itu termasuk rahasia yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang khusus. Jika orang-orang awam mendengarnya, niscaya mereka akan mengingkarinya.” (Al-Futuhaat Al-Ilaahiyyah Fii Syarh Al-Mabahits Al-Ashliyyah)

Tentu saja kepercayaan mereka itu batil.

Imam Ibnul Jauzi berkata:

وَقَدْ فرق كثير من الصوفية بين الشريعة والحقيقة وهذا جهل من قائله لأن الشريعة كلها حقائق

“Sungguh, banyak dari kaum Sufi yang membedakan antara syariat dan hakikat. Ini adalah kebodohan dari orang yang berpendapat dengannya. Sebab, syariat itu seluruhnya adalah hakikat.” (Talbis Iblis)

 

(bersambung)

 

Siberut, 3 Jumada Ats-Tsaniyah 1443

Abu Yahya Adiya