Apa Pokok Pemikiran Sufi? (Bag. 2)

Apa Pokok Pemikiran Sufi? (Bag. 2)

 

  1. Beribadah atas dasar cinta semata.

Kaum Sufi beribadah kepada Allah atas dasar cinta semata, bukan karena mengharap surga-Nya atau takut akan neraka-Nya.

Saking ‘cinta’nya mereka, sampai-sampai Tokoh Sufi, Arsalan Ad-Dimasyqi An-Naqsyabandi berkata:

من عبد الله لأجل الجنة والنار فهو طاغوت

“Siapa yang beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan surga atau jauh dari neraka, maka ia adalah tagut! “(Al-Anwar Al-Qudsiyyah fii Manaqib An-Naqsyabandiyyah)

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

ويقول العلماء: “من عبد الله بالمحبة فقط فهو صوفي

“Para ulama mengatakan bahwa siapa yang beribadah kepada Allah karena cinta saja, maka ia seorang Sufi.

لأن الصوفية يزعمون أنهم يعبدون الله لأنهم يحبونه فقط، ويقولون:

Sebab, kaum Sufi mengaku bahwa mereka beribadah kepada Allah karena mereka mencintai-Nya saja. Mereka berkata:

لا نعبده نخاف من ناره ولا نرجو جنته، وإنما نعبده لأننا نحبه.

“Kami tidak beribadah kepada-Nya karena takut neraka-Nya dan tidak pula karena mengharap surga-Nya. Kami beribadah kepada-Nya hanya karena kami mencintai-Nya. ”

وهذا ضلال….

Dan ini adalah kesesatan….

وأهل السنّة والجماعة جمعوا بين الأمور الثلاثة -ولله الحمد-: المحبة مع الخوف والرجاء والذل والانقياد والطاعة، وبنوا على ذلك سائر أنواع التعبُّد والتقرُّب إلى الله سبحانه وتعالى.

Sedangkan Ahlussunnah wal Jama’ah menggabungkan 3 perkara tadi-segala puji bagi Allah-: cinta bersama takut dan harap, ketundukan, dan ketaatan. Mereka membangun di atas itu segala macam ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.” (I’anah Al-Mustafid Bisyarh Kitab At-Tauhid)

 

  1. Mencari ilmu syariat bukanlah perkara yang penting

Muhammad Al-‘Abdah dan Thariq ‘Abdul Halim berkata:

من أصعب الأمور على المتصوفة وخاصة المتأخرين منهم الاهتمام بالعلوم الشرعية وخاصة الحديث والفقه،

“Di antara perkara paling berat bagi kaum sufi, terutama orang-orang belakangan di antara mereka, yaitu memberikan perhatian terhadap ilmu syariat, terutama ilmu hadis dan fikih.

لأن هذه العلوم تكشف ما هم عليه من جهل وإذا دخلت في قلوب وعقول التلاميذ فلا يبقى حولهم أحد

Sebab, ilmu-ilmu ini akan menyingkap kebodohan yang ada pada mereka. Jika ilmu ini masuk ke dalam hati dan akal murid-murid mereka, maka tidak seorang pun yang tersisa di sekitar mereka.

أما المتقدمون فكان لهم عناية بالعلوم الشرعية ولكن إما أن يكون أحدهم مفصوم الشخصية فتجده عالماً في الفقه وأصوله ولكن عندما يتكلم في التصوف ينقلب إلى شخصية أخرى كأبي حامد الغزالي، وإما أن يترك العلم بعد أن يكون قد أخذ بقسط وافر منه، باعتبار أن العلم وسيلة للعمل فإذا وصل إلى العمل فلا داعي للعلم

Adapun orang-orang terdahulu di antara mereka, maka mereka memiliki perhatian terhadap ilmu-ilmu syariat. Namun, bisa jadi salah seorang dari mereka kepribadiannya terpisah. Engkau dapati ia alim dalam masalah fikih dan ushul fikih, tetapi tatkala ia berbicara tentang tasawuf, ia berpindah pada kepribadian yang lain. Seperti halnya Abu Hamid Al-Ghazali. Dan bisa jadi ia meninggalkan ilmu setelah mengambil bagian yang banyak dari ilmu, dengan alasan bahwa ilmu adalah sarana untuk beramal. Jika telah sampai pada tingkat beramal, maka tidak butuh lagi pada ilmu.

وهذه مغالطة لأن المسلم يحتاج للعلم حتى آخر لحظة من حياته

Ini adalah kesalahan. Sebab, seorang muslim membutuhkan ilmu sampai akhir hayatnya.” (Ash-Shufiyyah Nasyatuha wa Tathawwuruha)

Bukti dari perkataan keduanya yaitu….

Imam Ibnul Jauzi berkata:

قد كان جماعة منهم تشاغلوا بكتابة العلم ثم لبس عليهم إبليس وقال مَا المقصود إلا العمل ودفنوا كتبهم

“Beberapa orang dari mereka sibuk dengan menulis ilmu lalu Iblis menipu mereka dengan berkata, ‘Yang diinginkan hanyalah beramal.’ Dan mereka mengubur kitab-kitab mereka.

فقد روى أن أَحْمَد بْن أبي الحواري رمى كتبه فِي البحر وقال

Diriwayatkan bahwa Ahmad bin Abi Al-Hawari melempar kitab-kitabnya ke laut dan berkata:

نعم الدليل كنت والاشتغال بالدليل بعد الوصول محال

“Sebaik-baik dalil adalah engkau. sedangkan menyibukkan diri dengan dalil setelah sampai adalah perkara yang mustahil.”

ولقد طلب أحمد بْن أبي الحواري الحديث ثلاثين سنة فلما بلغ مِنْهُ الغاية حمل كتبه إِلَى البحر فغرقها

Ahmad bin Abi Al-Hawari telah mencari hadis selama 30 tahun. Tatkala ia mencapai tujuannya, ia bawa kitab-kitabnya ke laut lalu ia tenggelamkan semuanya.” (Talbis Iblis)

Kaum Sufi menukil ucapan tokoh mereka, Abu Sulaiman Ad-Darani:

إذا طلب الرجل الحديث، أو سافر في طلب المعاش، أو تزوج فقد ركن إلى الدنيا

“Jika seseorang mencari hadis, atau melakukan perjalanan jauh untuk mencari penghidupan, atau menikah, maka sungguh, ia telah condong kepada dunia. ” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah)

 

  1. Wajib taklid kepada guru

Muhammad Al-‘Abdah dan Thariq ‘Abdul Halim berkata:

ومن هذه القواعد المتعارفة بينهم:

“Di antara kaidah yang dikenal di antara mereka:

كن بين يدي الشيخ كالميت بين يدي المغسل.

“Jadilah engkau di hadapan syekh (guru), seperti mayit di hadapan orang yang memandikannya.”

لا تعترض فتنطرد.

“Jangan protes, niscaya engkau terusir.”

من قال لشيخه لِمَ؟ لا يفلح.

“Siapa yang berkata kepada syekhnya: ‘Kenapa?’, maka ia tidak akan beruntung.”

من لم يكن له شيخ فشيخه الشيطان.

“Siapa yang tidak punya syekh, maka syekhnya adalah setan.”

ومشت الجماهير المغفلة وراء الشيوخ يقبلون الأيدي وينحنون لهم بالتعظيم كلما رأوهم، لا يتكلمون إلا إذا تكلم الشيخ، يصدقون بكل ما يقول

Kebanyakan orang-orang pandir berjalan di belakang syekh-syekh Sufi itu. Mereka mencium tangan para syekh itu dan menunduk di hadapan mereka dengan penuh pengagungan setiap kali melihat mereka. Mereka tidak berbicara kecuali jika sang syekh berbicara. Mereka membenarkan semua yang ia ucapkan. “(Ash-Shufiyyah Nasyatuha wa Tathawwuruha)

Bukti dari perkataan keduanya yaitu…

Tokoh Sufi, Muhammad As’ad berkata:

رؤية الشيخ تثمر ما يثمره الذكر، بل هي أشد تأثيرا من الذكر

“Melihat syekh akan menghasilkan apa yang dihasilkan oleh zikir, bahkan pengaruhnya lebih besar daripada zikir.” (Nur Al-Hidayah wa Al-Irfan)

Al-Qusyairi berkata:

أَن من خالف شيخه لَمْ يبق عَلَى طريقته وانقطعت العلقة بينهما وإن جمعتهما البقعة فمن صحب شيخا من الشيوخ ثُمَّ اعترض عَلَيْهِ بقلبه فَقَدْ نقض عهد الصحبة ووجبت عَلَيْهِ التوبة

“Siapa yang menyelisihi syekhnya, maka ia tidak berada dalam jalannya dan terputuslah hubungan antara keduanya, walaupun tempat menyatukan keduanya. Siapa yang menemani salah seorang syekh lalu memprotesnya dengan hatinya, maka ia telah membatalkan ikatan persahabatan dan wajib baginya untuk bertobat.” (Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah)

Artinya, apa yang disampaikan syekh harus diterima dengan bulat tanpa perlu ditimbang dengan syariat atau akal sehat!

 

(bersambung)

 

Siberut, 1 Jumada Ats-Tsaniyah 1443

Abu Yahya Adiya