Apa Sebab Memiliki Firasat?

Apa Sebab Memiliki Firasat?

Pernahkah Anda menyaksikan anak kecil, Anda pandangi wajahnya, lalu setelah itu Anda menyimpulkan, “Sepertinya ini anak yang cerdas”?

Tahu dari mana ia cerdas?

Dan pernahkah Anda bertemu dengan seseorang, Anda pandangi wajahnya, lalu setelah itu Anda menyimpulkan, “Sepertinya ini orang yang pemalu”?

Tahu dari mana ia pemalu?

Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.” (QS. Al-Hijr: 75)

Apa maksud orang-orang yang memerhatikan tanda-tanda?

Mujahid berkata:

الْمُتَفَرِّسِينَ.

“Orang-orang yang menggunakan firasat.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)

Firasat itu ada dan benar-benar ada.

Lantas, apa saja contoh firasat?

Macam-Macam Firasat

Firasat itu terbagi menjadi 3:

  1. Firasat berdasarkan keimanan yaitu firasat yang muncul karena keimanan. Yaitu cahaya yang Allah berikan kepada hati hamba-Nya yang saleh dan beriman.
  2. Firasat berdasarkan latihan yaitu firasat yang muncul karena latihan. Yaitu melatih diri dengan mengurangi makan dan tidur, serta sering menyendiri.
  3. Firasat berdasarkan fisik yaitu firasat yang muncul karena melihat tanda fisik seseorang.

Misalnya kalau bentuk wajah seseorang bulat, berarti pembawaannya tenang dan kalem. Kalau bentuk wajah seseorang oval, berarti pembawaannya cenderung keras dan berkemauan kuat. Dan contoh lain semacamnya.

Kalau memang itulah macam-macam firasat, lantas apakah orang yang mempunyai firasat berarti punya ilmu tentang perkara gaib?

 

Punya Firasat=Tahu Perkara Gaib?

Mempunyai firasat bukan berarti mempunyai ilmu tentang perkara gaib. Sebab, firasat itu muncul dari perkara yang lahir bukan yang tersembunyi.

Ibnu ‘Abbas berkata:

ما سألني أحد عن شيء إلا عرفت أفقيه هو أو غير فقيه

“Tidaklah seseorang bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku tahu apakah ia fakih atau tidak.” (Al-Jami’ Li Ahkam Al-Quran)

Apakah Ibnu ‘Abbas tahu perkara gaib?

Tentu saja tidak.

Kita bisa saja menilai kadar keilmuan seseorang dari pertanyaannya.

Kita bisa tahu apakah ia orang yang berilmu atau tidak lewat pertanyaannya.

Nah, apakah pertanyaan adalah perkara lahir atau perkara tersembunyi?

Imam Al-Qurthubi menyebutkan percakapan Imam Asy-Syafi’i dan Muhammad bin Al-Hasan. Suatu hari keduanya sedang di Masjidil Haram. Lalu keduanya melihat seseorang di pintu masjid. Maka salah seorang dari keduanya berkata:

أَرَاهُ نَجَّارًا

“Menurutku ia seorang tukang kayu”

Yang satu lagi berkata:

بَلْ حدادا

“Bahkan, ia seorang tukang besi.”

Ada orang yang menyaksikan percakapan itu. Ia langsung mendatangi orang itu lalu bertanya kepadanya tentang profesinya:

Maka orang itu menjawab:

كُنْتُ نَجَّارًا وَأَنَا الْيَوْمَ حَدَّادٌ.

“Dulu aku tukang kayu. Dan sekarang aku tukang besi.” (Al-Jami’ Li Ahkam Al-Quran)

Apakah Imam Asy-Syafi’i dan Muhammad bin Al-Hasan tahu perkara gaib?

Tentu saja tidak.

Kita bisa saja tahu profesi seseorang lewat gaya berdiri dan berjalannya.

Nah, apakah gaya berdiri dan berjalan adalah perkara lahir atau perkara tersembunyi?

Makanya tidak boleh seseorang mengaku tahu perkara gaib dengan alasan punya firasat!

Tidak boleh ia menentukan ajal siapapun, dengan alasan firasatnya begitu!

Tidak boleh ia memastikan nasib siapapun di akhirat dengan alasan firasatnya seperti itu!

Tidak boleh ia memastikan takdir seseorang dengan alasan firasatnya begini dan begitu!

Syekhul Islam berkata:

ومن ادعى أنه يعرف مآل الخلق ومنقلبهم، وأنهم على ماذا يموتون ويختم لهم، بغير الوحي من قول الله وقول رسول صلى الله عليه وسلم فقد باء بغضب من الله

“Siapa yang mengaku tahu tempat kembali manusia dan bagaimana mereka mati serta menutup hidup mereka tanpa wahyu dari perkataan Allah dan rasul-Nya, maka ia telah kembali membawa kemurkaan Allah.” (Al-Fatwa Al-Hamawiyah)

Kalau pun seseorang memiliki firasat karena kesalehan dan keimanannya, tetap saja ia tidak bisa memastikan si fulan punya niat baik atau jahat. Ia cuma bisa menyangka dan menduga kuat.

 

Siberut, 19 Jumada Al-Ulaa 1442

Abu Yahya Adiya