Bagaimana Cara Mandi Wajib?

Ada 2 cara mandi wajib: mandi mujzi’ (yang mencukupi) dan mandi yang sesuai sunah.

1. Mandi mujzi’ (mandi yang mencukupi) yaitu mandi yang sekadar menggugurkan kewajiban mandi.

Artinya, orang yang mandi dengan cara seperti ini hanya akan mendapatkan pahala karena menunaikan kewajiban mandi saja.

Caranya yaitu dengan:

Pertama: niat.

Bagi yang ingin mandi wajib, ia harus berniat mandi junub. Sebab…

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niat..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua: membasahi seluruh tubuh.

Bagi yang mandi junub dan ingin menghilangkan junub dari dirinya, ia harus membasahi seluruh tubuhnya. Sebab…

إِنَّ تَحْتَ كُلِّ شَعَرَةٍ جَنَابَةً، فَاغْسِلُوا الشَّعَرَ، وَأَنْقُوا الْبَشَرَةَ

“Sesungguhnya di bawah setiap rambut adalah janabah, maka cucilah rambut dan bersihkanlah kulit.”  (HR. Abu Daud dan lain-lain)

Walaupun sanad hadis ini memiliki kelemahan, namun isinya sahih berdasarkan hadis sahih lain yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tatkala mandi junub, beliau mencuci seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.

Maka, kalau ada orang yang berniat mandi junub, lalu ia mandi menggunakan shower,  atau menyelam ke dalam air sehingga basahlah badannya, dari ujung kepalanya sampai ujung kakinya, berarti ia dianggap sudah mandi junub dan sudah hilanglah junub dari dirinya.

 

2. Mandi yang sesuai sunah yaitu mandi yang menggugurkan kewajiban mandi, sekaligus mengikuti sunah Nabi ﷺ dalam hal mandi.

Artinya, orang yang mandi dengan cara seperti ini, selain mendapatkan pahala karena menunaikan kewajiban mandi, ia juga mendapatkan pahala karena mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam hal mandi.

Bagaimana cara mandi jenis kedua ini?

‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ.

“Rasulullah ﷺ bila mandi junub, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya.

ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ.

Kemudian beliau menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya lalu mencuci kemaluannya.

ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ.

Kemudian beliau berwudu sebagaimana wudu untuk shalat.

ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ

Lalu beliau mengambil air dan memasukkan jari-jarinya ke akar rambut.

حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدْ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ

Hingga jika beliau memandang bahwa air sudah membasahi kepalanya, maka beliau pun mencurahkan air ke kepala beliau dengan dua cakupan tangan beliau sebanyak tiga kali.

ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ

Kemudian beliau mengguyurkan air ke seluruh badannya.

ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

Lalu mencuci kedua kakinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Siberut, 9 Shafar 1442

Abu  Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Adillah Ar-Radhiyyah Limatn Ad-Durar Al-Bahiyyah karya Muhammad Shubhi Hasan Hallaq.
  2. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah Fii Fiqh Al-Kitab wa As-Sunnah Al-Muthahharah karya Husain bin ‘Audah Al-‘Awayisyah.
  3. Subulus Salam Syarh Bulughulmaram karya Imam Ash-Shan’ani.