Bagaimana Cara Salat Khauf?

Bagaimana Cara Salat Khauf?

Dulu di awal-awal dakwah Islam, tatkala perang berkecamuk, Nabi ﷺ dan para sahabatnya mengakhirkan salat dan melaksanakan salat dengan berpencar-pencar dan tidak berjamaah. Lalu turunlah ayat:

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

“Dan apabila engkau berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan lain yang belum salat, lalu mereka melaksanakan salat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka.” (QS. An-Nisa: 102)

Ayat ini menunjukkan disyariatkannya salat khauf.

Salat khauf adalah salat yang dilaksanakan ketika muncul kekhawatiran musuh akan menyerang.

 

Apa Syarat Pelaksanaan Salat Khauf?

Salat khauf disyariatkan dengan dua syarat:

الشرط الأول: أن يكون العدو ممن يحل قتاله، كقتال الكفار، والبغاة، والمحاربين

“Syarat pertama: musuh yang dihadapi adalah orang yang boleh diperangi. Seperti perang melawan orang-orang kafir, bughot (pemberontak), dan muharib (pengganggu keamanan).”

والشرط الثاني: أن يُخاف هجومه على المسلمين حال الصلاة.

Syarat kedua: dikhawatirkan serangan musuh terhadap muslimin ketika salat.” (Al-Fiqh Al-Muyassar Fii Dhaui Al-Kitab wa As-Sunnah)

 

Cara Melaksanakan Salat Khauf

Imam Asy-Syaukani berkata:

قد صلاها رسول الله صلى الله عليه وسلم على صفات مختلفة وكلها مجزئة

“Rasulullah ﷺ telah melaksanakan salat khauf dengan berbagai cara dan seluruhnya sah.” (Ad-Durar Al-Bahiyyah Fii Al-Masail Al-Fiqhiyyah)

Ya, bukan cuma satu cara beliau melaksanakan salat khauf. Ada berbagai cara.

Al-Khathib Asy-Syirbini berkata:

جَاءَتْ فِي الْأَخْبَارِ عَلَى سِتَّةَ عَشَرَ نَوْعًا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ بَعْضُهَا، وَمُعْظَمُهَا فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُد، وَفِي ابْنِ حِبَّانَ مِنْهَا تِسْعَةٌ، فِي كُلِّ مَرَّةٍ كَانَ ﷺ يَفْعَلُ مَا هُوَ أَحْوَطُ لِلصَّلَاةِ وَأَبْلَغُ فِي الْحِرَاسَةِ

“Salat khauf disebutkan dalam hadis-hadis ada 16 cara. Dalam Shahih Muslim ada sebagiannya, sedangkan kebanyakannya ada dalam Sunan Abu Daud dan dalam Ibnu Hibban ada 9 cara. Pada masing-masing cara Nabi ﷺ melakukan apa yang lebih hati-hati untuk salat  dan lebih maksimal dalam menjaga keamanan.” (Mughni Al-Muhtaj Ilaa Marifah Maani Alfazh Al-Minhaj)

Beberapa cara melaksanakan khauf:

  1. Jika musuh berada di arah kiblat

Jabir bin Abdillah berkata:

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ صَلَاةَ الْخَوْفِ، فَصَفَّنَا صَفَّيْنِ، صَفٌّ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَالْعَدُوُّ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ

“Aku mengikuti salat khauf bersama Rasulullah ﷺ. Beliau membariskan kami untuk salat dalam dua saf. 1 saf di belakang Rasulullah ﷺ sedangkan musuh berada di antara kami dan kiblat.

فَكَبَّرَ النَّبِيُّ ﷺ، وَكَبَّرْنَا جَمِيعًا

Nabi ﷺ bertakbir, lalu kami pun turut bertakbir.

ثُمَّ رَكَعَ، وَرَكَعْنَا جَمِيعًا

Beliau rukuk, lalu kami pun rukuk.

ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، وَرَفَعْنَا جَمِيعًا

Kemudian beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, kami pun mengangkat juga kepala kami dari rukuk.

ثُمَّ انْحَدَرَ بِالسُّجُودِ، وَالصَّفُّ الَّذِي يَلِيهِ، وَقَامَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ فِي نَحْرِ الْعَدُوِّ

Kemudian beliau sujud dan juga orang-orang yang ada di saf pertama, sedangkan orang-orang yang ada di saf terakhir tetap menghadap musuh.

فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ ﷺ السُّجُودَ، وَقَامَ الصَّفُّ الَّذِي يَلِيهِ، انْحَدَرَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ بِالسُّجُودِ، وَقَامُوا

Tatkala Nabi ﷺ menyelesaikan sujud (1 rakaat) dan orang-orang yang ada di saf pertama sudah berdiri di rakaat kedua, sujudlah orang-orang yang ada saf terakhir lalu melanjutkan salat hingga berdiri di rakaat kedua.

ثُمَّ تَقَدَّمَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ، وَتَأَخَّرَ الصَّفُّ الْمُقَدَّمُ

Lalu orang-orang di saf kedua maju dan orang-orang di saf pertama mundur (tukar posisi).

ثُمَّ رَكَعَ النَّبِيُّ ﷺ وَرَكَعْنَا جَمِيعًا،

Kemudian Nabi ﷺ rukuk lalu kami pun semuanya rukuk.

ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَرَفَعْنَا جَمِيعًا،

Kemudian beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, kami pun mengangkat juga kepala kami dari rukuk.

ثُمَّ انْحَدَرَ بِالسُّجُودِ وَالصَّفُّ الَّذِي يَلِيهِ الَّذِي كَانَ مُؤَخَّرًا فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى، وَقَامَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ فِي نُحُورِ الْعَدُوِّ

Kemudian beliau sujud dengan diikuti orang-orang di saf pertama yang tadinya mereka ada di saf kedua ketika rakaat pertama, sedangkan orang-orang yang ada di saf terakhir tetap menghadap musuh.

فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ ﷺ السُّجُودَ وَالصَّفُّ الَّذِي يَلِيهِ، انْحَدَرَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ بِالسُّجُودِ، فَسَجَدُوا، ثُمَّ سَلَّمَ النَّبِيُّ ﷺ وَسَلَّمْنَا جَمِيعًا

Tatkala Nabi ﷺ menyelesaikan sujud (yaitu duduk tasyahud) dan juga orang-orang yang ada di saf pertama, maka orang-orang yang ada di saf kedua pun sujud. Lalu Nabi ﷺ pun mengucapkan salam, dan kami pun semuanya mengucapkan salam.” (HR. Muslim)

  1. Jika musuh bukan di arah kiblat.

Imam Bukhari berkata:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ، عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ، عَمَّنْ شَهِدَ ” رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ ذَاتِ الرِّقَاعِ صَلَّى صَلاَةَ الخَوْفِ:

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dari Malik dari Yazid bin Ruman dari Saleh bin Khawwat dari orang yang menyaksikan Rasulullah melaksanakan salat khauf saat perang Dzatur Riqa’.

أَنَّ طَائِفَةً صَفَّتْ مَعَهُ، وَطَائِفَةٌ وِجَاهَ العَدُوِّ

Bahwasanya sekelompok pasukan berbaris dalam saf bersama beliau, sedangkan kelompok lain berjaga-jaga menghadap musuh.

فَصَلَّى بِالَّتِي مَعَهُ رَكْعَةً

Lalu beliau melaksanakan salat satu rakaat dengan kelompok yang bersama beliau.

ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا، وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ ثُمَّ انْصَرَفُوا، فَصَفُّوا وِجَاهَ العَدُوِّ

Kemudian beliau tetap berdiri, sementara kelompok itu menyelesaikan sendiri salat mereka, setelah itu mereka pergi dan berjaga-jaga menghadap musuh (menggantikan kelompok kedua).

وَجَاءَتِ الطَّائِفَةُ الأُخْرَى فَصَلَّى بِهِمُ الرَّكْعَةَ الَّتِي بَقِيَتْ مِنْ صَلاَتِهِ ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا، وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ، ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمْ

Kemudian datang kelompok kedua yang semula berjaga-jaga. Lalu beliau melaksanakan satu rakaat salat yang tersisa dengan mereka. Kemudian beliau tetap duduk tasyahud, sedangkan mereka menyelesaikan sendiri 1 rakaat salat yang tersisa, setelah itu beliau salam bersama mereka.” (Shahih Bukhari)

Dan masih ada lagi beberapa cara untuk menunaikan salat khauf.

 

Bagaimana Cara Salat Ketika Sudah Berkecamuk Perang?

Allah berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالا أَوْ رُكْبَانًا

Jika kalian takut (ada bahaya), maka salatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan. (QS. Al-Baqarah: 239)

Ibnu Umar berkata:

فَإِنْ كَانَ خَوْفٌ هُوَ أَشَدَّ مِنْ ذَلِكَ، صَلَّوْا رِجَالًا قِيَامًا عَلَى أَقْدَامِهِمْ أَوْ رُكْبَانًا، مُسْتَقْبِلِي القِبْلَةِ أَوْ غَيْرَ مُسْتَقْبِلِيهَا

“Kalau memang ketakutan itu lebih dahsyat lagi, maka hendaknya melaksanakan salat sambil berjalan kaki atau berkendaraan. Baik menghadap kiblat atau tidak.” (HR. Bukhari)

Imam Asy-Syaukani berkata:

وإذا اشتد الخوف والتحم القتال صلاها الراكب والراجل ولو إلى غير قبلة ولو بالإيماء.

“Jika ketakutan sudah memuncak dan perang sudah berkecamuk, maka orang yang berkendaraan dan berjalan melaksanakan salat khauf, walaupun tidak menghadap kiblat, dan walaupun dengan isyarat.” (Ad-Durar Al-Bahiyyah Fii Al-Masail Al-Fiqhiyyah)

 

Siberut, 16 Dzulqadah 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Ad-Darari Al-Mudhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah karya Imam Asy-Syaukani.
  2. Mughni Al-Muhtaj Ilaa Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj karya Al-Khathib Asy-Syirbini.
  3. Al-Fiqh Al-Muyassar Fii Dhaui Al-Kitab wa As-Sunnah.