Tampak kemarahan di muka Nabi ﷺ tatkala beliau melihat ada ingus di arah kiblat masjid.
Lalu beliau ﷺ bersabda:
إن أحَدكم إِذَا قَام فِي صَلاتِه فَإنَّهُ يُنَاجِي ربَّه، وإنَّ ربَّهُ بَينَهُ وبَينَ القِبْلَةِ، فَلاَ يَبْزُقَنَّ أَحدُكُم قِبلَ القِبْلَةِ
“Sesungguhnya bila seorang dari kalian berdiri dalam salatnya, maka sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya dan sesungguhnya Tuhannya itu di antara dirinya dan kiblat. Karena itu, janganlah seorang dari kalian meludah ke arah kiblat!” (HR. Bukhari)
Sebagian orang mungkin merasa bingung setelah membaca hadis ini. Mereka berkata, “Bukankah Allah di atas langit? Terus bagaimana bisa Dia ada di hadapan orang yang sedang melaksanakan salat?”
Kebingungan mereka bisa dijawab:
- Ayat dan hadis yang menyebutkan ketinggian Allah di atas langit sangatlah banyak.
Syekhul Islam menyinggung tentang ketinggian Allah di atas langit:
وفي القرآن نحو ثلاثمائة موضع يدل على ذلك والأحاديث والآثار في ذلك أشهرُ وأظهرُ من أن تُذكرَ هنا مع الأدلة العقلية
“Dalam Al-Quran ada sekitar 300 ayat yang menunjukkan demikian. Sedangkan hadis dan atsar tentang itu lebih terkenal dan lebih tampak lagi dibandingkan itu disebutkan di sini bersama dalil-dalil akli.” (Jami’ Al-Masail)
Selain itu, para ulama salaf juga telah sepakat bahwa Allah di atas langit, yakni di atas Arsy-Nya.
Imam Ishaq bin Rahawaih (wafat tahun 238 H) berkata:
إِجْمَاعُ أَهْلِ العِلْمِ أَنَّهُ -تَعَالَى- عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى، وَيَعْلَمُ كُلَّ شَيْءٍ فِي أَسْفَلِ الأَرْضِ السَّابِعَةِ.
“Kesepakatan para ulama yaitu bahwa Allah tinggi di atas Arsy dan Dia mengetahui segala sesuatu di lapisan bumi paling bawah yakni yang ketujuh.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Imam Ad-Darimi (wafat tahun 280 H) berkata:
وَقَدِ اتَّفَقَتِ الْكَلِمَةُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْكَافِرِينَ أَنَّ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ
“Telah sependapat kaum muslimin dengan kaum kafirin bahwa Allah di atas langit.” (Naqdhu Al-Imam Abi Sa’id ‘Utsman bin Sa’id ‘Ala Al-Marisi Al-Jahmi Al-‘Anid)
Imam Ibnu Baththah (wafat 387 H) berkata:
وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، وَجَمِيعِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى عَرْشِهِ، فَوْقَ سَمَاوَاتِهِ بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ، وَعِلْمُهُ مُحِيطٌ بِجَمِيعِ خَلْقِهِ
“Kaum muslimin dari kalangan para sahabat Nabi dan tabiin serta semua ulama kaum mukminin telah sepakat bahwa Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi di atas Arsy-Nya, yakni di atas langit-Nya, jauh dari makhluk-Nya, sedangkan pengetahuan-Nya meliputi semua makhluk-Nya.” (Al-Ibanah Al-Kubra)
Karena itu, ketinggian-Nya di atas langit tidak bisa ditolak hanya karena satu dua hadis yang multitafsir (mengandung berbagai makna).
- Ayat dan hadis yang menunjukkan ketinggian Allah di atas langit tidak bertentangan dengan hadis yang menyebutkan bahwa Allah ada di hadapan orang yang melaksanakan salat.
Mengapa begitu?
Karena….
Pernahkah kita melihat matahari terbit dan tenggelam?
Tatkala kita melihatnya terbit dan tenggelam, bukankah ia ada di hadapan kita, padahal ia ada di langit?
Ya, tentu saja ia ada di langit, meskipun ia nampak di hadapan kita.
Nah, kalau itu saja mungkin terjadi pada makhluk, maka bagaimana pula dengan Sang Khalik?!
Allah ada di hadapan kita ketika kita melaksanakan salat, tapi bukan berarti Zat-Nya ada di bumi. Zat-Nya tetap di atas langit, di atas Arsy-Nya yang mulia.
Maka, yakinilah bahwa Dia ada di atas langit dan Dia juga ada di hadapan kita. Itu cukup bagi kita. Tidak perlu kita menyusahkan diri dengan bertanya, “Kenapa begitu? Bagaimana bisa begitu?”
Katakanlah:
أنا أؤمن بأنَّ الله فوقَ كلِّ شيء، وأنه قِبَلَ وَجْهِ المُصلِّي كما جاءت به النُّصوص، ولا أتعدى هذا
“Aku yakin bahwa Allah di atas segala sesuatu dan Dia juga di hadapan orang yang melaksanakan salat, sebagaimana disebutkan dalam nas-nas, dan aku tidak melampaui itu.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)
Ya, tidak melampauinya. Cukup mengimaninya. Itulah yang membuat kita tenang sebenarnya.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وهذا يريح المُسلم من كُلِّ ما يورده الشيطان وجنوده على القلب مِن الإشكالات.
“Itu membuat seorang muslim tenang dari segala kerumitan yang dilemparkan oleh setan dan bala tentaranya ke dalam hatinya.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)
Siberut, 15 Rabiul Tsani 1444
Abu Yahya Adiya






