Seorang anak berkata, “Aku sangat menghormati orang tuaku.”
Temannya bertanya kepadanya, “Di mana orang tuamu sekarang ini? Apakah di rumah?”
Anak itu menjawab, “Tidak.”
Temannya bertanya, “Oh, berarti ia sedang di luar rumah?”
Anak itu menjawab, “Tidak juga.”
Temannya bertanya, “Terus di mana orang tuamu?!”
Anak itu menjawab, “Tidak bisa ditanyakan dengan ‘di mana’!”
Bisakah pernyataan anak itu dibenarkan?
Kalau orang tuanya tidak ada di rumah dan tidak juga ada di luar rumah, itu artinya orang tuanya tidak ada!
Suatu hari, tokoh sekte Asy’ariyyah, Ibnu Faurak menemui Sultan Mahmud bin Subuktikiin untuk berdialog.
Ibnu Faurak berkata
لا يجوز أن تصف الله بالفوقية، لأنه يلزمك أن تصفه بالتحتية. لأنه من جاز أن يكون له فوق جاز أن يكون له تحت.
“Tidak boleh Anda menyatakan bahwa Allah di atas. Sebab, konsekuensinya, Anda harus menyatakan bahwa Dia di bawah. Sebab, siapa yang boleh di atas, maka boleh juga ia di bawah!”
Ibnu Faurak menyatakan demikian dalam rangka mengingkari keyakinan Sultan Mahmud bin Subuktikiin bahwa Allah di atas langit. Sebab, sekte Asy’ariyyah meyakini bahwa Allah tidak di atas dan tidak di bawah, dan Dia tidak di luar alam dan tidak pula di dalam alam.
Sultan Mahmud pun berkata:
ليس أنا وصفته بالفوقية، فتُلْزِمني أن أصفه بالتحتية، وإنما هو وَصَفَ نفسه بذلك
“Bukan aku yang menyatakan bahwa Dia di atas sehingga engkau mengharuskanku untuk menyatakan bahwa Dia juga di bawah. Yang menyatakan demikian adalah Dia sendiri.”
Ya, yang menyatakan bahwa Allah di atas Arsy adalah Dia sendiri, sebagaimana itu Dia sebutkan dalam banyak ayat Al-Quran.
Dan Sultan Mahmud juga berkata kepada Ibnu Faurak:
فرق لي بين هذا الرب الذي تصفه وبين المعدوم؟
“Terangkan untukku perbedaan antara Tuhan yang engkau gambarkan ini dengan sesuatu yang tidak ada?”
Artinya, kalau memang dikatakan bahwa Allah itu tidak ada di atas dan tidak pula di bawah, dan Dia tidak di luar alam dan tidak pula di dalam alam, itu artinya Dia tidak ada!
Itu merupakan bantahan yang cukup telak dari Sultan Mahmud. Karena itu, apa reaksi Ibnu Faurak?
Ahmad bin Muhammad Al-Bajaliy berkata:
فبهت
“Maka terdiamlah Ibnu Faurak.” (Siyar A’lam An-Nubala, Daru Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, dan Dzail Thabaqat Al-Hanabilah)
Tatkala sekte Asy’ariyyah menyatakan bahwa Allah tidak di atas dan tidak di bawah, dan Dia tidak di luar alam dan tidak pula di dalam alam, secara tidak langsung mereka sedang meniadakan Allah tanpa mereka sadari!
Siberut, 22 Rabi’ul Awwal 1444
Abu Yahya Adiya






