Bermakmum Kepada Orang Yang Tidak Dikenal

Bermakmum Kepada Orang Yang Tidak Dikenal

“Tidaklah 3 orang di sebuah tempat yang tidak dikumandangkan azan, dan tidak pula ditegakkan salat kecuali setan akan menguasai mereka.” (HR. Ahmad)

Ini menunjukkan keutamaan azan dan salat berjamaah. Sebab, keduanya termasuk syiar Islam yang lahir dan mulia.

Saking mulianya itu sampai-sampai Nabi ﷺ menganggap suatu negeri bukanlah negeri Islam, tatkala syiar itu tidak tampak di dalamnya.

Anas bin Malik berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا غَزَا قَوْمًا لَمْ يُغِرْ حَتَّى يُصْبِحَ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا أَمْسَكَ، وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ بَعْدَ مَا يُصْبِحُ

“Rasulullah ﷺ bila memerangi suatu kaum, beliau tidak melakukan serangan hingga datang waktu subuh. Bila beliau mendengar suara azan, maka beliau menahan diri. Namun, bila tidak mendengar suara azan, maka beliau melakukan serangan setelah waktu subuh.” (HR. Bukhari dan Muslim dan ini adalah redaksi Bukhari)

Syekh Dr. Nashir Al-Aql berkata:

فإذا لم يرفع الأذان فمعنى هذا أن البلد ليس له حكم دار الإسلام، وإن وجد فيه مسلمون؛ لأنه لا تظهر فيه شعائر الإسلام، فإذا ما أظهر الأذان؛ فمن الطبيعي ألا تظهر الصلاة ولا الجمعة ولا الجماعات.

“Jika azan tidak dikeraskan, itu artinya bahwa negeri itu tidak memiliki status sebagai negeri Islam, walaupun di dalamnya ada kaum muslimin. Sebab, tidak tampak padanya syiar-syiar Islam. Jika azan tidak ditampakkan, maka otomatis, salat, salat Jumat, dan salat berjamaah tidak ditampakkan.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah)

Maka, sebagai bentuk pemuliaan terhadap syiar Islam tersebut, hendaknya kita tetap melaksanakan salat berjamaah meskipun yang menjadi imam adalah orang yang tidak dikenal.

Ya, kita tidak mengenal, apakah ia ahli maksiat atau bukan. Kita tidak mengenal apakah ia ahli bidah atau tidak. Namun, berdasarkan lahirnya kita yakin bahwa ia seorang muslim.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

يَجُوزُ لِلرَّجُلِ أَنْ يُصَلِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ وَالْجُمُعَةَ وَغَيْرَ ذَلِكَ خَلْفَ مَنْ لَمْ يَعْلَمْ مِنْهُ بِدْعَةً وَلَا فِسْقًا بِاتِّفَاقِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ.

“Boleh bagi seseorang bermakmum dalam salat lima waktu, salat Jumat, dan selain itu kepada orang yang tidak ia ketahui berbuat bidah atau kefasikan, berdasarkan kesepakatan empat imam mazhab dan para ulama kaum muslimin selain mereka.

وَلَيْسَ مِنْ شَرْطِ الِائْتِمَامِ أَنْ يَعْلَمَ الْمَأْمُومُ اعْتِقَادَ إمَامِهِ وَلَا أَنْ يَمْتَحِنَهُ فَيَقُولُ:

Dan bukan termasuk syarat bermakmum yaitu makmum mengetahui keyakinan imamnya dan tidak boleh ia mengujinya dengan berkata:

مَاذَا تَعْتَقِدُ؟

“Apa yang engkau yakini?”

بَلْ يُصَلِّي خَلْفَ مَسْتُورِ الْحَالِ

Bahkan, hendaknya ia tetap bermakmum kepada orang yang tidak diketahui keadaannya.” (Majmu Al-Fatawa)

Mengapa kita tetap harus bermakmum kepada orang yang demikian?

Syekh Dr. Nashir Al-Aql berkata:

لأن الأصل في المسلمين هو السلامة

“Sebab, asalnya kaum muslimin itu selamat.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah)

Ya, selamat dari kesesatan dan penyimpangan.

Karena itu, bagaimana bisa kita langsung memberikan tuduhan yang bukan-bukan kepada seorang muslim tanpa alasan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya?!

Syekh Dr. Nashir Al-Aql berkata:

والصلاة خلف مستور الحال من المسلمين صحيحة، وتركها بدعوى جهالة حالة بدعة.

“Bermakmum kepada orang yang keadaannya tertutup dari kalangan muslimin adalah sah. Tidak bermakmum kepadanya dengan alasan tidak diketahui keadaannya adalah bidah.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah)

Ya, bidah dan pelakunya adalah ahli bidah.

Syekh Saleh Alu Asy-Syekh berkata:

وقد بَدَّعَ الأئمة الأربعة وأئمة السلف من قال

“Sungguh, para imam mazhab yang empat dan para ulama salaf telah membidahkan orang yang mengatakan:

لا أصلي خلف أحدْ إلا بعد أن أعلم عقيدته؛

“Aku tidak akan bermakmum kepada seseorang kecuali setelah aku tahu akidahnya!”

بل يُصَلَّى خلف مستور الحال، ومن لا نعلم حاله

Bahkan, hendaknya ia tetap bermakmum kepada orang yang keadaannya tertutup dan orang yang tidak kita ketahui keadaannya.

ولا نبحث ولا نمتحن الناس في عقيدتهم قبل الصلاة، ونرى هل هو موافق أم ليس بموافق، هل هو مبتدع أم ليس بمبتدع.

Kita tidak perlu mencari dan menguji orang-orang dalam akidah mereka sebelum salat dan melihat apakah ia sesuai atau tidak sesuai (dengan akidah yang benar)? Apakah ia ahli bidah atau bukan ahli bidah?

نرى ظاهر الأمر، وما دام أنَّ ظاهر الأمر السلامة فإننا نصلي خلفه دون بحث.

Kita melihat lahirnya. Selama lahirnya selamat, maka kita tetap bermakmum kepadanya tanpa mencari akidahnya.” (Ithaf As-Sail Bima Fii Ath-Thahawiyyah Min Masail)

 

Siberut, 8 Rabiul Awwal 1443

Abu Yahya Adiya