Di dunia dikutuk dan ditenggelamkan ke dalam lautan air yang dalam. Sedangkan di akhirat, dikutuk dan ditenggelamkan ke dalam lautan api Jahannam.
Itulah keadaan Fir’aun. Ia telah durhaka kepada Rasul Allah yaitu Nabi Musa. Maka apa akibatnya yang harus ia tanggung? Ia mendapatkan siksa yang berat di dunia dan di akhirat.
Allah Ta’ala mengabarkan demikian:
إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul yang menjadi saksi terhadap kalian, sebagaimana Kami telah mengutus kepada Fir’aun seorang Rasul, tetapi Fir’aun mendurhakai Rasul itu, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 15-16)
Dan Dia juga mengabarkan:
يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ بِئْسَ الرِّفْدُ الْمَرْفُودُ
“Ia berjalan di muka kaumnya di hari Kiamat lalu membawa mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang dimasuki. Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Itulah seburuk-buruk pemberian yang diberikan.” (QS. Huud: 98-99)
Durhaka Berarti Hina
Sudah merupakan sunnatullah, keputusan Allah bahwa siapa yang mendurhakai rasul-Nya, maka Dia akan menghinakannya dan merendahkannya.
Nabi ﷺ bersabda:
وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي
“Dijadikan hina dan rendahlah orang yang menyalahi perintahku.” (HR. Bukhari)
Suatu ketika ada seorang makan dengan tangan kiri di samping Nabi ﷺ, lalu beliau pun bersabda:
كُلْ بِيَمِينِكَ
“Makanlah dengan tangan kananmu!”
Namun orang itu menjawab:
لَا أَسْتَطِيعُ
“Aku tidak bisa!”
Kemudian beliau bersabda:
لَا اسْتَطَعْتَ
“Kamu benar-benar tidak akan bisa!”
Salamah bin Al-Akwa’ berkata:
مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الكِبْرُ، فَمَا رَفَعَهَا إِلى فِيهِ.
“Tidak ada yang menyebabkan orang tersebut berbuat demikian kecuali karena kesombongan. Akhirnya ia benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya!” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa mendurhakai rasul akan mengundang datangnya azab dari Allah. Dan siapa yang menentang sunnah rasul, maka siksa dari Allah akan disegerakan dan dipercepat untuknya.
‘Abdurrahman Bin Harmalah bercerita bahwa ada seorang datang kepada Sa’id Bin Al-Musayyib untuk mengucapkan selamat tinggal karena ia akan melaksanakan haji atau umrah.
Ketika itu azan baru saja dikumandangkan dan orang itu masih ada di mesjid, maka Sa’id pun berkata:
لَا تَبْرَحْ حَتَّى تُصَلِّيَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ
“Jangan engkau pergi sebelum kamu shalat, karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاءِ مِنَ الْمَسْجِدِ إِلَّا، مُنَافِقٌ، إِلَّا رَجُلٌ أَخْرَجَتْهُ حاجةُ، وَهُوَ يُرِيدُ الرَّجْعَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ
“Tidak ada yang keluar dari masjid setelah dikumandangkan azan melainkan ia seorang munafik, kecuali orang yang keluar karena ada keperluan dan ia berniat untuk kembali lagi ke masjid.”
Setelah mendengar hadis Nabi tadi apa sikap orang tadi?
Ia berkata:
إِنَّ أَصْحَابِي بِالْحَرَّةِ
“Sesungguhnya teman-temanku sudah berada di Al-Hurrah.”
Artinya orang itu tetap ingin pergi.
Sa’id pun terus mengingatkan orang itu dengan hadis Nabi tadi, tetapi ia tidak mengindahkannya. Ia tetap bersikeras mau pergi.
Akhirnya keluarlah orang itu dari mesjid dan pergi menuju Al-Hurrah, tempat teman-temannya menanti dirinya.
Baru saja Sa’id menyayangkan kepergiannya, tiba-tiba terdengar kabar bahwa orang tadi jatuh dari kendaraannya sehingga patahlah pahanya! (HR. Ad-Darimi)
Alangkah malangnya orang itu!
Hadis Nabi sudah sampai kepadanya, tapi ia nekat melanggarnya?!
Maka perhatikanlah apa akibat yang harus ditanggungnya!
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ، فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
“Jika salah seorang dari kalian bangun tidur maka janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana air hingga ia mencuci terlebih dahulu tangannya sebanyak tiga kali, karena sesungguhnya ia tidak tahu di mana tangannya berada pada waktu malam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab Bustanul ‘Arifin dari Imam Muhammad At-Taimi. Beliau berkata:
أن بعض المبتدعة حين سمع قول النبي صلى الله عليه وسلم: إذا استيقظ أحدكم من نومه… قال ذلك المبتدع على سبيل التهكم
“Ada seorang ahli bidah yang setelah mendengar hadis Nabi ﷺ tadi, berkata dengan nada mengejek:
أنا أدري أين باتت يدي في الفراش
“Aku tahu di mana tanganku bermalam yaitu di atas kasur!”
Setelah ia berkata begitu, apa yang terjadi?
Kata Imam At-Taimi:
فأصبح وقد أدخل يده في دبره إلى ذراعه
“Ketika pagi hari ternyata orang tersebut mendapati tangannya sudah masuk ke lubang duburnya hingga ke lengannya!”
Setelah menyebutkan kisah tersebut, Imam At-Taimi berkata:
فليتق المرء الاستحفاف بالسنن ومواضع التوقيف فانظر كيف وصل إليهما شؤم فعلهما
“Karena itu, hendaknya seseorang menjaga dirinya agar jangan sampai menganggap remeh sunnah-sunnah Nabi, dan perkara-perkara yang terlarang. Sebab, lihatlah, bagaimana akibat buruk dari perbuatan tersebut!”
Siberut, 22 Syawwal 1441
Abu Yahya Adiya






