Bagaimana Cara Beriman Kepada Takdir?

Bagaimana Cara Beriman Kepada Takdir?

“Mau bagaimana lagi? Saya terjun ke dunia hitam ini juga karena takdir Allah!”

“Anda sendiri yang menentukan diri Anda bisa sukses atau tidak. Masa depan Anda ada di tangan Anda!”

Bolehkan seseorang mengucapkan demikian? Dan apa hukumnya kalau seseorang mengatakan demikian?

Semua itu berhubungan dengan keimanan kepada takdir Allah. Dan seorang muslim wajib beriman kepada takdir-Nya. Namun bagaimana cara beriman kepada takdir-Nya?

 

Cara Beriman kepada Takdir-Nya

  1. Yakinilah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik di masa lalu, sekarang maupun yang akan datang. Baik secara global maupun secara terperinci.

Ya, Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk yang terjadi pada dirimu.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” (QS. Ali-‘Imran : 5)

 

  1. Yakinilah bahwa Allah telah menetapkan dalam Loh Mahfuz segala kejadian sampai terjadinya hari kiamat.

Ya, Allah telah menetapkan segala sesuatu, termasuk yang terjadi pada dirimu.

Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) yang menimpa diri kalian sendiri melainkan semuanya telah tertulis dalam kitab (Loh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Nabi ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menentukan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)

‘Ubadah bin Ash-Shamit berkata:

إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:

“Hai anakku, sungguh, engkau tidak akan bisa merasakan lezatnya iman sebelum engkau meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpa dirimu pasti tidak akan meleset darimu, dan apa yang telah ditakdirkan tidak menimpa dirimu pasti tidak akan menimpamu. Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ:

“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Allah berfirman kepadanya:

اكْتُبْ

“Tulislah!”

قَالَ:

Pena berkata:

رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟

“Hai Tuhanku, apa yang harus kutulis?”

قَالَ:

Dia berfirman:

اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat.”

Lalu kata ‘Ubadah:

يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:

“Hai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي

“Siapa yang mati dalam keadaan tidak meyakini ini, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Abu Daud)

 

  1. Yakinilah bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah. Termasuk yang terjadi pada dirimu.

Dan kalau Allah menghendaki sesuatu, pasti ia terjadi, dan tidak ada yang bisa menghalangi-Nya, termasuk dirimu.

Allah berfirman:

وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Dia (Allah) melakukan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Allah berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

 

  1. Yakinilah bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah ciptaan-Nya, baik itu zatnya, sifatnya, maupun gerakannya, termasuk dirimu.

Allah berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً

“Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (QS. Al-Furqan: 2)

Allah berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan.” (QS. Ash-Shaffaat: 96)

 

Penyimpangan Dalam Hal Iman kepada Takdir

  1. Meyakini bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan manusia dan tidak mengetahui apa pun yang dilakukan manusia kecuali setelah itu terjadi.

Itu adalah kekafiran. Sebab, itu merupakan pendustaan terhadap ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Dan ini adalah keyakinan kelompok Qadariyyah ekstrem.

 

  1. Meyakini bahwa perbuatan manusia terjadi murni karena kehendaknya semata, bukan karena kehendak dan ciptaan Allah.

Ini juga kekafiran. Sebab, itu merupakan pendustaan terhadap ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan terjadi karena kehendak-Nya. Dan ini adalah keyakinan kelompok Qadariyyah.

 

  1. Meyakini bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu termasuk perbuatan manusia dan ia tidak memiliki kehendak sama sekali.
    Ini adalah kesesatan dan ini adalah keyakinan kelompok Jabriyyah.

Mereka berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan keinginan, dan hanyalah disetir dan tidak mempunyai pilihan, laksana pohon yang tertiup angin.

Mereka tidak membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi dengan kemauannya dan perbuatan yang terjadi tanpa kemauannya.

Tentu saja mereka ini keliru dan sesat. Karena, sudah jelas menurut agama, akal dan adat kebiasaan bahwa manusia dapat membedakan antara perbuatan yang dikehendaki dan perbuatan yang terpaksa.

  1. Bermaksiat dengan alasan takdir.

Sebagian orang melakukan maksiat dan tidak mau meninggalkannya dengan alasan itu sudah ditakdirkan Allah. Itu merupakan kesalahan yang fatal.

Syekh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Aba Bathin berkata:

أنه لو جاز الاحتجاج بالقدر على الذنب، وأنه حجة صحيحة، لكان حجة لإبليس وجميع العصاة، وهذا باطل بدلائل الكتاب والسنة، بإجماع أهل الحق من الأمة

“Seandainya boleh beralasan dengan takdir untuk melakukan dosa, dan bahwa itu adalah argumen yang benar, tentu itu menjadi argumen yang membenarkan Iblis dan semua pelaku maksiat. Dan itu adalah batil berdasarkan dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah serta kesepakatan orang-orang berada di atas kebenaran dari umat ini.” (Ad-Durar As-Saniyyah Fii Al-Ajwibah An-Najdiyyah)

 

Siberut, 4 Rajab 1442

Abu Yahya Adiya