“Alaah, saya tidak butuh dalil!”
Pernahkah kita menegur kesalahan seseorang dengan menyebutkan dalilnya lalu muncullah perkataan tadi?
Tidak nyambung jawabannya tapi itu meluncur dengan cepat dari lisannya?
Kalau kita pernah menghadapi demikian, maka ketahuilah, sosok yang ada di hadapan kita itu bukanlah orang biasa!
Al-Ashma’iy berkata:
سَمِعْتُ أَعْرَابِيًّا يَقُولُ: إِذَا دَخَلَتِ الْمَوْعِظَةُ أُذُنَ الْجَاهِلِ مَرَقَتْ مِنَ الْأُذُنِ الْأُخْرَى
“Aku mendengar seorang Arab badui berkata, ‘Jika nasehat masuk ke telinga orang bodoh, maka itu akan keluar ke telinga satunya lagi.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlihi)
akan keluar ke telinga satunya lagi ini menunjukkan bahwa otaknya tidak nyambung dengan nasehat tersebut!
Itu salah satu ciri orang bodoh. Selain itu….
Imam Ibnu Hibban berkata:
ومن شيم الأحمق العجلة
“Di antara ciri-ciri orang bodoh yaitu tergesa-gesa.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)
‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz berkata:
خصلتان لا تعدمانك من الجاهل: كثرة الإلتفات وسرعة الجواب
“Dua perilaku yang mesti engkau dapatkan pada orang bodoh: banyak menengok dan cepat menjawab.” (‘Uyun Al-Akhbar)
Ini ciri kedua orang bodoh yaitu tergesa-gesa dalam menjawab dan menanggapi suatu pertanyaan dan permasalahan. Ia tidak berpikir apa akibat yang muncul dari jawabannya. Ia tidak menimbang-nimbang apa akibat yang muncul dari tanggapannya.
Imam Ibnu Hibban berkata:
وإن من أعظم أمارات الحمق في الأحمق لسانه فإنه يكون قلبه في طرف لسانه مَا خطر على قلبه نطق به لسانه
“Sesungguhnya termasuk tanda kebodohan yang sangat jelas pada orang bodoh yaitu lisannya. Karena sesungguhnya hatinya ada di ujung lisannya. Apa pun yang terlintas di hatinya, ia ucapkan dengan lisannya.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)
Otak orang bodoh itu ada di mulutnya. Karena itu, tidaklah salah jika amarah, cacian, dan ejekan sangat cepat keluar dari lisannya, tanpa sedikit pun ia mengontrolnya.
Lantas, apa yang harus kita lakukan kalau kita berhadapan dengan orang yang semacamnya?
Allah memberikan solusi:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang makruf, dan jangan pedulikan orang-orang yang bodoh!” (QS. Al-A’raaf: 199)
Ya, jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. Berpalinglah dari mereka dan tidak usah meladeni mereka!
Imam Al-A’masy berkata:
جَوَابُ الْأَحْمَقِ السُّكُوتُ عَنْهُ
“Jawaban bagi orang bodoh adalah mendiamkannya.” (Syu’ab Al-Iman)
Kalau kita terus menanggapi ocehan orang bodoh, maka hanya akan terkuraslah waktu dan energi kita dengan sia-sia.
Dengan membantahnya, bukannya ia sadar akan kebodohannya, malah makin menjadi-jadilah kebodohannya.
Karena itu, diamlah. Itu sudah cukup untuk menohoknya.
Imam Asy-Syafi’i berkata:
يخاطبني السفيه بكل قبح…فأكره أن أكون له مجيباً
“Orang bodoh berbicara kepadaku dengan perkataan yang sangat buruk….maka aku tidak suka untuk menanggapi perkataannya.
يزيد سفاهة فأزيد حلماً … كعود زاده الإحراق طيباً
Makin bertambah kebodohannya, maka makin kutambah pula kebijaksanaanku….seperti gaharu, makin terbakar, makin bertambah pula wanginya.”
Kalau ia ingin mendebatmu, maka jangan engkau tanggapi keinginannya.
Kalau ia mencelamu, maka jangan engkau membalasnya dengan mencelanya.
Diamlah. Berpalinglah darinya. Jangan balas kebodohan dengan kebodohan!
Siberut, 25 Dzulhijjah 1443
Abu Yahya Adiya






