Tanda kebodohan itu ada banyak. Namun, ada tiga tanda kebodohan yang mungkin sering kita temui dan perlu kita jauhi.
Apa sajakah itu?
Abu Ad-Darda berkata:
علامة الجهل ثلاث العجب وكثرة المنطق فيما لا يعنيه وأن ينهى عن شيء ويأتيه
“Tanda-tanda kebodohan ada tiga: ujub, banyak berbicara dalam perkara yang tidak berguna, dan melarang dari sesuatu, tetapi mengerjakannya juga.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm Wa Fadhlih)
- Ujub
Ujub yaitu merasa bangga dan kagum akan diri sendiri.
Imam Al-Qurthubi berkata:
إعْجَابُ الرَّجُلِ بِنَفْسِهِ هُوَ مُلَاحَظَتُهُ لَهَا بِعَيْنِ الْكَمَالِ وَالِاسْتِحْسَانِ مَعَ نِسْيَانِ مِنَّةِ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ رَفَعَهَا عَلَى الْغَيْرِ وَاحْتَقَرَهُ فَهُوَ الْكِبْرُ الْمَذْمُومُ.
“Kekaguman seseorang terhadap dirinya yaitu memandang diri dengan pandangan sempurna dan menganggap baik dengan melupakan karunia Allah. Kalau ia meninggikan dirinya di atas selainnya dan menganggap remeh orang tersebut, maka itu adalah kesombongan yang tercela.” (Tharh At-Tatsrib fi Syarh At-Taqrib)
Ujub dan sombong. Kedua-duanya penyakit yang berbahaya.
Para ulama terdahulu berkata:
إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ دَلِيلٌ عَلَى ضِعْفِ عَقْلِهِ
“Rasa kagum seseorang kepada dirinya adalah tanda kelemahan akalnya.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm Wa Fadhlih)
Imam Masruq Al-Ajda’ berkata:
وَكَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلًا أَنْ يُعْجَبَ بِعَمَلِهِ
“Cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia merasa kagum akan amalannya.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm Wa Fadhlih)
Jika seseorang menganggap saleh dirinya, luas ilmunya, dan tinggi kedudukannya, maka tampaklah kebodohan pada dirinya.
Kalau itu ditambah dengan melempari orang lain dengan stempel “buruk, bodoh, dan rendah”, maka makin tampaklah kebodohan pada dirinya.
- Banyak berbicara dalam perkara yang tidak berguna
Banyak berbicara dalam perkara yang tidak berguna adalah termasuk sikap berlebihan dalam berbicara.
‘Atha berkata:
بترك الفضول تكمل العقول
“Dengan tidak berlebihan dalam berbicara, sempurnalah akal manusia.” (Bahjah Al-Majalis wa Uns Al-Majalis)
Berarti, dengan berlebihan dalam berbicara, berkuranglah kesempurnaan akal manusia.
Makin sering ia melakukannya, maka makin berkuranglah kesempurnaan akalnya dan makin tampaklah kebodohan pada dirinya.
Kalau itu ditambah dengan mengucapkan perkataan yang terlarang, maka makin tampaklah kebodohan pada dirinya.
- Melarang dari sesuatu, tetapi mengerjakannya juga.
Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata:
فمن أمر غيره بالخير ولم يفعله، أو نهاه عن الشر فلم يتركه، دل على عدم عقله وجهله، خصوصا إذا كان عالما بذلك، قد قامت عليه الحجة.
“Siapa yang menyuruh orang lain untuk melakukan kebaikan, tapi ia sendiri tidak melakukannya atau melarang orang lain dari keburukan, tapi ia sendiri tidak meninggalkannya, maka itu menunjukkan bahwa ia tidak berakal dan bodoh, terutama jika ia tahu demikian dan telah tegak hujah atas dirinya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman fii Tafsir Kalam Al-Mannan)
Jika tidak sesuai ucapan seseorang dengan perbuatannya, maka tampaklah kebodohan pada dirinya. Makin sering itu terjadi pada dirinya, maka makin tampaklah kebodohan pada dirinya.
Siberut, 7 Dzulqa’dah 1446
Abu Yahya Adiya






