Bayangkanlah, alangkah pahitnya kalau Allah sudah meninggalkan seseorang, menelantarkannya, dan tidak mempedulikannya,
Sebaliknya, bayangkanlah, betapa manisnya kalau Allah sudah menyertai seseorang, memperhatikannya, dan menolongnya.
Lantas, siapakah orang yang akan selalu diperhatikan dan ditolong oleh Allah?
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah besama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An-Nahl: 128 )
Lantas, apa yang dimaksud dengan ihsan?
Suatu hari malaikat Jibril bertanya kepada Nabi ﷺ:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ
“Beritahukan kepadaku tentang ihsan!”
Beliau ﷺ menjawab:
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya artinya engkau beribadah kepada Allah dengan penuh keimanan dan keyakinan tanpa ada sedikit pun keraguan, seakan-akan engkau melihat Allah dengan mata kepalamu sendiri. Seakan-akan Allah ada di depanmu dan engkau bisa engkau melihat-Nya dengan mata kepalamu sendiri.
Allah tidak bisa dilihat di dunia. Dia hanya bisa dilihat di akhirat. Namun, jika kita bisa melihat-Nya dengan hati kita hingga seakan-akan kita melihat-Nya dengan mata kepala kita, berarti kita sudah mencapai derajat ihsan yang paling sempurna.
Namun, kalau kita belum bisa mencapai derajat ini, maka hendaknya kita berusaha untuk mencapai derajat di bawahnya yaitu:
“Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Ya, Dia melihatmu. Dia mengawasimu. Dia mengetahui luar-dalammu. Karena itu, apakah engkau akan tetap sembarangan dalam beribadah kepada Tuhanmu?
Allah berfirman:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan bertawakkallah kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihatmu ketika engkau berdiri (untuk salat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Asy-Syu’araa’: 217-220).
Dan Allah berfirman:
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ
“Tidaklah engkau berada dalam suatu urusan, dan tidak pula engkau membaca suatu ayat Al-Quran, serta tidak pula kalian melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian ketika kalian melakukannya…” (QS. Yunus : 61).
Pikirkanlah, seandainya engkau melakukan suatu pekerjaan sedangkan bosmu melihatmu dan mengawasimu, apakah engkau akan bekerja seenaknya saja di depan bosmu?
Tentu saja tidak, bukan?
Nah, itu baru di hadapan makhluk yang banyak memiliki kelemahan dan kekurangan, lantas bagaimana kalau di hadapan Allah, Tuhan seluruh makhluk yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa?
Allah berfirman:
وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan berbuat ihsanlah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Orang yang Paling Berhak Mendapatkan Ihsan
Kalau memang kita dituntut untuk berbuat ihsan dalam hubungan kita kepada Allah, maka begitu pula dalam hubungan kita kepada hamba-hamba Allah. Kita pun dituntut untuk berbuat ihsan.
Dan orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan ihsan dari kita adalah kedua orang tua kita.
Allah berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.
إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dan dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.” (QS. Al Isra’: 23-24)
Ayat di atas menunjukkan wajibnya berbuat baik kepada kedua orang tua.
Sebab, Allah memerintahkan itu dalam ayat di atas. Bahkan, Allah menggandengkan perintah untuk mengesakan Allah dengan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.
Maka, seorang anak wajib berbakti kepada kedua orang tuanya, tanpa terkecuali.
Kalaupun orang tuanya bersikap kasar kepadanya, bukan berarti ia boleh durhaka kepada orang tuanya. Ia tetap harus berbakti kepadanya.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ قُتِلْتَ وَحُرِّقْتَ، وَلَا تَعُقَّنَّ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ
“Jangan engkau menyekutukan Allah sedikit pun, walaupun engkau dibunuh dan dibakar. Dan jangan engkau durhaka kepada kedua orang tuamu, walaupun keduanya menyuruhmu untuk keluar meninggalkan keluargamu dan hartamu.” (HR. Ahmad)
Kalaupun orang tua bersikap keras, bukan berarti anak boleh membangkang kepada orang tuanya. Ia tetap harus mematuhi perintah orang tuanya, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan aturan-Nya.
Ka’b Al-Ahbar ditanya tentang durhaka kepada orang tua, maka ia menjelaskan contoh durhaka kepada orang tua:
إذا أمرك والدك بشيء فلم تطعهما فقد عققتهما العقوق كله
“Jika orang tuamu menyuruhmu untuk melakukan sesuatu, lalu engkau tidak melaksanakannya, berarti engkau benar-benar durhaka kepadanya.” (Birr Al-Walidain)
Bahkan kalaupun orang tuanya kafir, bukan berarti seorang anak boleh durhaka kepada orang tuanya.
Allah berfirman:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)
Ya, kalau keduanya memaksamu berbuat syirik, bidah, dan maksiat, maka jangan engkau taati keduanya. Keridaan Allah lah yang hendaknya engkau utamakan. Namun, apakah dengan itu engkau boleh durhaka kepada keduanya?
Tidak! Sebab, Allah katakan:
“dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”
Artinya, tetaplah patuhi perintah keduanya yang tidak bertentangan dengan aturan-Nya. Tetaplah tunaikan hak-hak keduanya. Tetaplah berbuat baik kepada keduanya. Tetaplah berbakti kepada keduanya. Hingga engkau berjumpa dengan-Nya.
Siberut, 6 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya






