Cara Menjawab Orang yang Mempertanyakan Sifat-Nya

Cara Menjawab Orang yang Mempertanyakan Sifat-Nya

Seseorang mendatangi Imam Malik lalu mempertanyakan hakekat ketinggian Allah di atas Arsy yang disebutkan dalam surat Thaha ayat kelima.

Ia berkata:

كيف استوى؟

“Bagaimana  Dia istawa?” (Aqidah As-Salaf Ashhab Al-Hadits)

Artinya, ia menanyakan hakekat ketinggian Allah di atas Arsy. Karena, makna istawa yaitu:

الْعُلُوّ والارتفاع

“Tinggi di atas.” (Al-Aqidah Riwayah Abi Bakr Al-Khollal)

Mendengar pertanyaannya, memerahlah wajah Imam Malik dan bercucuranlah keringatnya. Lalu beliau pun berkata:

الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة

“Makna istawa itu diketahui, sedangkan bagaimana hakikatnya itu tidak diketahui. Sementara beriman bahwa Dia istawa Arsy adalah wajib. Dan bertanya tentang hakikatnya adalah bidah!” (Aqidah As-Salaf Ashhab Al-Hadits)

Inilah jawaban tegas dari Imam Malik bin Anas, ulama besar kota Madinah.

Syekhul Islam berkata:

وَهَذَا الْجَوَابُ مِنْ مَالِكٍ – رَحِمَهُ اللَّهُ – فِي الِاسْتِوَاءِ شَافٍ كَافٍ فِي جَمِيعِ الصِّفَاتِ.

“Jawaban Malik tentang istawa ini memuaskan dan mencukupi dalam semua sifat.” (Majmu Al-Fatawa)

Ya, jawaban Imam Malik tadi cukup untuk menyembuhkan setiap orang berpenyakit yang mempertanyakan sifat-sifat Allah.

Seperti apa?

Syekhul Islam berkata:

مِثْلَ النُّزُولِ وَالْمَجِيءِ وَالْيَدِ وَالْوَجْهِ وَغَيْرِهَا.

“Seperti sifat turun, datang, tangan, wajah, dan selainnya.” (Majmu Al-Fatawa)

Yakni seperti orang yang mempertanyakan sabda Nabi ﷺ:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ:

“Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia tatkala tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman:

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Kukabulkan doanya. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Kuberi permintaannya. Dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Niscaya Kuampuni ia.” (HR. Muslim)

Dan seperti orang yang mempertanyakan firman-Nya:

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

“Dan datanglah Tuhanmu; sedangkan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr: 22)

Dan seperti orang yang mempertanyakan firman-Nya:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

“Padahal kedua tangan-Nya terbuka.” (QS. Al-Maidah: 64)

Dan seperti orang yang mempertanyakan firman-Nya:

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)

Pertanyaan yang muncul dari orang-orang berpenyakit tatkala membaca ayat dan hadis tadi, yakni: “Seperti apa turunnya Allah di sepertiga malam terakhir? Dan seperti apa datangnya Allah di hari kiamat nanti? Lalu bagaimana hakekat tangan Allah? Dan bagaimana hakekat wajah Allah?”

Maka, bagaimana cara menyembuhkan orang-orang itu?

Syekhul Islam berkata:

فَيُقَالُ فِي مِثْلِ النُّزُولِ: النُّزُولُ مَعْلُومٌ وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ.

“Dikatakan misalnya dalam masalah turunnya Allah, Makna turunnya Allah itu diketahui, sedangkan bagaimana hakekatnya itu tidak diketahui. Sementara beriman bahwa Dia turun di sepertiga malam terakhir itu adalah wajib. Dan bertanya tentang hakikatnya adalah bidah!

وَهَكَذَا يُقَالُ فِي سَائِرِ الصِّفَاتِ

Demikianlah dikatakan dalam sifat-sifat Allah lainnya.” (Majmu Al-Fatawa)

Ya, demikian pula cara menyembuhkan orang yang mempertanyakan  sifat Allah lainnya.

Contohnya kalau ada orang berpenyakit yang bertanya, “Seperti apa datangnya Allah?”, maka bisa dijawab, “Makna datangnya Allah itu diketahui, sedangkan bagaimana hakekatnya itu tidak diketahui. Sementara beriman bahwa Dia datang di hari kiamat adalah wajib. Dan bertanya tentang hakikatnya adalah bidah!”

Dan kalau ada orang berpenyakit yang bertanya, “Bagaimana hakekat tangan Allah?”, maka bisa dijawab, “Makna tangan Allah itu diketahui, sedangkan bagaimana hakekatnya itu tidak diketahui. Sementara beriman bahwa Dia memiliki tangan adalah wajib. Dan bertanya tentang hakikatnya adalah bidah!”

Dan kalau ada orang berpenyakit yang bertanya, “Bagaimana hakekat wajah Allah?”, maka bisa dijawab, “Makna wajah Allah itu diketahui, sedangkan bagaimana hakekatnya itu tidak diketahui. Sementara beriman bahwa Dia memiliki wajah adalah wajib. Dan bertanya tentang hakikatnya adalah bidah!”

Maka begitu pula jawaban kita terhadap orang-orang berpenyakit yang mempertanyakan sifat Allah lainnya.

Mengapa begitu?

Syekhul Islam berkata:

إذْ هِيَ بِمَثَابَةِ الِاسْتِوَاءِ الْوَارِدِ بِهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ

“Sebab, semua sifat Allah seperti istawa yang disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah.” (Majmu Al-Fatawa)

Ya, semua sifat Allah itu sama, yakni diketahui maknanya. Adapun hakekatnya, kita tidak mengetahuinya. Karena itu, kewajiban kita cukup menerimanya dan tidak mempertanyakannya.

 

Siberut, 1 Rabiul Awwal 1444

Abu Yahya Adiya