Empat Perkara yang Tidak Mungkin Terjadi

Empat Perkara yang Tidak Mungkin Terjadi

Siapa yang ingin meraih empat perkara dengan empat cara berikut ini, maka ia tak akan mendapat apa-apa dan akan merugi. Sebab, apa yang ingin ia raih tidak akan terjadi.

Imam Al-Mawardi berkata:

وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ:

“Sebagian orang bijak berkata:

مَنْ الْتَمَسَ أَرْبَعًا بِأَرْبَعٍ الْتَمَسَ مَا لَا يَكُونُ،

Siapa yang mencari empat perkara dengan empat cara, maka ia mencari apa yang tidak akan terjadi:

وَمَنْ الْتَمَسَ الْجَزَاءَ بِالرِّيَاءِ الْتَمَسَ مَا لَا يَكُونُ

Siapa yang mencari pahala dengan cara ria, maka ia mencari apa yang tidak akan terjadi.

وَمَنْ الْتَمَسَ مَوَدَّةَ النَّاسِ بِالْغِلْظَةِ الْتَمَسَ مَا لَا يَكُونُ

Siapa yang mencari simpati dari orang lain dengan sikap kasar, maka ia mencari apa yang tidak akan terjadi.

وَمَنْ الْتَمَسَ وَفَاءَ الْإِخْوَانِ بِغَيْرِ وَفَاءٍ الْتَمَسَ مَا لَا يَكُونُ

Siapa yang mencari kesetiaan teman dengan tanpa memberikan kesetiaan, maka ia mencari apa yang tidak akan terjadi.

وَمَنْ الْتَمَسَ الْعِلْمَ بِرَاحَةِ الْجَسَدِ الْتَمَسَ مَا لَا يَكُونُ

Dan siapa yang mencari ilmu dengan tubuh yang santai, maka ia mencari apa yang tidak akan terjadi.” (Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin)

Perkataan tadi menunjukkan bahwa ada 4 perkara yang tidak mungkin terjadi:

 

  1. Mencari pahala dengan berbuat ria (beramal agar dipuji).

Siapa yang ingin mendapat pahala tapi dengan berbuat ria, maka ia tidak akan memperoleh apa-apa. Sebab, Allah Ta’ala telah berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang di dalamnya ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan amal syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan:

وَالْمُرَاد أَنَّ عَمَل الْمُرَائِي بَاطِل لَا ثَوَاب فِيهِ ، وَيَأْثَم بِهِ

“Maksud hadis ini yaitu amalan orang yang berbuat ria adalah sia-sia, tidak ada baginya pahala, dan karenanya ia teranggap berbuat dosa.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

 

  1. Mencari simpati dari orang lain dengan kekasaran.

Siapa yang ingin mendapat simpati dari orang lain tapi dengan berbuat kasar, maka ia tidak akan memperoleh apa-apa. Sebab, Allah telah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنْ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali-‘Imran: 159)

Ayat ini ditujukan kepada Nabi ﷺ. Nah, kalau beliau ﷺ bersikap keras dan berhati kasar saja tidak akan mendapat simpati dari orang lain, maka bagaimana pula dengan kita?!

 

  1. Mencari kesetiaan teman dengan tanpa memberikan kesetiaan.

Siapa yang ingin temannya setia, tapi ia sendiri tidak setia kepada temannya, maka ia tidak akan memperoleh apa-apa.

Mengapa begitu? Sebab:

وقلما … ساد امرؤ إلا بحفظ وفائه

“Alangkah jarangnya seseorang bisa memimpin kecuali dengan menjaga kesetiaannya.” (Majma’ Al-Hikam Wa Al-Amtsal Fii Asy-Syi’ri Al-‘Arabi)

Tatkala seseorang setia kepada temannya, temannya pun akan setia kepadanya. Karena, orang yang bisa “menarik” adalah orang yang “mengulur”. Tidak mungkin seseorang bisa terus “menarik” tanpa “mengulur”.

 

  1. Mencari ilmu dengan tubuh santai.

Siapa yang ingin mendapat ilmu tapi dengan santai atau berpangku tangan, maka ia tidak akan memperoleh apa-apa. Sebab, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

“Sesungguhnya ilmu itu hanyalah bisa diraih dengan belajar.” (HR. Ath-Thabrani)

Ya, hanyalah bisa diraih dengan belajar. Artinya?

Perlu perjuangan dan kesungguhan!

Syekh ‘Abdul Karim Al-Khudher berkata:

معاناة العلم شاقة وصعبة، لكن الثمرة من هذه المعاناة كبيرة؛

“Menggeluti ilmu itu berat dan susah. Namun, buah dari menggeluti itu besar.

{يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ} [(11) سورة المجادلة].

“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

جاء في فضل العلم ومدح أهله من نصوص الكتاب والسنة الشيء الكثير

Telah banyak teks dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan pujian terhadap orang yang memilikinya.

لولا المشقة لكان كل الناس علماء، كل الناس علماء

Kalau tidak ada kesulitan dalam mencarinya, tentu seluruh orang akan menjadi ulama. Seluruh orang akan menjadi ulama.

ولولا التعب واللهث وراء أمور الدنيا لصار الناس كلهم تجاراً تجاراً

Kalau tidak ada keletihan dan kelelahan dalam menghadapi urusan dunia, tentu seluruh manusia menjadi orang kaya, menjadi orang kaya.

لكن الراحة والإخلاد إليها والدعة والترف يعوق عن تحصيل خير الدنيا والآخرة.

Namun, kenyamanan, kecenderungan kepadanya, ketenangan, dan kemewahan menghalangi dari memetik kebaikan dunia dan akhirat.” (Syarh Al-Waraqat)

 

Siberut, 24 Rabi’ul Tsani 1443

Abu Yahya Adiya