Apa itu taklid?
Imam Asy-Syairazi menjelaskan:
التقليد قبول القول من غير دليل
“Taklid adalah menerima suatu pendapat tanpa dalil.” (Al-Luma’ Fii Ushul Al-Fiqh)
Ya, tanpa dalil. Tanpa dasar.
Seorang yang taklid adalah orang yang menelan mentah-mentah suatu pendapat tanpa memikirkan apa dalilnya atau dasarnya.
Seperti apa?
“Dalam hal ini, saya ikut pendapat imam itu, walaupun saya tidak tahu apa dasarnya.”
Itu adalah taklid sebagian.
“Saya ikut semua pendapat imam itu, walaupun saya tidak tahu apa dasarnya.”
Dan itu adalah taklid total.
Semua itu adalah taklid. Lantas, apakah ada hubungan antara taklid dengan kefanatikan dan kebodohan?
Imam Ath-Thahawi adalah seorang ulama ahli hadis. Dalam masalah fikih, beliau mengikuti mazhab Hanafi. Dan Al-Qadhi Abu ‘Ubaid juga seorang ulama ahli hadis. Hanya saja, dalam masalah fikih beliau mengikuti mazhab Syafi’i.
Suatu hari Imam Ath-Thahawi berdialog dengan Al-Qadhi Abu ‘Ubaid tentang suatu masalah.
Imam Ath-Thahawi menyebutkan pendapat beliau di hadapan Al-Qadhi Abu ‘Ubaid.
Namun, setelah mendengar pendapatnya, Al-Qadhi Abu ‘Ubaid berkata kepada Imam Ath-Thahawi:
مَا هَذَا قول أبي حنيفة.
“Ini bukan pendapat Abu Hanifah!”
Artinya, Al-Qadhi Abu ‘Ubaid seakan-akan berkata kepada Imam Ath-Thahawi, “Anda mengikuti metode Abu Hanifah dalam menetapkan hukum fikih, tapi kenapa dalam masalah ini Anda tidak mengikuti pendapat Abu Hanifah?”
Imam Ath-Thahawi pun berkata kepadanya:
أَيُّها القاضي أوَ كل مَا قاله أبو حنيفة أقول بِهِ.
“Wahai Al-Qadhi, apakah semua pendapat Abu Hanifah harus kusetujui?”
Al-Qadhi Abu ‘Ubaid berkata:
مَا ظننتك إِلاَّ مقلِّداً.
“Aku menyangka Anda hanya taklid.”
Artinya, Al-Qadhi Abu ‘Ubaid mengira bahwa Imam Ath-Thahawi selama ini menelan mentah-mentah pendapat Abu Hanifah tanpa mengetahui dalil dan dasarnya.
Lantas, apa reaksi Imam Ath-Thahawi?
Beliau berkata:
وهل يقلد إِلاَّ عَصَبِي
“Tidak ada yang taklid kecuali orang yang fanatik buta!”
Al-Qadhi Abu ‘Ubaid berkata:
أَوْ غبي.
“Atau orang yang bodoh!” (Raf’u Al-Ishr ‘An Qudhat Mishr)
Walaupun dalam masalah fikih mengikuti mazhab Hanafi, ternyata Imam Ath-Thahawi tidak taklid kepada Imam Abu Hanifah.
Begitu juga Al-Qadhi Abu ‘Ubaid. Walaupun dalam masalah fikih mengikuti mazhab Syafi’i, ternyata Al-Qadhi Abu ‘Ubaid tidak taklid kepada Imam Asy-Syafi’i.
Mengapa begitu?
Al-Qadhi Abu ‘Ubaid berkata:
مَا يُقَلِّدُ إِلاَّ عَصَبِيٌّ أَوْغَبِيٌّ
“Tidak ada yang taklid kecuali orang yang fanatik buta atau bodoh.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Siapa yang mengikuti pendapat seorang ulama tanpa mengetahui dalilnya, maka ia tidak terlepas dari dua keadaan:
1) Ia orang yang fanatik buta.
Karena, orang yang fanatik buta akan selalu membenarkan pendapat orang yang ikuti, tanpa mempedulikan apakah itu ada dalilnya atau tidak, dan apakah dalilnya benar atau tidak. Atau….
2) Ia orang yang bodoh.
Karena, orang yang bodoh tidak mampu memahami dalil pendapat orang yang ia ikuti.
Lantas, tercelakah taklid? Tercelakah mengikuti suatu pendapat tanpa mengetahui dalilnya?
Hukum Taklid
1) Kalau seseorang mengikuti pendapat seorang ulama tanpa mengetahui dalilnya, karena fanatik kepadanya, maka tentu saja itu sikap yang tercela. Sebab….
“Setiap orang bisa diambil ucapannya dan bisa ditolak, kecuali penghuni kubur ini.” (Mukhtashar Al-Muammal Fii Ar-Radd Ilaa Al-Amr Al-Awwal)
Itulah yang dikatakan oleh Imam Malik sambil menunjuk ke arah kubur Nabi ﷺ.
Hanya Nabi ﷺ yang terjaga dari kesalahan. Adapun selain beliau, maka pasti pernah terjatuh dalam kesalahan. Sesaleh apa pun ia dan setinggi apa pun ilmunya.
Imam Ahmad berkata:
لَا تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ، فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا
”Jangan jadikan agamamu mengikuti individu-individu, karena mereka tidak akan selamat dari kekeliruan.” (Al-Fatawa Al-Kubra)
Karena itu, tidak boleh seseorang fanatik kepada siapa pun selain Nabi ﷺ.
2) Kalau seseorang mengikuti pendapat seorang ulama tanpa mengetahui dalilnya, karena kebodohannya, yakni karena benar-benar tidak mampu mengetahui dan memahami dalil pendapat ulama yang ia ikuti, maka itu dimaafkan. Ia dibolehkan taklid dalam keadaan demikian.
Ya, dibolehkan. Bukan diwajibkan!
Syekh Zakariya Al-Anshari berkata:
يَجُوزُ لِغَيْرِ الْمُجْتَهِدِ تَقْلِيدُ مَنْ شَاءَ مِنْ الْمُجْتَهِدِينَ إنْ دُوِّنَتْ الْمَذَاهِبُ كَالْيَوْمِ فَلَهُ أَنْ يُقَلِّدَ كُلًّا فِي مَسَائِل
“Boleh bagi selain mujtahid untuk taklid kepada mujtahid mana saja yang ia inginkan, jika memang mazhab-mazhab tersebut telah dibukukan seperti hari ini. Ia boleh taklid kepada mereka dalam berbagai masalah.” (Asna Al-Mathalib Syarh Raudh Ath-Thalib)
Lihatlah, boleh. Bukan wajib!
Jangan sampai kita mewajibkan siapa pun muslim untuk taklid kepada ulama tertentu.
Bahkan, seharusnya kita mendorong siapa pun muslim untuk meningkatkan kualitas dirinya dalam beragama. Jangan sampai ia puas hanya dengan menjadi orang yang taklid. Sebab….
Orang yang punya semangat yang tinggi dalam pendidikan tidak sudi cuma belajar di TK (Taman Kanak Kanak). Ia ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Maka begitu pula orang yang punya semangat yang tinggi dalam beragama. Ia tidak sudi cuma taklid kepada ulama tertentu. Ia ingin naik ke jenjang yang lebih tinggi.
Suatu saat ia ingin menjadi mujtahid. Ia ingin menyimpulkan sendiri suatu hukum dari dalil yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
Bukankah itu cita-cita yang mulia?
Maka, jangan sampai kita padamkan cita-cita itu dengan mewajibkannya untuk taklid dan mengancamnya jika tidak taklid!
Siberut, 18 Jumada Al-Ulaa 1444
Abu Yahya Adiya






