“Aku berharap hari kiamat sudah terjadi, sehingga aku bisa mendirikan kemahku di neraka Jahannam.”
Kalau kita mendengar seseorang mengatakan demikian, maka apa yang akan kita katakan?
“Aku menginginkan-Mu. Aku tidak menginginkan-Mu untuk mendapat ganjaran…akan tetapi aku menginginkan-Mu untuk mendapat hukuman.”
Kalau kita mendengar seseorang berdoa dengan mengucapkan demikian, maka apa yang akan kita ucapkan?
Renungkanlah ayat-ayat berikut ini:
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّه
“Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah.” (QS. Al Baqarah:165)
Dan Allah berfirman:
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعً
“Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. ” (QS. Al-A’raaf: 56)
Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat ini:
وَلْيَكُنْ مَا يَكُونُ مِنْكُمْ فِي ذَلِكَ خَوْفًا مِنْ عِقَابِهِ وَطَمَعًا فِي ثَوَابِهِ
“Hendaknya yang muncul dari kalian ketika beramal adalah takut kepada siksa-Nya dan mengharap balasan-Nya. “(Jami’ Al-Bayan fii Ta’wiil Al-Quran)
Ya, orang yang benar-benar beriman sangat mencintai-Nya dan sangat takut kepada siksa-Nya, serta amat mengharapkan kasih sayang-Nya.
Itulah rukun ibadah kepada-Nya.
Apa Saja Rukun Ibadah?
Syekh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi berkata:
وهذا حال المؤمن أنه يعبد الله بالحب والخوف والرجاء.
“Inilah keadaan seorang mukmin, yaitu ia beribadah kepada Allah dengan rasa cinta, takut, dan harap.
وهذه هي أركان العبادة: المحبة والخوف والرجاء
Dan inilah rukun-rukun ibadah, yakni cinta, takut, dan harap.
وهذه الأركان موجودة في سورة الفاتحة
Dan rukun-rukun ini ada di surat Al-Fatihah.
فقوله:
Firman-Nya:
{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الفاتحة:2]
“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)
هذه المحبة
Inilah cinta.
{الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة:3]
“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 3)
هذا الرجاء
Inilah harapan.
{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} [الفاتحة:4]
“Pemilik hari pembalasan.” (QS. Al-Fatihah: 4)
هذا الخوف
Inilah takut.” (Syarh As-Sunnah lilBarbahari)
Cinta, takut, dan harap. Itulah rukun-rukun ibadah kepada-Nya. Siapa yang beribadah kepada-Nya dengan menjalankan semuanya, berarti ia berada di jalan-Nya.
Imam Ibn Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:
وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْحُبِّ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ مُوَحِّدٌ
“Siapa yang beribadah kepada-Nya dengan rasa cinta, takut, dan harap, maka ia seorang mukmin yang mengesakan-Nya.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)
Sebaliknya, siapa yang tidak menjalankan salah satu rukun tadi, maka ia akan tersesat dari jalan-Nya, bahkan bisa keluar dari agama-Nya.
Setelah menjelaskan perintah berdoa kepada Allah dengan rasa takut dan harap, Imam Ath-Thabari berkata:
وَإِنَّ مَنْ كَانَ دُعَاؤُهُ إِيَّاهُ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِالْآخِرَةِ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ، لِأَنَّ مَنْ لَمْ يَخَفْ عِقَابَ اللَّهِ وَلَمْ يَرْجُ ثَوَابَهُ لَمْ يُبَالِ مَا رَكِبَ مِنْ أَمْرٍ يَسْخَطُهُ اللَّهُ وَلَا يَرْضَاهُ
“Dan siapa yang doanya kepada-Nya tidak seperti itu, maka ia di akhirat termasuk orang yang mendustakan. Sebab, orang yang tidak takut kepada siksa Allah dan tidak mengharap balasan-Nya, ia tidak akan peduli terhadap perbuatan yang Allah murkai dan tidak Dia ridai yang ia lakukan. ” (Jami’ Al-Bayan fii Ta’wiil Al-Quran)
Lihatlah, orang yang tidak takut kepada siksa Allah dan tidak mengharap balasan-Nya, ia tidak akan peduli terhadap perbuatan yang Allah murkai dan tidak Dia ridai yang ia lakukan!
Dan itu terbukti pada kaum Sufi!
Penyimpangan Kaum Sufi dalam Rukun Ibadah
Tatkala kaum Sufi mengklaim bahwa mereka beribadah bukan karena mengharap ganjaran-Nya atau takut siksa-Nya, muncullah perkataan-perkataan yang membuat bulu kuduk merinding.
Kaum Sufi menukil perkataan Abu Yazid Al-Busthomi:
أريدك لا أريدك للثواب … ولكني أريدك للعقاب
“Aku menginginkan-Mu. Aku tidak menginginkan-Mu untuk mendapat ganjaran…akan tetapi aku menginginkan-Mu untuk mendapat hukuman!” (Al-Mawahib As-Sarmadiyyah)
Lihatlah, ia lebih menyukai hukuman-Nya dibandingkan ganjaran dari-Nya!
Padahal, adakah orang yang tahan terhadap hukuman-Nya?!
Kaum Sufi juga menukil perkataan Abu Yazid Al-Busthomi:
إن لله عبادا لو حجبهم في الجنة عن رؤيته لاستغاثوا بالخروج من الجنة كما يستغيث أهل النار للخروج من النار
“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang kalau Dia halangi mereka dari melihat-Nya di surga, maka mereka pun akan meminta tolong agar bisa keluar dari surga, sebagaimana penduduk neraka meminta tolong agar bisa keluar dari neraka.” (Al-Mawahib As-Sarmadiyyah)
Lihatlah, mereka lebih suka keluar dari surga-Nya dibandingkan tetap di dalamnya!
Padahal, kalau seseorang keluar dari surga-Nya, berarti di mana tempat tinggalnya?!
Kaum Sufi juga menukil perkataan Abu Yazid Al-Busthomi:
وددت أن قد قامت القيامة حتى أنصب خيمتي عَلَى جهنم
“Aku berharap hari kiamat sudah terjadi, sehingga aku bisa mendirikan kemahku di neraka Jahannam.”
Ada yang bertanya:
ولم ذاك يا أبا يَزِيد؟
“Mengapa begitu wahai Abu Yazid?”
Abu Yazid menjawab:
إني أعلم أن جهنم إذا رأتني تخمد فأكون رحمة للخلق
“Sungguh, aku tahu bahwa Jahannam jika melihatku, apinya akan padam, sehingga aku menjadi rahmat bagi orang lain!”
Apa penilaian kita terhadap perkataan ini?
Imam Ibnul Jauzi berkata:
هَذَا الكلام من أقبح الأقوال لأنه يتضمن تحقير مَا عظم اللَّه عز وجل أمره من النار فإنه عز وجل بالغ فِي وصفها
“Ini termasuk perkataan yang sangat buruk. Sebab, itu mengandung sikap meremehkan perkara neraka yang telah Allah agungkan. Karena sesungguhnya Allah telah membesarkan-besarkan penggambaran tentang neraka.
فَقَالَ:
Dia berfirman:
{فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Maka takutlah kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (Al-Baqarah: 24)
وقال:
Dan Dia berfirman:
إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظاً وَزَفِيراً
“Apabila neraka melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang bergemuruh karena marahnya.” (QS Al-Furqan:12)
إِلَى غير ذلك من الآيات
Dan ayat-ayat lainnya yang semacamnya.” (Talbis Iblis)
4 Golongan terkait Rukun Ibadah
Ya, ada 4 golongan dalam menyikapi rukun ibadah. Yang tiga sesat, sedangkan yang satu benar.
Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:
ويقول العلماء: “من عبد الله بالمحبة فقط فهو صوفي”
“Para ulama berkata bahwa siapa yang beribadah kepada Allah karena cinta saja, maka ia seorang Sufi.
لأن الصوفية يزعمون أنهم يعبدون الله لأنهم يحبونه فقط، ويقولون: لا نعبده نخاف من ناره ولا نرجو جنته، وإنما نعبده لأننا نحبه. وهذا ضلال.
Sebab, kaum Sufi mengaku bahwa mereka beribadah kepada Allah karena mereka mencintai-Nya saja. Mereka berkata, ‘Kami tidak beribadah kepada-Nya karena takut neraka-Nya dan tidak pula karena mengharap surga-Nya. Kami beribadah kepada-Nya hanya karena kami mencintai-Nya.’ dan itu adalah kesesatan.
ومن عبد الله بالرجاء فقط فهو مرجئ” لأن المرجئة يخرجون الأعمال عن مسمى الإيمان.
Dan siapa yang beribadah kepada Allah karena rasa harap saja, maka ia seorang Murjiah. Sebab, kaum Murjiah mengeluarkan amal dari Iman.
ومن عبد الله بالخوف فقط فهو خارجي” لأن الخوارج يكفرون المؤمنين بالمعاصي.
Dan siapa yang beribadah kepada Allah karena rasa takut saja, maka ia seorang Khawarij. Sebab, kaum Khawarij mengafirkan orang-orang beriman karena kemaksiatan yang mereka lakukan.
فالمرجئة أخذوا جانب الرجاء فقط، والصوفية أخذوا جانب المحبة فقط، والخوارج أخذوا جانب الخوف فقط.
Kaum Murjiah mengambil sisi harap saja. Sedangkan kaum Sufi mengambil sisi cinta saja. Sementara kaum Khawarij mengambil sisi takut saja.
وأهل السنّة والجماعة جمعوا بين الأمور الثلاثة -ولله الحمد-: المحبة مع الخوف والرجاء والذل والانقياد والطاعة، وبنوا على ذلك سائر أنواع التعبُّد والتقرُّب إلى الله سبحانه وتعالى.
Sedangkan Ahlussunnah wal Jama’ah menggabungkan 3 perkara tadi-segala puji bagi Allah-: cinta bersama takut dan harap, ketundukan, dan ketaatan. Mereka membangun di atas itu segala macam ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.” (I’anah Al-Mustafid Bisyarh Kitab At-Tauhid)
Siberut, 25 Rajab 1442
Abu Yahya Adiya






